Pemerkosaan

    .koran{
    -moz-column-count:2; /* Firefox */
    -webkit-column-count:2; /* Safari and Chrome */
    column-count:2;

    -moz-column-gap:40px; /* Firefox */
    -webkit-column-gap:40px; /* Safari and Chrome */
    column-gap:40px;

    -moz-column-rule-style:outset; /* Firefox */
    -webkit-column-rule-style:outset; /* Safari and Chrome */
    column-rule-style:outset;

    -moz-column-rule-color: #eee; /* Firefox */
    -webkit-column-rule-color: #eee; /* Safari and Chrome */
    column-rule-color: #eee;}

    Apa yang ada di benak Anda
    saat mendengar pemberitaan pemerkosaan? Anggap saja Anda memiliki seorang
    putri, dan entah mengapa tiba-tiba ia
    menjadi korban dari kebejatan lelaki nakal? Perasaan kebencian Anda kepada
    lelaki itu baik, berarti Anda setuju dengan pemberantasan terhadap wabah
    moralitas bangsa ini. siapakah yang tidak akan sakit hatinya, seketika
    desas-desus berita tersebut menimpa anak darah daging sendiri dengan susah
    payah dibesarkan sejak lahir. Tentu saja, setiap orang akan merasa
    “tercabik-cabik”.
    Penulis sendiri sejatinya
    ingin menulis mengenai ini. sampai detik ini, keresahan memuncak, telinga sudah
    klimaks mendengarkan berita ini. mengapa ini sering terjadi? Berulang-ulang,
    dan menimpa orang yang tak bersalah? Mengapa harus perempuan yang menjadi
    korban? Di manakah letak hati nurani para pelaku tersebut? Karartasis sebagai
    buah menulis ini, juga dalam upaya memperoleh suatu konstruksi pemahaman yang
    kokoh. Antara kaum hawa sebagai korban, dan lelaki sebagai mayoritas pelaku
    perbuatan asusila  jenis ini.
    Benar, rasanya ingin
    mencincang, memukul dan menyayat habis para pelaku pemerkosaan. Setelah malam
    ini saya mendengar berita tak sedap tersebut. Ingin sekali mencincang pelaku
    zina ini. walau pun saya sendiri bukan keluarga dekat korban, bukan teman,
    namun sebagai manusia tentu ada perasaan iba, simpatik. Empati yang saya
    janjikan dalam tulisan ini benar-benar diniatkan untuk menghilangkan kegerahan
    dalam perasaan.
    Tak sepenuhnya dapat
    disalahkan lelaki sebagai pelaku tanpa menimbang asal musabab. Penampilan
    wanita sekarang cukup mencolok, menampakkan sisi eksotis dari lekukan tubuhnya.
    Acapkali wanita tak menyadari perkara ini, tak peduli dampak dari pemujaan diri
    yang berlebihan. Memuja dirinya paling cantik, sehingga ingin terlihat berbeda;
    lebih cantik dan lebih menawan. Kehidupan glamor ini berawal dan berakhir
    kekecewaan, dan menyesal di akhir garis finish.
    “Tidak!kami
    sudah sepenuhnya menjaga diri.”

    Mungkin kaum hawa menampik dengan menyatakan proposisi tersebut. Sembari
    menyambung perkataannya, “Laki-laki yang
    mata buaya, ada wanita matanya melotot kemana-mana.”
    Sejenak menyadari
    kedua proposis tersebut membawa kepada penyalahan kepada kaum laki-laki.
    kerancuan muncul, siapakah yang dikambing-hitamkan? Mengapa hanya melihat
    “sekarang” sebagai korban dari musibah ini. Bukankah tak membina anak-anak
    sendiri sedari dulu termasuk salah satu menjurumuskan anak darah daging
    sendiri.
    Pelaku asusila tak
    kapok-kapok, seperti korupsi. Ketika ia dibenturkan kepada “malu” yang berujung
    terhadap tekanan sosial, dan stigma masyarakat yang membuatnya tercekik, di
    sinilah “kekapokan” akan mencuat. Lihat saja para mantan darapidana, saat ia
    benar salah dan dipulangkan ke masyarakatnya, akan ada perasaan malu terhadap
    lingkungan di mana ia tinggal. Ia malu, bila ia beriman. Karena malu indikator
    dari keimanan seseorang. Daripada mematikan iman yang setitik, lebih baik
    berjuang terus melawan segala macam arus yang memperburuk. Berangan-angan,
    andaikan hukum negara ini membuat semacam ‘cap’ bagi pelaku asusila. Perasaan
    kapok akan semakin terbentuk.
    Di dalam al-Quran
    disebutkan, “innasm ‘a wal fuadha kullu
    ulaaika kaana ‘anhu masuula”,
    sesungguhnya setiap pendengaran dan hati akan
    diminta pertanggungjawabannya. Maka, setidaknya kaum lelaki bisa menjaga
    pendengarannya dari hal yang merusak dirinya, dan hatinya dari apa yang tak
    seharusnya dipikirkan, dirasakan, dan dilihat. Cukuplah menfungsikan
    sebagaimana seharusnya anggota tubuh diciptakan. Mata; untuk melihat tanda
    kebesaran-Nya, telingan untuk mendengar firman-Nya, dan seterusnya.
    Jadi, kesadaran individu
    yang terbangun oleh sebab pembelajaran agama perlu ditegakkan dan
    disosialisasikan dalam kurikulum pendidikan. Tak sebatas pada pembelajaran,
    namun terletak bagaimana membangun hal tersebut menjadi “meaning life” yang melekat kuat dalam diri masing-masing.

    1,020 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Pemerkosaan”

    1. Oh tampilannya kayak koran ya -__-

      Kalo masalah pemerkosaan dimana-mana itu sih satu hal, karena ada niat pelakunya dan ada kesempatan. Setan selalu datang kapan aja, jadi bagaimana keimanan seseorang untuk menampik pengaruh jahat yg datangnya dr setan itu…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *