Spion Mobilmu

    Dibutuhkan kejujuran saat kamu ingin semua hal bisa berubah. Seperti kejujuran untuk melihat spion samping mobilmu di bagian samping. Dengan jujur melihat spion itu, kamu bisa melihat kendaraan yang berada di belakangmu, sehingga antisipasimu jika terjadi mobil yang akan mendahului. Sehingga, kamu bisa seimbang ke mana harus menghadap ke arah depan, dan melihat sesekali ke arah belakang.
    Begitu pun masa dirimu, kamu memiliki masa depan dan juga masa lalu. Dengan masa lalumu, kamu bisa melihat apa yang telah dihasilkan dan dirasakan pada masa sekarang. Terhadap masa depanmu, kamu tidak bisa merasakannya, karena ia masih belum terjadi. Kamu hanya bisa berharap itu benar-benar terjadi. Dan tentunya, karena masa depanmu lebih berpotensi peluang yang lebar untuk dirubah, jangalah terlalu khusyu’ melihat masa lalumu yang kelam.
    Bersihkanlah pandanganmu, sehingga masa depanmu terlihat dengan sangat jelas. Dan buramkanlah masa lalumu, sehingga kamu hanya bisa melihat sebagiannya saja. Mempelajari dari masa lalu, untuk asas ke masa depan. Masa yang akan segera kamu hadapi. Masa lalumu adalah peta yang mengantarkanmu pada apa yang telah kamu ‘rasakan sekarang’. Alih-alih melupakannya, masa lalu juga penting adanya.
    Cukup ambil pelajaran berharga darinya, bukan menyesali mengapa ini terjadi. Kok harus ‘aku’, kok bukan harus kamu. Menerima masa lalu apa adanya, karena ia sudah kokoh untuk dirubah, hanya bisa merubah bagaimana agar ia datang kembali pada kesempatan yang akan datang. Dan itu memerlukan keberanian yang cukup.
    Apa yang akan terjadi, jika kamu hanya fokus kepada kaca cermin yang mengarah ke arah belakang pada kaca spion motormu. Kamu bisa menabrak apa yang berada di depannya. Sebaliknya, terhadap apa yang ada di depan jangan terlalu merasa nikmat, hingga lupa melihat ke arah belakang. Bisa-bisa ditabrak oleh motor dari arah belakang.
    Analogi ini jelas mengingatkanmu agar jangan larut pada masa lalumu, karena itu membuatmu lupa terhadap masa depanmu, lupa apa yang harus lakukan untuk masa depanmu. Baik itu masa lalu yang baik, atau yang buruk. Terlalu bermesraan pada masa lalu, membuatmu enggan untuk berusaha lebih di masa depanmu, karena kamu terlalu merasa bangga terhadap apa yang sudah dicapai. Begitupun masa lalu, kamu akan tersedot tenaganya untuk melihat masa depanmu. Baiknya, cukup ambil pelajaran berharga dari masa lalumu. Tapi jangan hanya bisa fokus ke arah depanmu, bisa-bisa kamu akan terjatuh ke lembah yang sama.
    Untuk itu, perbesarlah masa depanmu, dan terhadap masa lalumu kau cincang menjadi bagian-bagian kecil. Agar kamu ga terlalu trauma terhadap masa lalu. Cukup, perkecil bagaimana memandang kegagalan yang pernah kamu alami. Dan perbesar pandangan terhadap masa depanmu, karena itulah kesempatanmu untuk membuktikan bahwa keterbatan bukanlah penghambat, bahwa kegagalan bukanlah kegagalan nyata.

    Tapi  ingat, bahwa masa lalu dan masa depan bukanlah alat utama mengapa kamu harus sukses di masamu. Lebih dari itu, jangan pernah kau remehkan hal terkecil dari masa sekarang. Masa sekaranglah yang menghantarkanmu belajar dari yang lalu untuk segera melewati yang akan datang. Sekaranglah yang menentukan segalanya di masa sekarang. Jadi, jangan coba-coba untuk lupa pada diri sendiri, ada apa yang sedang dihadapi.  

    585 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *