Tak Perlu Bertujuan, Terarah Harus Dong!

    Keberatanku
    pertama mengenai motivasi adalah “hidup itu harus bermimpi” yang tak bermimpi
    jadinya tak disebut hidup. karena hidup tak bertujuan, adalah hidup tak layak
    untuk dijalankan. Dalam teori motivasi, semakin tujuan spesifik, tentu ia akan
    semakin termotivasi. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah benar demikian? Padahal,
    di dalam al-Qur’an tak boleh mengharap imbalan dari usaha kita, kita hanya
    bertujuan untuk sesuatu secara umum saja, tidak terlalu spesifik. “Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan
    manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (Allah),”
    Adz-Dzariyat; 56. Jadi, inti dari tujuan hidup adalah
    ibadah, tidak untuk mencapai kekayaan, menempuh S3 di tempat yang diinginkan
    dan sebagainya.
    Iya,
    hidup itu lebih penting “terarah” dibanding harus “bertujuan”. Walau pun,
    dengan adanya tujuan bisa mengarahkan, namun sayangnya itu “terbatas”  mengarah kepada tujuan (yang terbatas oleh
    pikiran). Nah, dalam penekanan keterarahan tak mementingkan tujuan hidup,
    melainkan kepada “proses” keterarahan. Sehingga, hasilnya nantinya bisa
    melebihi dari apa yang diperkirakan. Sebagaimana kita ketahui, tujuan tak
    selalu bisa diprediksikan, namun relaif melebihi atau kurang. Jadi, daripada
    memaksakan tujuan harus tercapai, lebih baik mengarahkan hidup di jalan yang
    terarah.
    Tapi kita
    kan tidak tahu, apakah langkah yang telah kita lakukan sudah terarah atau
    tidak? Kan tidak ada ukuran atau kriteria? Apakah berdasarkan tujuan, kalau
    tanpa tujuan kita tak tahu apakah langkah kita melenceng dari jalannya? Oh tidak
    begitu, jalan terarah berarti pantas dikatakan berjalan, pantas dikatakan
    mensyukuri dengan apa yang sudah dimiliki, pantas dikatakan sabar, pantas untuk
    disanggupi oleh diri sendiri.
    Berjalan
    itu artinya tidak diam, harus ada sesuatu yang dilakukan agar kehidupan
    berjalan seimbang. Apa yang terjadi, bila matahari berhenti menyinari.  So, inilah yang dimaksud berjalan. Yaitu,
    tidak perlu lompatan quantum namun begitu peduli untuk terus-menerus berproses.
    Lebih baik perubahan 1% setiap hari dan konsisten, dibanging perubahan 1000%
    namun hanya sekali saja. Dengan konsistensi seperti ini, hasilnya justru
    melebihi dari target yang telah dipasang oleh mereka yang mengatakan tujuan
    hidup itu penting. Seseorang yang bertujuan, seringkali tergantung pada
    tujuannya, termotivasi karenanya, dan putus asa karenanya. Orang yang terarah,
    bergantung sepenuhnya kepada proses, melakukan apa yang harus dilakukan.
    Berikutnya
    adalah pantas dikatakan bersyukur. Orang yang dhalim merupakan mereka yang tak
    bersyukur, kedholiman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Memaksimalkan
    apa yang dimiliki dari potensi diri yang sudah dimiliki salah satu bentuk dari
    syukur. Konsisten juga dikatakan bersyukur. Bersyukur juga bisa diungkap dengan
    kesenangan dalam berproses, menikmati setiap proses dengan penuh kebahagiaan,
    tidak terpaksa melakukannya, tidak mamaksakan diri namun ikhlas murni karena
    bersyukur kepada Allah atas kesempatan yang ada.
    Yang pantas
    dikatakan sebagai sabar adalah yang bangkit saat keterpurukan, tak terbawa oleh
    pikiran dan kekacauan perasaan akibat besarnya rintangan. Dan berusaha untuk
    terus tersenyum menatap rintangan yang sedang menghadang. Bersabar juga bisa
    dikatakan berkomitmen, sulit atau tidak tetap dihadapi. Beresiko atau tidak,
    langkah harus tetap berjalan. Artinya, enak atau tidak yang dirasakan nantinya
    sepenuhnya selalu akan dihadapi dengan kegembiraan.
    Terakhir,
    hidup yang terarah berarti hidup yang sanggup dijalani. Maksudnya, ada
    keyakinan di dalam diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Keyakinan ini
    banyak membantu dalam bersyukur, dan bersabar. Bila semua ini telah jelas bagi
    kita, mari kita jangan sekali-kali mendahului takdir ilahi, merencanakan hidup
    yang sebenarnya telah direncanakan oleh Allah. Kita hanya menjalani dan
    mengalir sesuai dengan aliran yang ditunjukkan oleh-Nya. Sehebat dan sekeras
    apa pun langkah kita, ia tak akan pernah melampaui setengah dari takdir ilahi.

    1,050 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    7 tanggapan untuk “Tak Perlu Bertujuan, Terarah Harus Dong!”

    1. wahhhhh, keren juga.
      eh lupa, samlekum 🙂

      kalo hidup terarah cenderung kita memperhatikan langkah kita dengan benar,
      kalo bertujuan, kadang kita salah melangkah demi untuk mencapai tujuan. apalagi tujuannya cukup mustahil.
      *pengalaman 😀

    2. ah… masih muda begini udah dipanggil bapak..
      jangan terlalu jujur lah.. malu sama tetangga sebelah.. huhahaha

      terimakasih kalau sudah senang membaca, semoga mengispirasi ya…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *