Urgensi Inspirasi Dosen Bagi Mahasiswanya

    “Seseorang itu tidak
    mendengarkan apa yang kau katakan, namun lebih sensitif terhadap apa yang kau
    lakukan.” (Agha Ma’ruf)
    Saat itu malam tiba, waktu makan malam. Aku menjadi sadar,
    tidak ada lauk-pauk, tidak ada nasi, dan tidak ada apa yang bisa dimakan. Karena
    itulah, aku segera mencari makan di warung pinggir jalan. Alhamdulillah,
    makanan kesukaanku “nasi tumpang” khas Kediri sudah aku dapatkan. Dan seporsi
    lagi nasi pecel untuk adikku. Setelah itu, perjalananku berlanjut ke Indomaret
    untuk membeli kopi. Tak disangka, kumelihat dosen filsafatku bersama putrinya
    sedang membeli sesuatu.
    Aku terpaksa tak menyapa, mau menyapa bagaimana, lah dosenku itu lagi bengong di dekat deretan rak-rak makanan. Entah apa maksudnya, aku
    beranggapan “karena dosen ini dosen filsafat”, maka ia sedang lagi
    men-filsafati apa yang sedang diperhatikannya. “keren! Ungkapku dalam hati,
    dosen yang bertitel doktor tersebut tetap selalu mempertahankan kebiasaan
    belajarnya di mana pun dan kapan pun. Aku berani beranggapan begitu, karena
    bila selalu berpapasan dengan beliau di kampus penglihatannya selalu tertuju ke
    bawah— dengan sudut 30-40— derajat petanda ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
    Dari sini aku tersentuh, merasa beruntung memiliki dosen
    seperti ini. Yang di kampus begitu dihormati, namun di luar ia tetap tawadhu’
    sebagai manusia biasa, yang berpenampilan sederhana layaknya orang pada
    umumnya. Benar, aku salut sekali. Hal yang ku ketahui tentangnya, bilau mampu
    bersenang-senang ria dengan buku filsafat berjam-jam. Nah, kalau saya, masih
    belum mencapai tarah sampai segitunya, membaca filsafat saja masih sebatas
    paksaan diri, bukan tingkatan sebagai kebutuhan.
    Dari sini timbullah pikiran, agar mahasiswa tidak suka
    menunda, suka membaca buku ke perpustakaan— yang tidak hanya didorong oleh
    banyak tugas namun oleh kesenangan dan kebutuhan, maka dosen sangat dianjurkan
    memberi contoh yang baik. Jangan hanya terlihat di kantor saja, di ruang saja,
    saat mengajar saja, saat berjalan saja, saat parkir sepeda, saat di kantin. Cobalah
    berbaur dengan mahasiswa membaca di perpustakaan. Malu lah, sebagai dosen kok
    hanya nongol di kantin bersama
    mahasiswanya, ke perpustakaannya kapan? Barsama siapa?
     Selama kuliah,
    mungkin Cuma 0,01% dari keseluruhan jumlah dosen yang pernah kepergok membaca
    buku asyik layaknya mahasiswa. Para dosen agaknya terlalu gengi bergaul dengan
    mahasiswa, atau pun mungkin lagi banyak kerepotan, tugas mengoreksi makalah dan
    lain-lain. namun yang jelas, selaku mahasiwa lebih mendengarkan apa yang dosen “tunjukkan”
    melalui sikapnya, dibanding apa yang mereka tunjukkan melalui lisannya.
    Agar mahasiswa tak telat datang perkuliahan, dosen pun harus
    konsekuen menantang dirinya sendiri tidak terlambat. Harus konsisten dengan
    sikap tersebut. Jangan berdisiplin didasarkan oleh “musiman,” kalau lagi mood baru berdisiplin, mahasiswa yang
    tidak disiplin dienyahkan. Kalau tidak mood
    tidak tepat waktu tak apa, yang penting mengajar. Mahasiswa terlambat dihukum,
    kalau dosennya yang terlambat?
    Sehingga, berdasarkan fenomena inilah mengapa pendidikan di
    pesantren lebih mengena di bandingkan pada sekolah formal dalam segi
    pembentukan sikap yang baik secara nilai-nilai. Karena hakekatnya seseorang
    cenderung sama dengan mereka yang dikagumi. Siapa pun yang berminat meminang
    diri berkarier menjadi PNS, tegakkanlah diri sebaik mungkin menjadi pribadi
    yang dikagumi orang lain karena kepribadiannya, bukan karena keloyalannya. Bila
    ingin menjadi pedagang, jadilah pedagang yang dikagumi misalnya dengan praktek
    jual beli yang halal. Atau, bila ingin menjadi pejabat negara, jadilah wakil
    rakyat yang dikagumi, dengan cara konsisten melakukan apa yang berdampak baik,
    yaitu perbuatan baik.

    695 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    10 tanggapan untuk “Urgensi Inspirasi Dosen Bagi Mahasiswanya”

    1. salah satu keunggulan pesantren,,sebenaranya masihbanyak hallain yang pesantren jauh lebih unggul..dan sekarang banyak buku yang mengungkapkannya…..

      soal dosen…dalam hal ini sepertinya ia seperti oemimpin yang menjadi panutan..benar..harus konsekuen….

      memang sih..yang terlihat…dosen jarang "kepergok" baca buku….

    2. Sebenernya aku juga tau sih kak sedikit tentang pesantren karena sodaraku dulu pernah ngalami pesantren. Aturan yang ketat memang bagus bikin santri-santrinya jadi disiplin. Tapi ternyata ada juga yang di luar pesantren mereka malah macem-macem. Cuma memang didikan di sana jauh lebih baik menurutku.

      Soal dosen, aku setuju banget. Aku jarang banget nemu dosen selain di kelas. Setelah kelar kelas, dosen suka langsung pergi dan menghilang tanpa jejak. Udah kayak ninja hatori. Di perpustakaan pun jarang nemu. Makanya jadi kadang suka canggung kalau ketemu dosen di luar kampus. Soalnya nggak begitu kenal kalaupun di kampus. Padahal kan kalau bisa berbaur jadinya asyik bisa berbagi pengalaman dan ilmu juga tentunya.

    3. iya dulu gue pernah punya cita2 masuk pesantren tp gk jadi krn pengertian pesantren menurut keluarga yg terlalu tertutup. tapi lama kelamaan pesantren itu ternyata baik juga dalam pembentukan watak seseorang yang mendalami ilmu di pesantren

    4. Ini dia yang bisa dipanggil Guru dalam arti sebenernya, banyak guru yang cuma bacain buku doang terus ngasih tugas, masa bodoh muridnya tau atau tidak. Setuju juga sama disiplin tergantung 'mood', bukannya disiplin itu harusnya jadi kebiasaan ?

    5. dosen emang seharusnya bisa merangkul para mahasiswa biar lebih saling terbuka.. masalah baca buku dan disiplin juga emang harusnya jadi kebiasaan bagi para dosen.

      pendidikan pesantren gue belum pernah, hehe.. semoga realitanya seperti apa yang Agha sampaikan 😀

    6. wah, vey bukan orang yang deket dengan lingkungan pesantren. Sangat susah untuk memulai yang baik. Tetapi memang, jangan kan dosen, orangtua dan guru pun demikian.
      Orangtua berucap kasar, maka anak akan menirunya. Orangtua suka memakai kekerasan, juga akan menurun pada anaknya.

      Mulai yang baik dari diri sendiri dulu, terutama ucapan. Kemudian tindakan-tindakan yang lain.
      🙂

    7. Namun di beberapa kota, contohnya jakarta, pemilihan pendidikan pesantren adalah pilihan terakhir atau biasanya pesantren dijadikan hukuman untuk siswanya yang terbilang nakal di sekolah. Benar kemungkinan yang mas Agha bilang, Pesantren lebih mengena dibandingkan pendidikan formal dalam segi pembentukan sikap. Tetapi, jika anaknya tidak setuju. Kebanyakan mereka seringkali melarikan diri dari pendidikan pesantren tersebut. Karena aturan pesantren sangat berbeda dengan pendidikan formal pada biasanya. Hehe.

    8. iya, dosen layaknya guru ya..digugu lan dituru, kalau dosen kencing berdiri, mahasiswa kencing berlari..andai kamu berani interview tuh dosen lalu ditempelin wajah bijaknya di blog Gha, bagus tuh buat pelajaraaan..hehehe…

      semoga ada semakin banyak dosen kayak begitu, tapi emang dosen itu sibuuuk pake bangeetttt

    9. Mungkin beda tempat beda juga dosennya, ya iyalah, kalo sama mau gimana ngebagi waktunya. Maksudnya dikampus saya juga masih ada dosen yang suka temenan sama mahasiswanya, sampai saling pinjem buku novel segala. Tapi gak banyak sih, cuma beberapa aja,

      Menurut saya sih, mau dipesantren atau sekolah formal sama aja, yg bedain cuma pembelajarannya aja, mungkin dipesantren agamanya lebih diperdalam gak kayak disekolah formal.

    10. Hmmm dari dosen larinya ke pesantren…

      Salut sama dosennya yah… tetap tawadu' meski dluar kampus… oia saya juga baru berpikiran ke stu stlah membaca artikel agha ni… jarang ngelihat dosen ikut duduk membaca buku bersama mahasiswanya… kalau di kantin sering #eh… so sepakat banget dengan quotenya Agha^^

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *