SAM_2033-1

“The Power of Little”, Benih Buku Pertamaku

    Sebenarnya, buku ini harus selesai bulan lalu. Yaitu ketika bulan puasa final, maka buku ini pun demikian. Cita-citaku yang telah lama kunantikan benar-benar terbayar dengan kepuasaan menyelesaikan buku dalam dua bulan. Rasanya itu, sesuatu sekali. Melebihi kepuasanku pada apa pun. Ia menjadikan hidupku begitu sangat bermakna.

    Ide
    dasar kepenulisannya intinya hanyalah masalah istiqamah. Aku merenungi sabda
    nabi yang mengatakan, “Amal kecil yang dilakukan secara terus-menerus lebih
    dicintai oleh Allah”. Jadi, bagaimana memanfaatkan potensi hal-hal yang kecil,
    dianggap remeh demi mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
    Berarti
    tentang tips-tips ya? Sebenarnya tidak juga, di dalamnya berisi tentang
    motivasi yang lebih akrab dengan kehidupan para remaja. Selain ada wawasannya,
    juga dilengkapi dengan apa yang seharusnya dilakukan? Sangat praktis
    sekali buku tersebut untuk dibaca.
    Alhamdulillah,
    setidaknya aku bisa menunjukkan kepada diriku sendiri—bukan kepada orang lain—bila
    semua dilakukan dengan sungguh pasti bisa. Aku menjadi teringat saat
    penggarapan buku tersebut, khususnya ketika puasa di Bulan Ramadhan 2013. Waktu
    yang begitu sempit, dihabiskan untuk mengajar terpaksa curi-curi waktu untuk
    garap buku.
    Lucu
    sekali,  terkenang sekali. Yang membuat
    bahagia itu ‘proses membuat bukunya’, bukan semata-mata pada karya yang telah
    terselesaikan. Proses yang melelahkan, namun hasilnya sangat membahagiakan. Benar
    apa yang dikatakn Khahlil Ghibran, hakekat kebahagiaan itu ada kesengsaraan. Artinya,
    kebahagiaan itu didapatkan dari kerja keras yang sungguh-sunguh.
    Tapi
    perlu digarisbawahi, niat penggarapan buku ini hanya sebatas benih. Tidak akan
    dikirimkan ke penerbit. Ya, untuk sementara hanya disimpan di musium pribadi—perpustakaan
    pribadi. Aku takut, bila ditekirimkan ke penerbit akan ditolak, karena 100%
    masih belum diedit. Belum dilengkapi aksesoris penarik pembaca agar mau membaca
    benih buku pertamaku ini.
    Dan
    kini, aku menjadi mengerti. Betapa sangat pentingnya keberanian, “berani
    dikata-katain, berani dikritik, berani ditolak oleh siapa pun”. Tanpa keberanian,
    mustahil ada perubahan. Sejatinya, keberanian tersebut harus ditopang dengan
    keyakinan yang kuat. Bila kita berfikir, aku ga bakalan bisa buat buku, aku
    jamin kamu tidak akan pernah bisa mewujudkan bukumu. Solusinya, yakini kamu itu
    bisa banget nulis buku, merasalah seolah-olah impianmu udah tergapai. Rasakan kebahagian
    tersebut—Quantum Ikhlas.

    157 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *