Waktu


    ”Kamu pun akan tumbuh menjadi semakin dewasa bila melepaskan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi hidupmu”
    Betapa sangat menyenangkan jika ada penjaga waktu yang menemani diri kita, ia memegang stopwatch dan mencatat dengan teliti mengenai waktu yang kita habiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan kemudian, dia menjumlahkan keseluruhan waktu yang terbuang sia-sia dan akhirnya diserahkan ke pada kita dalam daftar catatan waktu harian. Dan seketika itu kita baru menyadari, begitu banyak waktu yang terbuang dengan percuma tanpa hal yang bermanfaat. Celakanya lagi, si penjaga waktu itu tidak akan datang mengahampiri kita, kecuali kitalah yang menghampiri sendiri bagaimana penggunaan waktu dilakukan.
    Bukan hanya terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat, hal yang bermanfaat sekali pun jika tidak dilakukan dengan sistematis akan banyak ‘menyita’ waktu kita. Banyak orang yang terperangkap dalam rutinitas harian, mulai dari membersihkan kamar mandi, membersihkan kamar, mengantarkan teman ke sekolah, masak nasi, antrian di loket, dan sebagainya. Sayangnya, kerjaan menunggu seperti itu dihabiskan dengan tidak melakukan sesuatu. Padahal, waktu akan lebih efesien jika menunggu antrian sambil membaca Koran, masak nasi sambil masak kuah, membersihkan kamar mandi sambil lalu mendengarkan nasehat dari sesepuh melalui radio.
    Jadi, ada semacam multitugas yang dilakukan sekaligus. Kalau kita masih belum menyadari waktu, jangan salahkan waktu jika waktu bebas mempermainkan kita. Semisal, kita tidak menyadari telah menjadi penonton pada penikmat dari kesuksesan orang lain. Waktu luang kita dihabiskan untuk melihat televisi, menikmati radio, menikmati teknologi mutakhir. Semua kesuksesan ini akan menyita banyak waktu bagi diri kita.
    Hal ini diperparah lagi jika kita ‘menikmati’ apa yang telah disebut di atas, ‘lupa waktu’ sudah menjadi hal yang lumrah saat hal yang menyenangkan datang menghampiri kita. Kita pun semakin lupa pula untuk sekedar mengintip tujuan jangka panjang kita, dan itu pun terganggu untuk sekelian lama hanya untuk menghabiskan sesaat demi kesenangan yang tidak menguntungkan. Maka, jangan senang dan merasa nikmat bila terpaksa berurusan dengan kesuksesan orang lain, namun carilah cara bagaimana kita bias melebihi kesuksesan mereka.
    Lalu, bagaimana maksud dari multitugas yang harus diselesaikan tersebut? Multifungsi adalah menggabungkan beberapa tugas menjadi satu perintah tunggal yang saling terkait. Ketika serbuk-serbuk besi dibiarkan begitu saja, maka ia akan sulit dikumpulkan. Hal itu disebabkan karena benda tersebut saling menyebar. Berbeda ketika semisal magnet di dekat di area tersebut, seketika itu pula serbuk besi akan berkumpul dan menyatu sehingga membentuk pola baru.
    Di setiap inci waktu, selalu ada aktivitas yang dilakukan secara berulang, semacam pengulangan kejadian yang menggerogoti banyak waktu. Semisal, dalam satu hari tiga kali pergi ke mall. Atau mondar-mandir di loket seperti orang yang kebingungan. Dan masih banyak bentuknya. Sekali lagi, ini sangat banyak menyita waktu hanya untuk satu tugas hanya karena kurang tepat penanganannya.
    Nah, begitu pun di saat kita memiliki cukup banyak tugas yang banyak dan tidak saling terkait atau acak. Waktu sebanyak bagaimana pun akan terasa tidak pernah cukup untuk menyelesaikannya. Kecuali, setelah kita mengelompokkan tugas yang acak tersebut menjadi beberapa kelompok yang sejenis. Ingatlah selalu kalimat ini, “aku harus melakukan ini, selagi melakukannya, aku juga akan melakukannya yang itu”. Untuk apa capek-capek, jika segalanya bisa dilakukan sekaligus.
    Oh iya, mengelompokkan saja masih kurang ‘sah’ jika tidak dibarengidengan menyeleksi antara tugas yang penting dan tugas yang remeh temeh. Tugas yang kurang penting sebaiknya dibuang jauh-jauh dan melakukan tugas yang penting-penting saja. Caranya, luangkan lah sedikit waktu untuk memikirkan hal tersebut sebelum mengawali hari-hari dan tinggalkanlah rutinitas yang memboroskan waktu. Keputusan itu sepenuhnya terletak pada diri ktia masing-masing. Dengan begini, kita sudah membiasakan diri menabung waktu dan membuang waktu pada tempatnya. Selanjutnya, menggunakan prinsip ini sehingga menjadi kebiasaan sehari-hari lebih penting dari kegagal yang kita rasakan akibat tidak melakukan sesuatunya secara konsisten.
    Seterusnya merupakan langkah yang jauh lebih penting, yaitu lakukan semua tugas dengan ‘benar’. Tergesa-gesa melakukan sesuatu memang baik, namun alangkah lebih baik untuk memikirkannya dengan matang terlebih dahulu. Semua impian yang ingin ‘cepat’ terwujudnya selalu membutuhkan proses yang panjang, karena siapa pun mereka yang lebih mengedepankan kecepatan atau jalan pintas harus selalu menelan pahitnya kenyataan bahwa semua kecepatan dan jalan pintas akan berakhir dengan  kegagalan.  Terkadang, akan menjadikannya putus asa dan berfikir untuk memulai dari awal atau meninggalkannya untuk selamanya. Dari itulah, sudah waktunya kita melakukan tugas dengan benar, dan ini kesempatan satu-satunya dan tak akan pernah kembali lagi.
    Lakukanlah dengan berlahan dan penuh kesabaran. Berapa lama pun waktu yang dikorbankan untuk sampai pada impian, perjalanan itu sendiri akan mendatangkan kegembiraan yang setimpal dengan kepuasan yang diterima saat tempat tujuan telah tercapai. Kesabaran menjadi semacam kunci pokok. Mereka yang sabar selalu menyadari antara waktu sekarang yang berperan terhadap waktu akan datang, dan waktu kemaren yang berperan terhadap waktu sekarang. Kejadian hari ini adalah hasil dari kejadian yang telah berlalu.

    971 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *