tuhan Nafsu

    Manusia akhir ini cepat bosan. sedikit keadaan menekan,
    sudah berani-beraninya menganggap Tuhan tak adil. Tuhan disalahkan, atau na’udzubillah,
    kini ia tak lagi “dianggap”. Berselang waktu, ia menemukan Tuhan baru. Ia meyakini,
    Dianya itu lebih menjanjikan kehidupan dalam arti sesuai keinginan. Besok Tuhan
    yang ini saja, esoknya lagi, “ah bosen! Tuhan yang itu saja”.
    Pada dasarnya, manusia itu lemah, dan munafik. Sudah tahu
    lemah, tapi tidak mengakui kelemahan dirinya. “Untuk apa shalat? Shalat itu kan
    tidak membikin saya kaya”. Ini memang paling menohok. Ada lagi yang lebih halus
    ungkapannya, “Iya iya, saya akan shalat dhuha biar rejekinya tambah lancar”.  Emang shalat itu untuk ngeredit “keinginan”?
    Bila Tuhan tak lagi memberikan kehidupan yang berada, di
    situlah umumnya manusia tak setia. Ia mungkin akan lebih, berkhianat. Tuhan tak
    perlu sakit dikhianati, ia tetap kokoh berdiri tanpa tergantung kepada manusia.
    Manusia itu, yang justru terlalu sombong. Kalau kamu mati, kamu mau apa lagi? Apa
    yang bisa kamu lakukan?
    Di abad baru, manusia punya tuhan baru. Perkenalkan,
    namanya “nafsu”. Tidak banyak yang menyadari,  tapi kepopulerannya telah melalang buana ke
    seantero dunia. Ia memiliki prajurit khusus, salah satunya ialah “hiburan”. Mereka
    yang terhimpit kekosongan, seringkali datang mengadu kepada tuhan-Nafsu. Dijawablah
    oleh tuhan tersebut, “nikmati saja sajian ini,..santai saja lah.”

    Akhir-akhir ini tuhan itu telah meminta persembahan;
    mintalah ia korban bagi penjamu miras, bagi pelaku judi dan seterusnya. Yang miras,
    tuhan nafsu akhirnya secara halus mendapatkan pamrihnya, matikan ia. Dan anehnya,
    semakin banyak yang menjadi pengikutnya. Padahal, jiwa satu persatu telah kembali
    kepada Tuhan Yang Sesungguhnya.
    Lalu apa bedanya Dia dan dia yang dituhankan? Dia memang
    terasa berat untuk disembah pada awalnya, karena yang dilawan adalah diri
    sendiri dan nafsu yang ingin mengaku tuhan. Sedang dia, menjanjikan kenyamanan
    di awalnya, dan akhirnya memusnahkan secara diam-diam.
    Hasan Bashri ra. berkata,  “Hai anak manusia, engkau hanyalah hidup
    beberapa hari. Setiap kali hilang satu hari, maka hilanglah sebagian darimu.”
    Waktu juga makhluk seperti halnya manusia. Keberadaannya selalu
    hadir di setiap diri mereka, di mana dan dengan siapa. Di awal kehidupannya,
    mereka telah ditemani dengan makhluk ini, bahkan sampai ajal menjemput. Makhluk
    ini sebagai petanda, Tuhan—azza wajalla—sebagai pencipta. Bila saja bukan
    diciptakan oleh-Nya, tentu untuk apa berteman dengan sang waktu, bukankah manusia
    mati berteman dengan waktu?
    Waktu yang melekat pada masing-masing mereka sebagai
    petanda, Tuhan itu ada di “dalam” dirinya. Melekat pada mereka yang pura-pura
    meniadakannya, dan menggantikan dengan tuhan baru. Aneh kan, sejatinya akan
    mati, tapi kok masih sombong diri. Tak mau menyembahNya dan memilih berpadu
    diri dengan tuhan barunya. Demikianlah, 
    semakin banyak anugerah yang berlimpah, manusia semakin lupa akan
    dirinya, dan setelahnya “akan melupakan Tuhannya”.
    Kediri, 06 Desember 2014

    1,155 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “tuhan Nafsu”

    1. di facebook, ada orang yang nyemplungin aku ke dalam group yang isinya menghujat Tuhan.
      astagahhhhhhh…. itu group isinya maki-makian dari orang yang sakit hati karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. menyeramkan sekali. Buru-buru aku keluar dari group itu dan memblokirnya. Seram.

    2. Hidup selalu penuh cobaan, ngak ada manusia yg hidup mulus2 aja.
      Kalopun kita terus di coba, pertanda tuhan sayang ama kita, ini nanti sebagai jalan kita menuju surga kalo kita ditiap cobaan masih terus dekat dengan NYA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *