Terus-Menerus

    Air yang mengalir dengan deras dan terus menerus akan membuat jalannya sendiri. Seperti tetesan pada batu yang begitu keras, pada akhirnya tetesan tersebut akan membetuk bekas pada batu tersebut. Semakin lama menetes, maka akan semakin tampak jelas bahwa itu adalah bekas tetesan air. Begitu pun ketika para pengemis tidak beranjak dari tempat, ia akan terus mendapatkannya selama ia terus memaksa seseorang untuk memberinya uang.
    Nah, tak hanya membuat bekas dan guratan. Kesungguhan diri sangat bermanfaat bagi kunci pembuka jalan kehidupan. Seandainya kita tidak pernah  memiliki kesungguhan untuk mendapatkan sesuatu, maka jalan menuju kepadanya akan tertutup. Namun, tak lama pintu dan jalur menuju tersebut akan terbuka di saat seseorang memiliki kesungguhan diri terhadapnya. Semacam rahasia alamiah, jalan menuju akan terbuka lebar dan jelas bagi siapa pun yang memiliki kesungguhan yang kuat. Selain itu, kesungguhan hati juga dapat menciptakan jalan otomatis bagi si empunya. Menguatkan langkah dan keyakinan serta harapan. Bahwa, keberhasilan sudah ada di depan mata, dan akan tercapai dengan penuh kepastian.
    Bila kita tidak kembali saat sulit, maka kita mendapatkan hal-hal yang manis. Tentu, bertahan saat yang sulit bukanlah perkarah yang mudah. Di dalamnya ada keletihan dan pengorbanan. Tetapi, keyakinan kita bahwa sejauh mana keletihan itu ada, sejauh itu yang kita capai dan dapatkan akan sangat membantu langkah kita. Termasuk juga keyakinan, bahwa kesungguhan tak hanya mendekatkan kita terhadap tujuan, namun tujuan juga akan berusaha mendekati diri kita. Apa yang masih tertutup, akan terbuka. Begitulah keyakinan ini harus ditanam kuat-kuat di dalam diri kita.
    Beberapa orang rela untuk mengorbankan segalanya untuk mendapatkan segalanya. Dan beberapa orang yang kurang waras mengharapkan tanpa mau membayar uang muka untuk tersebut. Yaitu, kesungguhan dan pengrobanan. Kita tidak akan pernah merasakan panas jika tidak ada api, kalau begitu bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan jika memberi saja tak mau ia lakukan.

    Sebuah tujuan bagaikana jalan terjal dan tanjankan. Ketika kita berhenti, ada kemungkinan kita akan mundur ke belakang. Namun, jika perjalanan terus diarahkan dan digerakkan, bukanlah suatu kemustahilan jika apa yang terasa berat untuk dapat dicapai. Jangalah mengambil ‘jarak’ antara kesungguhan dan keberlangsungan dalam melakukan untuk mencapai impian. Ambillah jarak mengapa kita membatasi diri kita sendiri dengan pikiran. 

    740 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *