kerja-keras

Sikapmu dan Dirimu

    Pendengeran
    ini tak mendengar, kecuali pada sikap. Sikap itu tak terdengar, tanpa pertemuan
    dalam kehidupan. Baik pertemuan mata, telinga dan informasi. Lisan dikalahkan,
    tidak lagi berfungsi atau berguna bagi telinga. Kenyataan yang terdengar ini,
    karena disebabkan ketidaksesuaian antara sikap dan lisan. Arah sikap menuju ke
    sesuatu, sedangkan sikapnya justru membelakangi. Lalu apa lagi yang bisa
    dibanggakan dengan banyak berlisan, tanpa disertai perilaku yang baik?
    wanitawanita.com

    Tegasnya,
    diri kita itu diwakilkan oleh sikap kita; sikap yang menimbulkan perilaku. Dari
    sini, kepercayaan orang lain terbangun. Oleh sebab ini pulalah, keburukan akan
    terhapuskan—stigma negatif akan terbangun seiring waktu. Bila tak sanggup menghapus
    masa kelam, maka tetaplah pertahankan dirimu dalam berupaya sebaik mungkin
    sesuatu yang memang baik—apa yang seharusnya dilakukan.

    “Kita”
    lah yaitu identitas kita sebagai tanda pengenal. “Nama” itulah kita, sikap
    itulah nama identitas. Tanpa identitas, ketidakjelasan menjadi hal yang wajib. Semakin
    jelas sikap kita, seorang yang di sana akan menjadi semakin kenal dan mengerti
    siapakah sesungguhnya diri kita. Dari mengenal, timbullah rasa nyaman, dari
    nyaman mencuatlah kepercayaan, dan akhirnya memberikan rasa kasih sayang dalam
    kemanusiaan.
    Semua
    keinginan bisa diusahakan dengan perantara “sikap”. Lihatlah dalam al-Qur’an,
    bahwa semua bentuk hasil diperoleh hanya melalui “usaha”, sementara hasil
    berada pada kekuasaan Allah. Sangat mustahil 
    basah tanpa air, hasil tanpa usaha. Ini adalah alam dunia, bukan alam
    mimpi apalagi alam sihir. Hanya mereka yang mau berusaha, akan mendapatkan
    sesuatunya. Yakinlah! Yang tanpak diperoleh dengan sesuatu yang tanpak.
    Misalnya,
    krisis cinta menjadi masalah pelik akhir di zaman ini. Musik genre ‘galau’
    meramaikan musik di dunia ini. Sebagai pelampiasan, musik seperti justru
    mengokohkan perasaan galau di dalam jiwa. Nah, saat mau bersikap yang baru dan
    tentunya juga ‘baik’, fokusnya akan berubah. Sehingga, galau akan sirna seiring
    waktu. Beginilah, sikap menjawab krisis cinta. Termasuk untuk dicintai oleh
    orang lain, seseorang akan lebih tertarik kepada “sikap” yang menjadi perilaku
    di dalam dirinya. Lihatlah, banyak berpecahan akibat sikap yang tak baik, yang
    juga merupakan sifat dari dirinya.
    Selanjutnya,
    masalah yang lain semisal penerimaan diri juga dapat terjawab malalui sikap. Komponen
    ini menitik beratkan kepada hubungan terhadap orang lain, sebagaimana orang
    lain pada umumnya cenderung menyukai kepada kebaikan. Dan, membenci dari segala
    bentuk keburukan. Pernyataan ini dilandaskan kepada diri manusia itu, dengan
    fitrah di dalam jiwanya sebagai unsur di dalam jiwanya. Selain juga ada unsur
    yang merendahkan dirinya dengan ‘keburukan-keburukan’.
    Karena
    sikap pula, Rasulullah sukses menebar risalahnya. Akhlakul karimah yang beliau
    contohkan sudah tentu adalah yang baik, yang membawa kepada kebaikan pula.
    Sungguh, Islam itu indah dengan melihat sikap rasulullah (akhlak) sehingga
    mampu menjadi obat dari setiap permasalahan hidup di dunia ini. maka dapat
    disimpulan dari ini semua, sikap terbaik untuk diperankan dalam hidup ini
    sesuai dengan sikap hidup Rasulullah.

    Mari,
    mulailah dari sekarang malakukan dan adakan percobaan. Untuk membuktikan bahwa
    Islam datang untuk menyelesaikan masalah kehidupan, nabi Muhammad datang untuk
    memberikan tuntunan dalam hidup ini. sehingga, kita menjadi semakin yakin dan
    lebih yakin lagi. 
    MG. Ma’ruf (18 Juli 2014)

    168 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    14 tanggapan untuk “Sikapmu dan Dirimu”

    1. berat ya bahasanya -_-
      tapi terkadang saat kita berprilaku baik dan sudah bisa membangun kepercayaan orang orang disekitar kita, maka semua kebaikan itu bisa hilang dengan 1 kesalahan.
      intinya ya selalu berusaha menjadi yang terbaik

    2. bener bang, sikap juga berhubungan ukhuwah sesama manusia.. :3

      btw, musik juga berpengaruh besar bagi pikiran, saya sarankan bagi temen-temen yang galau tapi mau mendengarkan musik, mendingan mendenganrkan "NASYID" insyaAllah galaunya terobati dengan nilai postif. Beberapa lagu dari edcoustic, maidany cocok tuh untuk kegalauan

    3. wah, kata katamu selalu berbobot Gha..mengingatkan gue akan Moti yang juga suka postinga masalah kayak begini..oh ya coba deh Gha, kamu browsing Dr. Zakir Naik di youtube…aku aja amzed bangettt sama dia yang bisa jawab sgala pertanyaan soal Al Quran dan jawab pertanyaan dari para Atheis…kamu pasti suka!

    4. Haloo Agha lama ga main sini, minal aidzin walfaidzin yaa

      Sekali lagi emg aku akui gaya tulisanmu ini beda, bonot tulisannya tinggi, butuh lama utk mencernanya

      Ngmg2 emg bner sih semua itu hrs seimbang, jgn sampai banyak bicara tapi sikap kita malah amburadul. Kalo diibaratkan kyk tong kosong nyaring bunyinya. So, mst banyak bljr dari Alquran jg

    5. Kunjungan balik, nih 🙂
      iya bener, tulisannya agak berat, ya. btw isinya bagus, kok. memang akhlaqul karimah sesuai sunnah Rasulullah akan membawa kebaikan dunia akhirat. insya Allah..

      keep writing ^_^

    6. Mas Ma'ruf… udah lama saya tidak main-main kesini. Gimana kabarnya? Baik ya.. hehe

      Tulisannya, seperti biasa, sarat akan makna, sarat akan pemahaman-pemahaman yang baik. Bahkan tiap-tiap paragrafnya ada minimal satu nasehat yang sangat powerful, seperti mustahil basah tanpa air, begitu juga berhasil tanpa usaha.. Lalu buat apa banyak menunjukkan dengan lisan, kalau apa yang dilakukan tak seperti yg dikatakan..

      ah, nice post kak..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *