Titik Terendah, dan Kembali

    Pada dasarnya,
    masing kita memiliki catatan kehidupan. Ada saat-saat di mana pengalaman begitu
    berharga, dan ada pula ketika hal sepele menjadi begitu besar. Kembali kepada
    masing-masing diri kita sendiri. Untuk menghargai kehidupan, kita tak perlu
    mengejar apa pun, menanggalkan segala keinginan dan kita berusaha keluar dari “kemanusiaan”.
    Di sinilah keadamaian berada, kita tidak lagi terikat oleh ‘hasrat’ bendawi.
    Saya pun
    memiliki masa terendah, sekali pun waktu terus bergulir dan silih berganti. Masa
    yang membuat hidup terasa sempit, dan terasa jauh dari kenyamanan. Saya lukiskan
    masa ini dengan sebuah karet, walau pun bisa melejitkan benda terbang jauh ke
    angkasa, namun perlu disadari benda itu akan jatuh kembali ke bumi. Lalu apa
    pengalaman itu? pengalaman itu adalah saat saya belum maksimal melakukan sebaik
    mungkin: bukan pengalaman khusus.
    Memberikan yang
    terbaik itu keharusan bagi saya, terlepas apakah hal itu penting atau tidak. Titik
    terendah saya sebenarnya diawali dari hal ini: “semakin saya terlalu menggebu
    mengejar sesuatunya, justru saya semakin jauh darinya”.  Memang benar, angka-angka dalam KHS saya
    dapatkan sesuai keinginan, namun jauh di balik itu apa arti “nilai”. Saya mengejar
    juara dan prestasi, tapi pada akhirnya setelah mendapatkan saya merasakan tak
    ada artinya. 
    Kebangkitan dengan
    kesadaran ini saya anggap penting. Yaitu keseimbangan alam jiwa. Untuk bangkit
    dan melejit tinggi bukanlah hal sulit. Banyak orang yang jatuh, namun setelah
    itu bangkit lagi. Ada lagi yang bangkit di atas, sayangnya lupa diri hingga
    kemudian jatuh kembali. Sedikit bahkan jarang saya temui orang-orang yang
    konsisten “imbang” dalam kehidupannya. Tidak ada individu yang benar-benar bisa
    mempertahankan predikat “keemasannya” atau predikat “kekelamannya”. Kesemua berputar
    “naik” dan “turun”.
    Dari hasil
    renungan terhadap akumulasi pengalaman saya bisa disimpulkan “bahwa” yang kita
    butuhkan dalam hidup ini adalah “kebahagiaan”, “kebermaknaan” dan “keseimbangan”.
    Dengan seimbang, individu akan melejit dengan “konsisten”, hingga ia
    mendapatkan apa yang di luar dugaannya. Ada saatnya kapan momentum menjadi
    lompatan kuantum dalam hidup ini, di titik tak berkeinginan di situlah
    keinginan datang terpenuhi dengan sendirinya.

    2,045 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    7 tanggapan untuk “Titik Terendah, dan Kembali”

    1. Setiap orang pernah berada di titik terendah. Itu sebuah kepastian. Bahkan mereka yang terlihat bahagia sekali pun tetap pernah duduk menangis di titik paling gelap, hanya saja barangkali kita tidak tahu. Tapi tenang saja, bagi orang-orang yang bersabar sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

    2. ketika berada di titik terandah, kita memang dihadapkan dengan pilihan untuk bangkit atau terus berada di titik tersebut. Semoga kita termasuk yang mau bangkit

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *