Tujuan membuatmu Istiqomah

    Apapun di dunia ini diawali dengan kenyataan bahwa yang ada berawal dari yang tiada. Gedung-gedung mewah, berawal dari sketsa di atas kertas. Kegiatan-kegiatan, berawal dari proposal-proposal. Dan banyak contoh lainnya. Termasuk nilai ijazahmu, berawal dari gambaran visual yang kamu gambarkan dan realisasikan dalam tindakan. Sayangnya, jika nilai itu tidak memuaskanmu, itu bukan salah bagaimana menvisualisasikan, tapi bagaimana menyelaraskan tindakanmu sesuai dengan visualisasimu.

    Tak seorang pun akan mencapai melebihi apa yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika kamu tak pernah berkeinginan pergi ke mana pun, ya kamu tak akan pernah sampai ke tempat yang memang tak pernah dituju. Jadi, berikan tujuanmu pada sikapmu, agar sikapmu senantiasa menemani tujuanmu, setia keapda tujuan hidupmu.
    Tujuan adalahh sasaranmu, cita-citamu, harapanmu dari pekerjaanmu. Ia berupa mimpi yang benar-benar diwujudkan, bukan dikhayalkan sepanjang hidupmu. Benar-benar berwujud dengan keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa “ini pasti tercapai”.
    Tujuan membuatmu hidup, bahkan ia yang membedakan antara kamu sekarang dan kamu yang kemaren. Tanpa tujuan, kamu sudah tiada sebelum memang ketiadaanmu menjadi nyata. Maka tak ayal, siapa pun yang tak memiliki tujuan, maka tak kan menjadi tuan. Bahkan, ia akan terkucilkan.
    Ikan tanpa air pasti klepek-klepek. Begitu pun kamu, tanpa tujuan kamu bukanlah kamu. Dirimu bukanlah kamu yang ada sekarang. So, sebelum tujuanmu disetir oleh orang lain, setirlah tujuanmu sendiri secakap-cakapnya. Jangan mau numpang di  kendaraan orang lain, jangan mau juga numpang ‘impian’ di impian orang lain. Kamu, ya kamu.
    Memang sich,mungkin kamu masih terbayang-bayang dengan suramnya masa lalumu. Sehingga kamu merasa sudah terlambat untuk merubah segalanya, merumuskan impianmu. Yang penting, bukanlah bagaimana masa lalu burukmu, tapi bagaimana masa lalu indahmu untuk melangkah kea rah yang lebih baik. Tujuan yang lebih indah daripada sebelum-belumnya. Jadi, tak peduli kamu berasal dari terminal mana saja, yang penting, dimakah kamu akan memparkir keinginanmu pada terminal yang memang kamu kehendaki.
    Jika demikian, jangalah kamu menyerahkan impianmu pada faktor hoki atau keberuntungan. Tapi beruntung itu datang saat kamu mulai berani melamar impianmu dengan surat lamaran yang bertuliskan goals-hidupmu.
    Jangan terkecoh dengan kesenangan semu yang biasanya mengorbankan kesenagan jangka panjang. Mencanangkan tujuan jangka panjang bisa membantumu tidak terlena dengan rayuan kesenangan jangka pendek.
    Dengan tujuan kamu sudah menunjukkan minatmu pada apa yang sudah dimiliki sekarang. Jangan seperti rata-rata orang yang tak pernah berusaha, hanya mengeluh kurang ini dan itu, tanpa mau memanfaatkan apa yang sudah dimilikinya. Tujuan pulalah yang membuat energimu bertambah dan berlipat, setelah saja kamu memutuskan tujuanmu untuk menjawab semua impianmu.
    Tak hanya itu, tujuan mengobati luka hatimu ketika lagi dilanda kebosanan. Termasuk bosan dengan dirimu sendiri yang  tak mampu melihat dengan objektif hasil yang telah dicapai. Banyak dari para pemenang kehidupan menemukan energy baru yang menggantikan keletihan saat melangkah menuju impian dengan menyadari sepenuhnya terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Yaitu, saat mereka menetapkan dan mengorbankan segalanya demi tujuan tersebut.
    Dua langkah yang membuatmu tambah maju. Pertama visualisasikan masa depanmu sendiri. Baik itu berhubungan dengan material;rumah, pekerjaan dst. Maupun yang non-material; misalnya hubunganmu dengan dirimu sendiri, dengan orang lain dan dengan Tuhanmu. Kedua, berburulah jawaban yang jelas dari hati nuranimu. Keinginan apakah itu, impian yang seperti apakah yang dimaksudkan.
    Lalu, apakah yang seharusnya menjadi tujuan hidupmu? Betul sekali, kamu harus memahami apa yang dibutuhkan untuk menenangkan dirimu sendiri saat orang lain berada di atasmu. Bukan memahami apa yang diinginkan. Tapi, apa yang paling kamu butuhkan. Keinginan hanya bersifat sementara, dan kebutuhan tetap berkelanjutan, bahkan akan semakin meningkat ke tingkat kebutuhan yang lebih tinggi.
    Melakukan sesuatu yang tidak dibutuhkan, sama halnya membuang-buang apa yang sudah dimiliki, tak memanfaatkan segala hal yang sudah ada. Alhasil, buat apa kamu memiliki banyak uang, bila tak mampu kamu gunakan dengan sebaik-baiknya. Ingat! Kebutuhan itu sifatnya mendesak, bukan kebutuhan hanya masalah perut. Tapi masalah pengakuang dari orang lain.
    Saya kira, semua orang memiliki kebutuhan. Tapi, hanya sedikit sekali yang benar-benar menjawab kebutuhan-tingkat-tinggi yang ada dalam dirinya. Ingin mencapai prestasi adalah kebutuhan tingkat tinggi, ingin mendapatkan harta yang membahagiakan adalah kebutuhan tingkat tinggi. Dan seterusnya.
    Kemudian, hal apa sajakah yang dapat membuat kebutuhanmu sedikit demi sedikit layu tanpa tindakan yang tepat. Pertama, tak menerima apa yang sudah dimiliki. Banyak orang lain yang sudah menggariskan kebutuhannya secara jelas, saya butuh IPK yang memuaskan, tapi ia tak pernah menerima IPK yang rendah. Tak mau belajar dari kejadian itu, sehingga, bagaimana mungkin bisa memperbaikinya menjadi lebih baik?
    Kedua, tak melihat bahwa kebutuhan tersebut sudah jelas tak hanya dibutuhkan oleh dirimu sendiri, tapi juga dibutuhkan oleh orang lain. Lah, kok bisa? Kamu itu adalah harapan orang tuamu, dan teman-temanmu. Saat kamu tidak berhasil, orang tuamu tentu akan merasakannya juga. Saat kamu berhasil, akan lebih banyak yang mendatangimu. Kamu akan lebih dibutuhkan oleh orang lain, karena itu, menjawab kebutuhanmu yang paling tinggi juga membantu orang lain menjawab kebutuhannya kepadamu. Kamulah pahlawan mereka, yang memperjuangkan hak-hak mereka.
    Hah, jika kamu sudah asyik begini. Segeralah jangan biarpun sedetik lengah dari hal-hal yang membuat kebutuhan itu runtuh. Bukalah pintu selebar-lebarnya saat kamu merasakan harus memenuhi kebutuhan-tingkat-tinggi. Kerjakan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Karena yang diinginkan terkadang tidak selalu lebih penting daripada apa yang dibutuhkan. Bagaimana, bukankah begitu?

    766 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *