#Waduh, Dua Sekaligus

    Malam ini malam jumat, barusan aku datang dari Lirboyo untuk  membeli nasi. Ada seribu pikiranku yang membuat diriku tak nyaman. Dari ketidakpedulianku pada acara seminar kesehatan mental yang akan dilaksanakan pada 08 oktober 2013. Padahal, aku sendiri ditunjuk menjadi ketua panitia.

    Aku merasa bersalah kepada Mas Dheo Anggit Jefriyanto selaku ketua Dewan Eksekutif psikologi, dan seketarisku sendiri yang bernama Nuzul S. Aku tinggalkan kewajibanku hanya demi keegoisanku sendiri.  Karenanya, aku  tak pernah terpikirkan untuk belajar bagaimana menjadi seorang yang dewasa pemikirannya. Tapi, entahlah bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu semua? Mengapa, sampai-sampai ketidakhadiranku sudah diharapkan. Semoga keduanya bisa memanfakanku atas ketidakwajaranku ini yang bersifat sementara waktu saja.
    ***
    Dan besok hari jumat, ada dua mata kuliah yang membuat aku selalu berfikiran tentang keduanya. Pertama, masalah pembuatan makalah yang tak kunjung aku selesaikan sampai malam ini. Padahal, esok hari ia sudah harus terkumpulkan dengan baik. Dalam bentuk soft copy dan print-out. Sebenarnya, jika ada bahannya aku mampu menyelesaikan. Namun, dari perpustakaan di kampusku dan di google tak pernah kutemukan sejarah kehidupan Frank S. Freeman.
    Tugas kedua adalah tugas psikologi Abnormal. Sama halnya tugas makalah, sama-sama membuatku tak nyaman, kepikiran keduanya selalu. Dalam pikiranku bagaimana kalau tidak selesai? Bagaimana kalau aku tidak dapatkan bahannya setelah memaksakan kehendak seacrhing sekali lagi di paman Google. Aku berdoa, dan mengubah cara pandangku, bagaimana kalau aku menemukan bahannya? Bagaimana kalau sudah selesaikan tugasnya? Aku akan lebih fokus saja pada pemikiran positif.
    ***
    Kedua bentuk manusia, dan dua bentuk tugas sama-sama membuat hatiku sesak. Tak mampu membendung keduanya, bahkan keempatnya sekaligus. Aku harus selesaikan satu persatunya. Sementara di sana, aku selalu tersenyum sendiri, melihat sebuah harapan keyakinan suatu saat nanti aku pasti menjadi seorang kolumnis, masuk dapur masak redaksi jurnalis, dan menerbitkan banyak buku.

    Memang benar, aku sadar sekali dengan kekurangannya dalam ketidakmampuan beradaptasi, bersosial, dan bergaul dengan orang lain. Karenanya, aku harus melarikan semua kelemahanku terutama tubuhku dengan membuang semua kekecewaan dengan menulis. Aku tak butuh seseorang untuk menyemangatkanku. Aku ingin bebas menjadi diriku sendiri.

    907 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *