Yakin, atau tinggalkan sama sekali

    Saat kamu sedang ada tugas dari dosen, dan ngajakketemua sama teman sekelompok untuk menuntaskan tugas tersebut. Lalu apa yang dijawab oleh temanmu, ia bilang, “enaknya waktu ini aja, oh tidak, hari ini saja, oh bukan..” dan seterusnya. Sampai akhirnya, terpaksa kamu sendirilah yang menentukan kapan harus bertemu.

    Beginilah gambaran keragu-raguan. Yang ragu-ragu, hasilnya pasti meragukan. Sesak nafaspun tak terelakan, melihat hasil yang meragukan. Misalnya juga, saat kamu berkendara motor tidak yakin, alias ragu-ragu. Bisa dipastikan, keragu-raguan itu akan membuatmu celaka di tengah jalan. Ga percaya, coba saja, nyebrang dengan ragu-ragu, pasti sudah mampus. Eits, jangan dicoba beneran. Entar aku dicari polisi lagi!!
    Seseorang itu dilihat bukan apa yang diragukannya, tapi apa yang diyakininya. Keyakinan itu mempengaruhi performance. Lah, buktinya coba saja kamu mandi dengan ragu-ragu, pakai sampo ragu-ragu, gosok gigi ragu-ragu hatta handukan ragu-ragu. Alhasilnya, penampilanmu cukup sudah jika harus aku bilang ‘meragukan’. Sebaliknya, saat kamu mandi dengan penuh yakin, pasang minyak dengan yakin. Asal bukan minyak kelapa ya, nanti bukannya harus yang kamu dapatkan, malah ledakan!! Hehehe
    Ada satu hal yang membuat sesuatu menjadi lebih ringan. Gambar target impian semakin menjadi indah. Langkah semakin lebih kencang. Tidak lain, adalah keyakinanmu. Karena, saat kamu mengizinkan meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, saat itulah semua file tentangan pengalamanmu yang ada di otak mencuat bebas. Mendukung argumentasi positifmu tersebut.
    Semua pengalaman positif di masa lalu tiba-tiba hadir mendadak di benakmu. Mendukung keyakinan yang ada tersebut. Inilah yang dimaksud dengan keyakinan bergelombang. Saat satu keyakinan datang, keyakinan lain pun turun datang otomatis tanpa diundang. Hal ini bukan pemandangan asing lagi, buktinya saat seseorang marah, jika saja membiarkan kemarahannya menguasai dirinya. Apa yang terjadi? Orang ini tampak lebih “gila”. Kemarahannya semakin tumbuh subur di dalam dirinya.
    Kuncinya, jangan biarkan keragu-raguan mampir bertemu denganmu. Mungkin, ya kalau Cuma sekedar ngobrol lima menit gak apa-apa sich. Asal jangan lama-lama. Bisa-bisa kamu semakin betah dengan hal yang seperti itu. Ya memang begitu, kita tidak pernah bisa belajar menjadi yakin tanpa pernah merasakan keragu-raguan. Saat sekarang kamu meragukan dirimu, berarti kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk meyakini dirimu dengan belajar darinya.
    Bayangkan, bisa kebayang gak sich. Saat kamu sedang sidang skripsi sama dosen-penguji. Kamu ragu-ragu terhadap apa yang kamu katakan, bisa-bisa kamu dipandang sebagai orang yang meragukan. Artinya, argumentasimu dikira dapet beli. Alias, skripsi beli dari agen terdekat.Nah, jangan ditiru ya. Sepintar-pintarnya tupai melompat, ketahuan juga ya. Pasti juga akan jatuh.
    Hei, keyakinan yang saya maksud bukan keyakinan seperti yang ditawarkan oleh para ahli. Dalam waktu sekejab, keyakinan jreng! Langsung ada. Melainkan, keyakinan yang dibangun dari satu waktu, ke waktu yang lain. Sampai mencapai waktu tak terbatas. Benarkah begitu? Ia, semakin sesuatu didapatkan dengan instan, biasanya hasilnya juga instan. So, jangan biarkan menukar belikan keyakinan. Yakin dibangun secara bertahap.
    Izinkanlah dirimu untuk segera bertindak, menaklukkan semua kekhawatiranmu. Dan hadapi semua batu besar di depanmu. Berikanlah apresiasi atas semua keberaniamu untuk mencoba sesuatu yang baru. Hal itulah yang akan membuatmu ringan bukan karena kebersamaan, tapi karena keyakinan yang memberdayakan.
    Sesuatu yang ringan lebih berpeluang untuk terus dilakukan. Karena ringan seakan tanpa beban. Temanku tidak pernah olahraga selama empat tahun, karena kesibukannya belajar. Sehingga, tak memiliki waktu sedikit pun untuk berolahraga seperti sit-up maupun push-up. Hem, sekali memaksakan diri push-up, sekali itu pula menghentikan untuk tidak pernah melakukannya lagi. Kenapa, karena semuanya terasa lebam-lebam di ototnya, ototnya terasa sangat sakit sekali.
    Beresiko
    Hidup itu beresiko, keyakinan juga berisiko, dan keraguan pun apa lagi, tambah berisiko. Namun tenanglah, karena jika saja tak mau bertindak dan malu-malu kucing untuk melangkah, maka orang seperti itu bisa dibilang sebagai orang paling berisiko.
    jangan hanya menjadi mimpi bagi orang lain, tapi jadilah harapan bagi mereka. Kau adalah harapan mereka. Dan tentunya guys, kamu juga mengharapkan harapan dari masa depanmu. Harapan itu lebih dari sekedar impian. Mengharap berarti berhasrat lebih.
    Berharaplah risiko, jangan pernah berlabuh jika risiko belum kamu kantongi. Segera bawa pulang resiko itu, tanamlah di pekarang rumahmu dalam-dalam. Dan carilah resiko lainnya, buanglah ke lautan. Di sanalah kamu tak lagi dihantui oleh kegagalanmu. Karena kamu telah “membayar dimuka”. Kesuksesanmu sudah terbayar dahulu.
    Carilah hal yang membuatmu berisiko. Berisiko yang mengantarkan kepada kesuksesan (berisiko gagal), atau bisa langsung saja berisiko sukses. Tergantung kepada dirimu, segera cari rangsangan yang membuatmu terangsang untuk segera melakukan sesuatunya yang “mengarah”, bukan yang justru membuatmu semakin menjauh dari sasaran.
    Karena di dunia yang serba cepat ini, berbuat saja tidak cukup. Kamu harus meyakinkan secara benar, bahwa apa yang kau lakukan benar-benar mengarah ke arah impianmu. Jika perlu, putar balikknya saat kamu sudah terlampau jauh dari real kamu berpetualang menuju pulau impian.
    Tak hanya itu sich, keyakinan akan ketidakmampuan akan berisiko kepada kegagalan. Jadi, pilah-pilah terlebih dahulu. Manakah keyakinan yang membuatmu tambah tidak berisiko, atau jika sudah melewati semua resiko menjadi tak berisiko sama sekali.
    Jangan banding dengan rumput sebelah, walaupun lebih bagus, perawatannya juga lebih mahal mas bro! sudah lah, rumput di halamanmu selalu lebih baik dan indah. Jangan ngiri kanan-kiri. Membandingkan diri, sama saja bunuh diri bagi para pesimistis. Sebaliknya, bagi mental yang optimis, akan memberi semangat.
    Bersyukurlah kalau ada orang yang iri kepadamu, itu tandanya mereka siang-malam memikirkanmu, mengingatkanmu saat kamu sedang tak bersemangat dengan ocegan mereka. Jadi, hadapilah semua itu dengan bijaksana.
    Jujur sajalah, jika kamu ‘belum bisa’ optimis jangan bandingkan diri dengan orang lain. Karena itu justru membuatmu iri dengan membandingkan diri dengan orang yang lebih di atas. Bisa-bisa ‘rumput’mu kebakar, tak terawatt karena terlalu memikirkan orang lain.

      

    740 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *