Sudut Pandang

“Jangan sampai kita mengorbankan yang sebenarnya penting hanya karena kita membencinya—tidak menyukainya”

Seberapa seringkah kita dikendalikan oleh kesenangan dibandingkan yang seharusnya dikerjakan? Beberapa hal yang menyenangkan benar-benar tidak penting bagi kita, dan beberapa yang penting seringkali adalah sesuatu yang tidak kita senangi.

Sebagai mahasiswa akhir, sebut saja namanya Madun. Ia masih sama saja, tak ada bedanya. Baik itu di semester lima dan semester akhir. Hobinya yang melancong terlampau mencuat di dalam dirinya. “Bro, jalan-jalan yuk!”. Ia pun ikut. Proposal skripsi tergeletak tak karuan di pojokan kasur. Sebelumnya, ia benar-benar menatap layar laptop dengan penuh kesabaran. Tak ada guna, toh akhirnya ia kegoda “jalan-jalan”. Deadline besok untuk revisi proposal ia tunda. Padahal, proposal tersebut menyangkut masa depannya.

Kira-kira apa yang terjadi bila lebih memperturutkan mood dibanding dengan keharusan? Bila mood tiada, maka tak penting. Ditinggalkanlah hal itu. Akibatnya, ia baru kemudian menyadari nilainya setelah teman-temannya diwisuda sementara ia duduk merana di kantin kampus.

Di dalam menerima informasi, seringkali kita memperlakukan demikian. Yang disenangi mendapatkan perhatian penuh, yang ingin dipercaya mendapatkan kepercayaan. Sedangkan yang tak disukai, akan dibiarkan, tak dikelola, dilupakan dan sirna oleh waktu.

Sebenarnya, tindakan yang kita ambil berawal dari pengalaman yang “dimaknai”. Makna itu mustahil tercapai tanpa keberadaan kesadaran (awareness) di pusat ke dalam diri. Walhasil, kebosanan yang melumpuhkan pikirannya benar-benar membuang informasi yang sebenarnya penting. Bila tak dianggap penting, maka tak perlu menaruh minat atau perhatian. Di sinilah ketimpangan berawal. Penyaringan informasi yang sebelah. Korupsi informasi dengan mengambil informasi yang disenangi saja.

Bagaimana kita bertindak diawali dari sebuah kesimpulan-kesimpulan bermakna tersebut. Terutama, yang dialami masa lalu. Kesimpulan pada masa lalu yang salah membuat mereka benar-benar salah menginterpretasikannya menjadi perilaku nyata.

“Peristiwa dan pembelajaran masa lalu menciptakan pola persepsi kita.

Sesekali, kita perlu keluar sejenak dari pola yang sudah terbentuk. Melihat hal baru di ruang itu. Kemudian, menciptakan kemungkinan persepsi baru”. Kebanyakan seseorang bergerak dalam pola yang sama. Maka cara baru dibutuhkan sebatas mendapatkan hasil yang baru.

Menciptakan pola pikir baru—persepsi baru—sehingga memiliki sudut pandang yang benar-benar baru. Sejauh itu, pola ikut memberi corak tersendiri pada sikap. Sikap akan melahirkan perilaku. “Marc Salem”, pakar dalam kekuatan pikiran dan ahli bahasa non-verbal menyatakan, “beberapa informasi yang kita terima ada yang ditindaklanjuti, ada yang tidak. Beberapa yang diterima juga sebagian ada yang diabaikan begitu saja. Jika seseorang mau menyadari, nyatanya informasi itu sebanarnya masuk ke pikiran dan berdampak”.

Ia menambahkan, “Seseorang tampaknya lebih suka menaruh perhatian pada aspek yang mereka harapakan. Atau aspek yang menguatkan apa yang telah diketahui dan dipercayai sebelumnya”. Kecenderungan ini yang menutup mata dari dunia luar, dari hal baru dan kreativitas.

Lalu, bagaimana agar dapat mengendalikan “persepsi kita”? Membacalah, belajarlah, dan didiklah diri sendiri. Ketiganya kunci yang menjadikan kita lebih peka lingkungan—sebagian orang menyebutnya “Sosialis—dan mengubah persepsi. Dalam realita sosial itu sendiri, persepsi kita seringkali diwarnai oleh asumsi dan harapan yang salah. Dan pernyataan ini sekaligus menjawab, “Mengapa pendidikan penting?” “Mengapa juga perlu menulis jurnal pribadi?”

Jurnal akan menjadikan individu memikirkan kembali pengalaman yang telah lewat. Denganya, ia akan mengecek kembali kesimpulan yang diyakini akan pengalaman itu. Akan memahami lebih dalam, dan tentu menjadikannya lebih berarti—bermakna. Makna akan dicapai oleh sudut pandang yang dihadirkan secara komprehensif. Tidak dari satu atau dua sudut pandang saja.

Sumenep, 22.09.2016
Algazel Ma’roef | www.makruf.com

3,469 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Similar Category Post

Diterbitkan oleh

algazel ma'ruf

Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

3 tanggapan untuk “Sudut Pandang”

  1. beberapa informasi yang kita terima ada yang ditindaklanjuti, ada yang tidak. Beberapa yang diterima juga sebagian ada yang diabaikan begitu saja. Jika seseorang mau menyadari, nyatanya informasi itu sebanarnya masuk ke pikiran dan berdampak

    —> benar sekali. Jadi, tergantung kitanya sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *