The Power Of Little #2


    “Sedikit demi sedikit
    lama-lama menjadi bukti”
    (Pribahasa)
    Sahabat, manusia itu diciptakan sesuai dengan
    fitrah dan kemampuannya masing-masing. Karena manusia adalah makhluk, berarti
    ia bukan Tuhan. Bila Tuhan tidak terikat oleh waktu, sedang di sana makhluknya
    tercipta terikat oleh waktu dan ruang. Waktu berarti lebih menunjukkan kepada
    proses, perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain. Ruang, termasuk keadaan
    fisik yang berubah. Maka dari sini sudah jelas bagi diri kita, waktu menjadi
    sangat penting bagi makhluk demi kehidupannya. Bila tak terikat waktu, berarti
    ia bukan makhluk hidup alias sudah kembali kepada Tuhannya.
    Pernah suatu ketika konsep quantum mencuat di
    tengah-tengah kita. Ini seakan memaksakan diri kita kepada pemahaman yang
    lambat tergolong kurang beruntung untuk zaman secanggih ini. Nyatanya, bila
    kembali memaksakan diri renungi kehidupan manusia abad ini adalah mereka justru
    keluar dari dirinya sendiri sebagai manusia. Okelah kesuksesan di tangan mereka
    masing-masing, namun terkadang justru mereka tak mampu menerima kesuksesan
    tersebut. Seraya bertanya-tanya, “apa arti dan sukses bagi diri saya?” ya,
    mereka seolah telah kehilangan dirinya, makna dirinya sebagai makhluk.
    Cobalah lihat bayi, ada tahapan-tahapan di mana
    ia akan tumbuh sejak sel telur dibuahi oleh sperma. Sampai genap Sembilan bulan
    maka lengkaplah dirinya. Bila memaksakan quantum demi kelahiran bayi, yang
    terjadi justru kelahiran yang prematur. Tiba-tiba penulis menjadi berfikir,
    jangan-jangan konsep quantum adalah jelmaan syetan yang suka tergesa-gesa. Biasanya,
    mereka tergesa berbuat sesuatu dengan cepat, namun jarang terbukti
    keistiqomahannya. Mereka hanya berani awalnya, namun langkah selanjutnya
    langsung surut.
    Atau mungkin karena fikiran kita yang terlalu
    tamak kepada keinginan diri masing-masing. Ingin dapatkan yang banyak, usaha ya
    harus banyak dan ingin secepat mungkin. Tibanya mendapati kendala dan rintangan
    atau pun kegagalan, rasa tak mampu mulai muncul. Menghinggap hingga menggoyahkan
    keyakinan terhadap keinginan diri sendiri. Ketamakan seringkali berakhir dengan
    kehancuran, berapa banyak raja-raja yang mati sia-sia karena terlalu tamak
    dengan kekuasaan dan harta. Berapa banyak caleg yang gagal akhirnya jatuh
    stress karena terlalu tamak dan berharap berlebihan bagi terwujudnya sesuatu.
    Mengejar impian tak pernah membuat kita puas,
    namun juga membuat efek samping yang berupa kefrustasian. Hidup yang mengalir
    justru kunci menuju pencapaian sejati. Mengalir dalam arti sesuai jalannya.
    Misalnya, bila ingin menjadi pemenang dalam lomba, maka janganlahkejar
    kemenangan. Mengejarnya berarti hanya itu yang didapatkan, namun bila mengejar
    proses atau pengalaman. Maka, akan mendapatkan pengalaman dan kemenangan
    sebagai buahnya. Mengalirlah belajar dan tenggelam dalam proses latihan yang
    mengarah kepada kemenangan.
    Karena orientasinya pada proses, tentu
    saja hal kecil yang dapat mempengaruhi proses akan disadari dengan sesegera
    mungkin. Sadar, hal kecil tak boleh dibiarkan bersama waktu. Karena waktu
    menjadi sekutu utama baginya menjadi besar. Hal kecil pengganggu tak akan
    menjadi besar tanpa dilekat oleh waktu. Begitupun setiap keberhasilan kecil
    akan menjadi besar seiring waktu. Itu artinya, tumbuhnya hal kecil menjadi
    besar dibutuhkan sebuah “konsisten” dan dari sinilah mengapa ia begitu power
    full.

    880 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “The Power Of Little #2”

    1. Betul, semua yg ingin kita capai itu butuh proses. Dari proses-proses itulah kita bisa menghargai yg namanya keberhasilan 🙂

      Kita memang boleh punya impian, tapi kita juga harus siap sama konsekuensi yg ada. Kita harus siap sama hasil akhirnya, berhasil ataupun tidak ya intinya ikhlas menerima hasilnya…

    2. Betul sekali dik..
      Kita perlu memiliki kesiapan untuk melihat hasil akhirnya nanti. Yang penting terus beruha dan terus bergerak..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *