Sudut Pandang Mengenai Skripsi

    Si
    A merupakan mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di perguruan tinggi tertentu.
    Sebagai mahasiswa ia dikenal sebagai sosok yang rajin. Orangnya pendiam, tak
    banyak bicara dan lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Sayangnya, saat ada
    tugas selalu telat, alias tak menentu. Menyelesaikan tugas masalah dalam
    semalam. Satu sisi kelebihan A, memiliki otak encer.
    Si
    B tak terlalu memiliki kemampuan yang menonjol. Terutama dalam segi kualitas
    pikiran. Ia berbeda dengan si A, walau pun kondisinya demikian ia tetap
    semangat. Ia buktikan saat mendapatkan tugas dari dosen langsung dikerjakan. Tak
    menunggu waktu besok dan nanti. Rupanya, si B bergerak lebih cepat dibanding si
    A.

    Keduanya
    memiliki hal yang bertolak belakang. Si A lebih mengedepankan pikiran,
    sedangkan si B lebih mengutamakan “perilaku”. Di samping masing-masing memiliki
    kelebihannya masing-masing, tetapi perlu disadari mereka juga memiliki
    kekurangan. Si A bisa kita identifikasikan sebagai kepribadian yang introvert,
    dan si B kepribadian ekstrovert. Berdasarkan beberapa refrensi yang ada,
    si A biasanya cenderung mudah stress, memiliki prokrastinasi yang lebih tinggi.
    Berbeda dengan si B, yang tanpaknya memang lebih cepat “bergerak” tapi
    sayangnya tidak didukung oleh pikiran.

    Berbicara
    skripsi, berbicara bagaimana nasib para mahasiswa akhir. Ada banyak sikap yang
    ditampilkan oleh mereka, deng perilaku yang tanpak kasat mata. Mulai menunda
    revisian skripsi, sampai ada yang tak sabar untuk segera menyelesaikannya. Ini merupakan
    sebagian sebab internal mengapa skripsi menjadi momok bagi sebagian orang. Sedangkan
    dari sisi eksternal juga memiliki pengaruh yang menjadi sumber masalah. Misalnya:
    kesibukan kerjaan, persiapan pernikahan, dan banyak lainnya.
    Pemaparan
    ini bukan berarti tak dapat dibantah, karena letak permasalahan sebenarnya ada
    pada diri mereka masing-masing. Masalah adalah suatu hal yang wajar-wajar saja,
    hampir semua yang bernilai didahului oleh sebuah pengorbanan, ada rintangan dan
    cobaan. Semakin bernilai sesuatunya, semakin banyak pengorbanan dan perjuangan
    yang dibutuhkan. Begitulah dengan skripsi, ia juga sesuatu yang bernilai, dan
    tentunya dibutuhkan pengorbanan dan perjuangan.
    Skripsi
    merupakan syarat mendapatkan tanda kelulusan belajar di tingkat sarjana. Beberapa
    orang yang memandang demikian, pada umumnya terjebak dalam aktivitas penelitian
    yang melelahkan. Skripsi tidak lagi menjadi gairah pribadi, melainkan menjadi
    momok yang mencekam dan menakutkan. Lexy Moleong berkata, bahwa sekali kau
    merasakan nikmatnya skripsi, sekali itu saja kau akan semakin ketagihan
    dengannya. “perluaslah sudut pandang”, maka skripsi memberikan banyak tawaran
    keindahan yang harus diambil darinya.
    Misalnya,
    jangan sesekali menganggap skripsi adalah kewajiban yang membebankan. Santai saja,
    anggap saja ia sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya, dengan
    skripsi berarti saya telah memberi manfaat kepada masa depan dengan memberikan
    sumbangsih pemikiran. Jangan mau skripsi kita hanya dipajang di rak buku
    perpustakaan, tapi lebih dari itu semoga bisa menjadi inspirasi bagi para
    pembacanya. Seburuk-buruknya karya tulis, pasti ada yang membacanya, dan juga
    tentunya pasti juga ada yang diam-diam memanfaatkannya. Buktinya, mana mungkin
    seseorang tahu itu karya yang buruk, kalau tidak membaca.

    Resep
    agar skripsi tak menjadi beban dan selesai sesuai kealamiahannya ialah adanya
    keseimbangan. Mengapa alamiah, karena skripsi juga membutuhkan waktu, tidak
    bisa asal selesai dalam waktu sebulan. Kalau dipaksakan ia akan terlahir “prematur”,
    menjadi karya yang kurang baik. tapi jangan telat, karena sekali ditunda untuk
    menyelesaikannya, akan ada beban yang bertambah penghambat gerak kita ke
    depannya. Keseimbangan yang dimaksudkan ialah keseimbangan “pikiran”, “perkataan”
    dan “amal perbuatan”.

    Konsep
    “keseimbangan” ini saya pelajari dari Made Ade, seorang seniman patung Pulau
    Dewata. Menurutnya, karya seni yang berkarisma tidak cukup dihasilkan melalui “kerja
    keras”, dan “kerja cerdas”. Lebih dari itu, diperlukan keseimbangan pikiran,
    perkataan dan amal perbuatan pada sebuah “nilai kebaikan”.  Landasi setiap langkah dengan niat baik,
    pikiran baik, perkataan yang baik dan tentunya diimbangi dengan perbuatan yang
    baik pula. Di sinilah, keseimbangan kebaikan di dalam tiga lingkup memberikan
    pengaruh pada kualitas suatu karya. Menggarap skripsi bisa diumpamakan
    menghasilkan suatu “karya” yang berkhariswa melalui tiga elemen tadi.
    Lalu
    bagaimana bila koreksian dari dosen masih terus banyak coretan sana-sini? Bila itu
    terjadi, menyalahkan diri sendiri atau pun menyalahkan dosen adalah hal yang
    kurang begitu dapat merubah kondisi skripsi tersebut. Penerimaan akan koreksian
    dosen pada skripsi menjadi lebih penting dan utama. Karena dengan begitu akan
    memberikan kekuatan bagi diri untuk merubahnya. Dosen tak menghendaki kamu
    langsung menjadi orang hebat dalam skripsimu, ia hanya membutuhkan perbedaan
    yang lebih baik dari waktu-ke waktu antara skripsi sebelum dan setelah
    dikoreksi. Selamat berjuang!

    1,755 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Sudut Pandang Mengenai Skripsi”

    1. Wah, Mas Agha udah lama ngga mampir ke sini hehehe. Halo! Lagi sibuk skripsi atau persiapan skripsi nih, Mas? Semoga saja setelah membaca tulisan ini, skripsi-ku lancar jaya dan dijauhkan dari keluhan-keluhan tidak penting dan sibuk menyalahkan dosen karena sibuk ngasih revisian terus. Hehehe.

    2. Lagi skripsi ya? sama! Baca ini berasa disindir, skripsiku masih ku skip di bab 3. Tapi minggu depan insya Allah bakal ku lanjutin lagi.
      Semangat ya! semoga sama2 lancar 😀 Btw, salam kenal

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *