baru2

Tanggung-Jawab

    Bahagia merupakan impian setiap orang, dari yang muda sampai yang tua sekali pun. Dengan kebahagiaan, sesuatu yang mudah akan terasa indah. Yang berat pun akan terasa ringan. Itulah kekuatan bahagia, ia menjadi daya tarik bagi setiap orang. Dari itu semua, sudah lazim sekali mengingat kebahagian adalah kebutuhan dasar, yang mau tak mau manusia sanggup mengorbankan apa pun untuk meraih kebahagian.

    Bahagia adalah urusan masing-masing pribadi, ada yang mengira kebahagian kan didapatkan dengan materi, dengan uang yang banyak atau dengan apa pun. Namun, jelasnya kebahagian berbeda pada masing-masing orang, yang satu memandang demikian, yang lain memandang bahwa kebahagian adalah kesederhanaan. Jadi, tidak ada definisi patent mengenai kebahagian itu sendiri, seperti tidak ada jalan pantas yang tepat untuk meraih kebahagian.
    Kawan, tanggungjawab ternyata tak hanya menyangkut kehidupan dalam rumah tangga oleh ayah kepada keluarganya, atau kepala sekolah kepada sekolah di mana ia menjabat. Atau, pemerintah terhadap masyarakatnya. Tanggungjawab juga terhadap diri sendiri merupakan tanggungjawab yang lebih besar dari yang lainnya. Parahnya, tanggungjawab yang diajarkan oleh bangsa ini adalah tanggungjawab yang hanya menyalahkan orang lain, tanpa menimpalnya untuk bertanggungjawab. Misalnya saja, saat anak kecil menjatuhkan perabotan rumah tangga semisal gelas, lantas tanggungjawab orang tua hanya ‘memarahinya’, bukannya seharusnya ia tidak memarahi namun memberi tanggungjawab agar anak mampu bersikap dengan semua tersebut. Dari situlah, awal dari mengapa anak yang terus menerus tidak memiliki rasa tanggungjawab.
    Di saat seseorang bertanggungjawab, ia menjadikan dirinya sebagai diri yang baik. Melihat segala persoalan dari kaca mata sendiri, sehingga tidak serta merta menyalahkan orang lain jika terpaksa terjadi kekacauan. Ia bertanggungjawab sepenuhnya bahwa kekacauan terletak pada dirinya sendiri. Dengan bertanggungjawab itulah maka kemudian seseorang akan meraih kebahagian. Yaitu, bertanggungjawab sepenuhnya kepada dirinya sendiri setelah mengakui bahwa itu semua adalah tanggungjawab yang semestinya diembannya.  Dan secara tidak langsung pula, ia akan belajar memperbaiki diri, meningkatkan kemampuan dan merasakan kebahagian.
    Bahagia karena dirinya telah mampu menyelesaikan tanggungjawabnya, memberikan apa yang menjadi tuntutan lingkungannya yang menekan pada dirinya. Terkadang, tekanan lingkungan yang berlebihan dan dipandang dengan berlebihan pula yang mendatangkan ketidakbahagian. Karena itulah, sudah saatnya tanggungjawab ditegakkan dengan cukup bijaksana.
    Ah, itu hanyalah urusan resmi dan kegiatan yang formal saja. Sekecil apa pun suatu perbuatan, sebesar apa pun suatu kegiatan, tanpanya tidak akan berarti apa-apa. Bertanggungjawab juga tidak berarti mendatangkan tekanan pada diri-sendiri, justru dengan begitu tekanan pada diri sendiri akan berkurang. Tidak percaya? Semisal ketika Anda sedang kuliah, dan anda tidak merasa bertanggungjawab atas tugas kelompok yang diberikan oleh dosen Anda. Maka, saat tugas anda mendekati hari-H, yang akan terjadi anda akan semakin tertekan dengan tugas anda, “jangan-jangan pekerjaan dosen masih belum selesai dikerjakan teman-teman”. Aduh, bagaimana ini. Dan seterusnya.

    Lalu, bagaimana menjadi manusia yang bertanggungjawab. Ia adalah hasil proses dari adanya kesadaran diri, dan rasionalisasi diri. Jika Anda bekerja hanya mengandalkan perasaan Anda, anda akan mudah menganggap sepela pekerjaan, Anda akan mudah bersikap semena-mena dengan pekerjaan Anda. Namun, justru dengan tanggungjawab itulah yang menjadi pelengkap bagi Anda dalam menyikapi pekerjaan. 

    218 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *