Ternyata Menikah itu Tak Mudah

    Menikah adalah bagian dari sunnatullah, ia menyempurna dari keagaan diri kita sebagai seorang
    muslim. Andaikan kita mau mengakui, ternyata menikah itu tak hanya tentang
    bagaimana menikmati hidup, namun bagaimana kehidupan itu senantiasa beriringan
    dengan tantangan. Kita akan sadar kedua sisi ini sebagai kesatuan yang tak
    terpisahkan. Ibaratkan jalan, selalu tersedia sisi kanan dan sisi kiri. Tanpa sisi
    kiri, kita tak akan mengenal kanan. Tanpa perselisihan dan “batu” kehidupan,
    kita mungkin tak dapat menghargai lebih akan nikmat kehidupan.
    Para pemuda pada umumnya menganggap menikah itu indah,
    seakan tak ada rintangan berarti. Keindahan pernikahan merupak garis akhir dari
    kisah percintaan. Saat masih dalam masa ta’arufan
    pikiran terkadang melayang tak terkendali, sesaat setelah beberapa tahun
    menikah keadaan tak seperti yang dibayangkan. Terlalu banyak masalah yang
    datang bertubi-tubi. Dari dalam keluarga sendiri, keluarga pihak pasangan,
    tetangga dan masyarakat. Dan ini tak dapat dielakkan bagi kita siapa pun yang
    sudah berniat melepaskan masa lajanya, di saat menikah pasti nantinya ada batu
    menghadang.
    Di masa ini, menikah menjadi begitu mudah. Asal cocok dan
    sreg satu sama lain, maka pernikahan bisa dilangsungkan. Tinggal pamitan kepada
    kedua orang tua dan calon mertua, disetujui langsung ke pelaminan. Dari saking
    mudahnya, pernikahan yang hanya mengandalkan cinta semata berakibat penceraian
    yang tak terelakkan. Kehidupan keluarga yang tidak harmonis hingga anak-anak
    menjadi korban. Inilah yang menjadi perhatian kita bersama. Prinsipnya, kemudahan
    yang tanpak di mukan tak selalu tetap saat kesulitan datang. Boleh lah
    awal-awalnya menikah itu indah, namun akhirnya akan banyak masalah yang
    dihadapi.
    Beberapa sumber yang saya baca, disebutkan bahwa nanti anak,
    dan istri bisa menjadi musuh bagi diri kita. Khususnya saat kelak di hari
    akhir, ketika yaumul ba’s. Setiap anak
    akan menuntut kepada orang tuanya, seorang istri akan menuntut haknya kepada
    suaminya. Maka, sungguh ironi sekali bila di zaman sekarang menganggap enteng masalah pernikahan. Dan ini perlu
    mendapatkan pertimbangan tersendiri.
    Oleh sebab ini, menikah itu jangan melihat dari tampang,
    kekayaan, apalagi karena perhatian yang diberikan oleh calon yang kita yakini
    sebagai pasangan hidup. ingat, kita akan hidup bersama pasangan bukan perkara
    1-2 tahun, kita akan hidup bersamanya, mendampinginya sampai kematian datang
    menghampiri hidup. sebuah perjalanan yang panjang dan cukup menyita banyak
    waktu dan energi. Perjalanan kehidupan dari proses alami setiap insan dari kita
    semua.
    Kriteria pasangan hidup perlu menjadi pertimbangan,
    khususnya terkait sifat dirinya. Yang utama semisal seorang pasangan harus
    paham dan mumpuni agamanya, ia tahu
    hukum agama, ilmu yang berkaitan dengan agama. Karena dengan begitu, akan
    mendorong kehidupan kekeluargaan nantinya untuk melaksanakan
    kewajiban-kewajiban keagamaannya, dan mencegahnya dari apa yang terlarang
    untuknya. Ada semacam petunjuk untuk kehidupan yang lebih baik dari sisi agama
    yang kemudian berdampak ke sisi baik pada dunianya.
    Ingatlah Sabda Nabi,Nikahilah
    seorang perempuan karena empat perkara; karena kekayaannya, karena nasabnya,
    karena kecantikannya, karena agamanya. Dan pilihlah ‘karena’ agamanya, maka
    kamu akan beruntung.” Dengan memilih perempuan yang baik agamanya, akan dapat
    menenangkan hati menjadi tentram. Dia akan aman menjaga kehormatan dirinya,
    kekayaannya.
    Dan bagi perempuan, tidak boleh serta merta menerima
    pinangan dari seorang lelaki sampai ia mengetahui sejauh mana kebaikan
    akhlaqnya dan agamanya. Karena dengan begitu, akan dapat meminimalisir dari
    perpecahan keluarga hanya gara-gara memilih lelaki yang kurang tepat untuk
    keluarganya dan untuk anak keturunannya.

    890 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Ternyata Menikah itu Tak Mudah”

    1. yaap setuju Agha 🙂 karena sifat manusia itu cenderung tidak mudah diubah alias permanen maka selain faktor agama, akhlak juga perlu diketahui lebih mendalam. intinya sih akidah ibadah dan akhlaknya paling gak berada dalam satu garis lurus

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *