Tangga demi Tangga

    Hei, apakah kamu sudah mengaku memiliki tujuan dan memperjuangkannya? Nah, di sini kamu akan bisa mengetahui siapakah yang menipumu bahwa mereka memiliki tujuan atau tidak. Orang yang bertujuan, berarti mereka yang sadar bahwa apa pun yang besar dilalui dengan berbuat terhadap yang kecil-kecil. Kemajuan dibuat langkah demi langkah. Setiap bangunan di kota, dibangun gedung demi gedung. Hingga berbentuk kota yang indah.

    Jika satu tangga terlewati, ingat selalu “tangga berikutnya”. Jangan tergesa-gesa segera melangkah dari tangga ke-31 menuju ke tangga ke-100. Kamu pikir ini main ular tangga. Oh my good! Bukan ini maksudnya, kamu perlu bertahap untuk sampai ke mana pun. Tak ada yang sekali jalan, jreng.. jreng..sampailah di suatu tempat.
    Melihat ke tangga berikutnya akan tampak bukan sebagai beban, jika kamu sudah mampu melihat dengan jelas tangga terakhirmu dan seberapa banyak tangga yang telah kamu lewati. Memandang seberapa banyak anak buah tangga yang “akan” segera dilewati akan mengurangi energimu bila saja kamu tidak menempatkannya sebagai tantangan ekspresimu untuk maju.
    Misalnya juga kamu ingin menulis, kamu harus berfikir paragraph berikutnya. Bukannya malah berfikiran lembar berikutnya, bab berikutnya atau buku berikutnya. Yang kau sadari adalah apa yang nampak di depan mata, jangan terlalu menatap jauh ke angkasa sana, jika saja tak pernah kau tatap “langkah berikutnya”. Otomatis dan pasti, hal inilah yang akan menuntunmu ke arah yang lebih baik, membuatmu semakin betah dengan menulis.
    Jika kamu tetap memaksa diri untuk mencapai tujuan akhir sesegera mungkin, jangan salahkan aku jika kamu akan mudah frustadi, mudah putus asa. Minatmu pada tujuanmu semakin meleleh tak karuan. Karena minat itu sendiri, semakin bertambah saat kamu menegaskan pada dirimu bahwa “aku berhasil melewati satu tangga”. Horre!! Berhasil, berhasil..
    Satu tangga, adalah peluang untuk langkah berikutnya. Meluangkan peluang yang ada akan menghambat untuk meraih kesempatan melangkah ke tangga berikutnya. Langkah yang sedang dilalui dimaksimalkan, agar beberapa anak tangga berikutnya lebih berkesempatan untuk kamu lalui. Setiap pertandingan bagi pemain sepak bola.
    Jadi begini, segeralah kamu melangkah ke tujuan akhirmu dengan membagi setiap jejak langkah yang kan kamu torehkan sebagai sejarah dari keseluruhan waktumu.  Membuat tujuan besar, menjadi lebih sederhana. Artinya, tujuan besar dibagi menjadi tujuan-tujuan kecil. Terlepas, apakah tujuan itu penting atau tidak. Yang penting, apakah tujuan itu tetap membawamu atau membantumu ke arah tujuan akhirmu.
    Terkadang, banyak orang menyepelekan hal kecil. Padahal, dari hal kecil yang dikerjakan secara mengalir akan lebih berpengaruh daripada loncatan besar yang hanya bertahan beberapa saat saja. Tapi, kecil-kecil yang dapat membawamu ke arah tangga berikutnya demi tujuan utama.
    Pernah kah kamu bayangkan, bagaimana orang kaya bisa mengumpulkang uang demi uang. Sedikit demi sedikit. Dan itu, membutuhkan menit demi menit. Jam demi jam, hari demi hari. Bahka tahun demi tahun. Kebiasaan yang membantumu itu dibangun hari demi hari, tidak bisa kamu langsung bisa memiliki kebiasaan baru.
    Karena hal yang besar membutuhkan hal kecil yang disatukan, maka hal kecil untuk menjadi besar juga membutuhkan keseriusanmu untuk terus mengupayakan agar hal kecil tersebut terus tumbuh dan berkelanjutan.

    566 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *