Seolah Apapun Telah Tiada

    “Kamu boleh menunda memulai
    segala apa pun, atau menunda untuk mengakhirinya. Akan tetapi, kau tak boleh
    mengawalinya kesemuanya tersebut sejak saat ini.
    (Agha Ma’ruf)
    Kepekaan jemarimu, saat kamu sedang menghadapi suasana mati
    lampu. Karena kau tak menemukan cahaya lagi, tak bisa mengandalkan indera
    penglihatanmu. Bila keadaan begini, masihkah mengandalkan penglihatan sebagai
    satu-satu pengarahmu kepada langkah. Dalam penundaan pun demikian, cara
    mengakhirinya tak cukup melawannya, namun perlu mendatangkan kebalikannya
    sebagaimana lazimnya pengetahuan kita. Hadirkan yang sebaliknya akan dapat
    mengubahnya.
    Untuk menghilangkan panas, maka hadirkan dingin. Untuk dapat
    menghapuskan kesedihan, hadirkanlah kebahagiaan. Secara berjenjang, sedikit
    demi sedikit maka tercapailah tujuan akhir. Suatu ketika, kamu mungkin frustasi
    akibat sikap menunda yang masih bercokong di dalam jiwa. Untuk menghilangkan
    ini, kamu perlu melakukan sebaliknya secara diam-diam, cuma-Cuma tanpa
    dipikirkan maupun dirasakan. Artinya, melakukannya dengan otomatis.
    Prosesnya seperti air yang pekat dengan warna kehitamannya,
    maka kau tak kan mampu langsung menghilangkan warnanya tersebut sekaligus.
    Perlu ada proses berlahan mendatangkan air putih ke dalamnya sehingga warna
    hitam tersebut sedikit demi sedikit keluar. Teruslah melakukan segala
    sesuatunya “hari ini”, harus ada yang “dilakukan” hari ini, waktu ini.
    Pertahankanlah sikap yang demikian, hingga akhirnya ada perasaan tak nyaman
    bila tidak melakukan yang demikian.
    Bila ada tugas dari dosen, bagilah tugasmu menjadi tugas
    harian, atau tugas per-jam. Dengan membiasakan seperti ini beban untuk
    menyelesaikan pekerjaan sebagai salah satu penyebab mengapa kamu menunda dapat
    terkurangkan. Ingat, “harus ada yang dilakukan” agar kehidupan berjalan
    seimbang. Tak perlu melawan sikap menunda sekaligus, namun berusahalah agar
    setiap waktu sikap demikian dilawan sedikit demi sedikit.
    Untuk mewujudkan proses yang demikian, tentu pertama yang
    terbenak di dalam diri adalah menyadari bagaimana ketiadaan waktu sangat
    dirasakan dampaknya. Menunggu waktu kosong sebenarnya tak akan pernah bisa
    dicapai. Karena biasanya waktu luang itu selalu menuntut dengan hal yang lain. jadi,
    menunggu tibanya waktu yang paling pas melakukan sesuatu berarti menunggu
    sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
    Setiap detik waktu yang tertunda sebenarnya menguatkan rasa
    keenggenan memulai sesuatu dan menyelesaikannya tepat waktu. Dan sebaliknya,
    setiap detik waktu yang digunakan secara baik dan maksimal, maka ia akan mampu
    menjadikanmu semakin ketagihan melakukan sesuatu dan diakhiri dengan baik. So,
    waktu itu tergantung penggunaannya. Bila baik penggunaannya setengah awalnya,
    maka seterusnya akan baik. Jika tidak, maka buruklah sampai akhirnya.
    Entah mengapa, sesuatu menjadi lebih berharga saat ia tak
    lagi menjadi milik kita, ia menghilang dan pergi. Tetapi saat kehadirannya
    seringkali dikecewakan, kepergiannya dicari dan dirindukan. Daripada terlena
    dalam dunia ketidakbersyukuran akan keadaannya, lebih baik merasa tak
    memilikinya. Merasalah seolah waktumu sudah tiada lagi, kamu benar-benar dalam
    keadaan yang tak sedikit waktu pun tersedia bagimu.  Jangan pernah meranggapan ada waktu lagi
    selain waktu saat ini, hari ini.
    Bila ada pikiran yang mengatakan, “udahlah! Pekerjaan kerjakan nanti saja.” Janganlah beri kesempatan
    baginya, mengindahkannya menjadi lebih wajib daripada kau mendengarkannya yang
    justru merusak waktumu. Lakukan sekarang juga dan di sini, atau kamu tak akan
    pernah bisa dan memiliki kesempatan yang sama untuk melakukannya.

    685 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    5 tanggapan untuk “Seolah Apapun Telah Tiada”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *