Totalitas (kerja Keras)

    Di dunia ini serba terbalik dan diciptakan berpasang-pasangan. Di mana ada lelaki, pasti ada perempuan. Ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Kesedihan dan kegembiraan. Satu dan yang lainnya saling mempengaruhi dan saling melengkapi. Perbedaan ini seharusnya tidak dijadikan sebagai garis pemisah antara keduanya. Misalnya, jika kamu sedang senang seakan-akan memisahkan diri dan bersikap Ogah-ogahan untuk kemudian merasakan penderitaan.

    Memang, benar roda kehidupan itu terus berputar. Berbeda dengan roda waktu, tanpa dimintapun ia akan berputar dengan sendirinya secara alamiah. Seperti bumi yang mengintari matahari. Seakan, terlihat dari bumi ini bahwa mataharilah yang mengintari bumi. Karena bumi, waktu sudah ada yang mengatur dan mengendalikannya. Apakah mungkin bisa disamakan antara roda kehidupan dengan roda waktu?
    Karena itulah, roda kehidupan tidak berputar sendiri. Dibutuhkan usaha dari dalam diri. Dari kecil-dewasa dibutuhkan usaha untuk memenuhi kebutuhan  biologis, sampai menjadi kecil lagi (karena tua tubuhnya tidak kekar lagi) dan akhirnya kembali kepada ketiadaan.
    Dalam roda kehidupan, tidak seperti jalan tol di Amerika sana, tapi jalanan yang penuh dengan bebatauan (rintangan menghadang). Semakin besar rintangan, justru yang dibutuhkan adalah roda yang berputar tanpa henti pada porosnya. Berputar dan terus berputar sampai akhirnya sampai pada tempatnya yang dituju.
    Tanpa ada henti-hentinya roda berputar oleh tenaga mesin, diibaratkan roda kehidupan kita yang terus kita usahakan berputar dengan kesungguhan tekad kita. Tidak peduli, seberapa canggihnya mesin untuk menggerakkan roda itu, jika tidak ada usaha dari sopir yang mengengalikan mesin itu.
    Karena roda kehidupan kita langsung dikendalikan oleh usaha keras kita, maka tidak perlu lagi sewa sopir. Cukup “menyengajakan” kemauan untuk menggerakkan mesin tersebut.
    Misalnya juga, kerasnya batu tak perlu kita lubangi dengan alat-alat yang canggih. Cukup dengan kelembutan tetesan air hujan yang jatuh tepat di atas batu tersebut. Usaha keras bukan berarti totalitas dalam satu waktu, tapi dalam waktu yang panjang.
    Penyakit kita sebagai calon pemenang kehidupan adalah ketakutan untuk segera memulai segalanya, dan ketakutan untuk mengerahkan seluruh kemampuan. Misalnya, kita menunggu sampai planning dan rencana benar-benar matang, dan jiwa kita benar-benar mood untuk memulai usaha. Jika kita menunggu hingga jiwa yang menggerakkan diri kita, maka kita akan terhempas pada penjara kotak-kotak.
    Salah-satunya adalah ketakutan karena kita tidak tahu harus memulai dari mana, dan tidak tahu apa yang seharusnya di lakukan. Ah,masalah pengetahuan itu akan menyusul sendiri seiring sepuluh langkah pertama sudah dilalui. Jika langkah awal sudah digalangkan, maka kebelakangnya akan mudah.
    Selama musim hujan masih ada, maka basahi dulu rerumputan. Selama ada kesempatan, maka ambillah kesempatan yang lebih berharga dari emas tersebut. Ia tidak akan pernah datang untuk yang keselanjutnya. Ambillah kesempatan, dan melesatlah. Sebelum kesempatan untuk melesat darimu dan meninggalkanmu.
    Selanjutnya, jangan takut untuk mengerahkan seluruh kemampuan. Dalam artian totalitas dan bekerja keras. Malulah kita yang sudah dilengkapi dengan perangkat-perangkat dari teknologi yang lebih canggih dari buatan siapapun. Yang tiada bandingannya, dan alat ini hanya digunakan untuk dipergunakan.
    Menyia-nyiakan kemampuan ini hanya membuat kemampuan itu lenyap di makan waktu. Maka, sebelum kemampuan itu lenyap, lenyapkanlah perasaan ketakutan dan kemalasan untuk segera memaksimalkan dan men-totalitas-kan kemampuan yang ada.
    Jika kita keras mendidik kita, maka orang tidak akan berani mengatur diri kita. Jika kita memang tak mau diatur oleh orang lain, maka aturlah diri kita sendiri. Dengan totalitas, seberat dan sebesar apa pun masalah dan rintangan yang menghadang kita, maka akan dapat teratasi.
    Dengan totalitas, seseorang akan terinspirasi dengan kesungguhan kita. Sehingga, psikis dan pikiran kita pun akan pula terbentuk oleh respon-respon dari orang lain yang berada di sekitar diri kita.
    Masalah kerja keras, maka kerja cerdas akan mengikuti di belakangnya. Teori yang ikut dan didapatkan setelah kita mencoba dan mengalaminya. Bukan hanya sekedar di otak saja. Jangan terlalu banyak konsepsi, tapi banyak mengalami lebih penting. Mengalami akan menjadi lebih penting jika kita mengusahakannya dengan penuh totalitas dan kerja keras.
    Terakhir, bekejarlah di atas rata-rata orang lain. Tetaplah bekarja saat orang pun sudah istirahat. Tetaplah berusaha, karena pasti akan semakin menghilangkan kesamaran impian yang ada di depan mata.

    596 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *