Teman Duduk Menentukan Nasib

    Ini
    sebuah kisah tentang anak dunia, yang terlahir kurang bisa menerima keadaan
    dirinya. Sayang kepada orang lain mungkin akan terasa mudah, namun untuk
    menyayangi dan mencintai diri sendirilah yang akan terasa sulit. Segaris dengan
    ini, sebenarnya “manusia itu serakah ya!” Bayangkan, HP dua sudah dimiliki, eh
    malah ingin punya tiga. Punya pacar, eh malah diselingkuhin. “Dasar!” Sekali
    lagi “Memang dasar!”
    Kekonyolan
    pertama, saat seorang teman mencari dirinya yang hilang. Katanya “Mau
    diletakkan mana wajahku”. “Ya letakkan di mana saja bro!”, celetuk temannya.
    Maksudnya, mengapa harus malu! Setiap orang itu sudah ada kadarnya. Teringat,
    saat itu ia tak percaya diri akan dirinya. Memang sih, tanpaknya parasnya
    pas-pasan, tapi sebenarnya dia itu dikenal sebagai seorang yang pintar bin
    cerdas. Karena merasa sudah titik nadzir tak ada seorang cewek yang mau
    mendekat, makanya pada suatu kesempatan ia mencoba duduk di sebelah temannya
    yang cakep banget.
    “Hai!”
    sapa seorang cewek yang sedang berjalan di hadapannya.
    “Hai
    juga”, timpal si muka pas-pasan.
    “ih
    pede, GR lagi!, siapa juga yang nyapa lo!” kata cewek dari kejauhan.
    Saat
    itu kebetulan ada dosen lewat, dan melihat kejadian itu. Ia tersenyum. Sejak
    itulah, karena merasa dipermalukan sama cewek, akhirnya ia ogah-ogahan lagi
    duduk bersama temannya yang cakep. “cakep memang membawa petaka ya, setidaknya
    kepada orang lain yang di sampingnya.” Itulah hasil renungannya, ia tak bisa
    menerima perlakuan itu, ia berjanji untuk mencari cara agar bisa “mencintai
    dirinya”.
    Pilihan
    terakhir ia putuskan untuk mencari temannya yang tak sempurna secara fisik.
    Duduklah ia di samping teman tersebut, tepat di depan kelas pas jam
    kuliah kosong. Lima menit berlalu, ia masih saja berbicara. Tak seorang pun
    menyapanya. 30 menit kemudian, datanglah seorang teman, ya cewek lah. Ia ngga
    menyapa, cuma berdiri dari agak jauh dari mereka berdua sambil berdiri
    bengong. Tatapannya yang sinis tanpak jelas di matanya. Lalu pergilah cewek
    tersebut.  
    “alhamdulillah,
    dengan begini ada otot-otot syukur yang ada di diriku. Aku heran, mengapa
    temanku itu saat dilihat sinis oleh seorang cewek malah tersenyum-senyum”. Lelaki
    itu terheran, ia merenung, dari dua teman yang pernah ia duduk di sampingnya. Lebih
    baik memilih menjadi seseorang yang mencintai dirinya sendiri dan dicintai
    orang lain. Temannya yang cakep mungkin memiliki banyak fans, banyak cinta dari
    orang lain. Namun, tak ada yang menjamin ia bisa mencintai dirinya sendiri. Tentu
    saja, ini konyol. Di luar dari perkiraan dan pemikiran.
    Sementara,
    teman yang tak memiliki tangan gara-gara diamputasi menjadikannya sadar. Ia
    sadar, ternyata ada orang yang bisa menerima atas segala takdir. Ia tersenyum,
    tak sakit hati saat orang lain menyakitinya. Karena itulah, senyumannya telah
    memikat orang lain merasa nyaman dengannya. Merasa kagum dengan keterbatasan
    dirinya.
    Maka,
    kekonyolan yang sebenarnya saat kita mampu menertawakan diri kita sendiri.
    Bukan karena keterbatasan, atau apa pun alasan yang membuat kita tak menerima
    diri. Kekonyolan hanya ada pada mereka yang tak mau bersyukur atas segala yang
    ada. Atas dirinya yang sempurna, atas waktu yang diberikan oleh-Nya dan atas
    segala nikmat-nikmat-Nya.  Semangat
    kawan, ada keajiban di setiap kau mencintai dirimu sendiri.

    490
    Words.

    884 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    6 tanggapan untuk “Teman Duduk Menentukan Nasib”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *