“Sensitif” dalam Penggunaan Waktu

    “Demi
    Waktu, sungguh manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali, mereka
    yang beriman dan beramal kebaikan. Terhadap kebaikan, saling mengingatkan,
    terhadap kesabaran saling mendzikirkan.”
    Susunan
    bata-bata yang membangun rumah, mengingatku pada keteraturan waktu. Bata
    tertata begitu rapi, sehingga berhasil membangun kemegahan rumah. Di samping
    itu, waktu tersusun dengan teratur. Berdetak dengan dentangan yang teratur.
    Bila jaraknya satu detik, maka satu detik. Satu hari menjadi 24 jam. Tidak
    pernah langsung meloncat dari jam 2 langsung ke jam 3. Tidak mengatur waktu,
    berarti menyalahi kodrat waktu. Salah kaprah bila membangatkan waktu tanpa
    pikir.
    Dalam
    al-jawabul kafi Ibnu Qayyim mengatakan:
    “….waktu
    itu secepat perjalanan awan. Maka, barang siapa waktunya semata untuk Allah dan
    senantiasa berada di jalan-Nya, maka waktu itu menjadi napas dan umurnya….”
    selanjutnya ia menambahkan, “….dan apabila menghabiskan waktunya dalam
    kelalaian dan angan-angan, maka kematian lebih berhak untuknya.”
    Bila
    sepintas mau memperhatikan orang-orang yang sukses, dapat disimpulkan dari
    mereka semua tidak berleha-leha dalam pemanfaatan waktu. Lihatlah etos kerja
    orang cina, yang begitu ketatnya menggunakan waktu. Bila Anda berkunjung ke
    negeri singapura, kau pasti terpana bagaimana masyarakatnya menggunakan waktu
    dengan baik.
    Maka
    dapat disimpulkan, waktu ialah kesempatan. Kesempatan melekat dalam waktu.
    Sebagaimana petuah beliau, untuk itu mengurai waktu menjadi semakin penting
    kedudukan. Setelah jelas-jelas memaknai arti ‘waktu’. Banyak yang tidak sadar
    akan makna ini, sehingga tak satu pun yang benar-benar memanfaatkannya dengan
    baik.
    Waktu
    kecil, urusan sepele. Dan bila terhamburkan, itu sama halnya dengan membuang
    kesempatan-kesempatan yang ada. Susahnya membuat perilaku kita sadar untuk
    memanfaatkan potensi kecil namun berpotensi besar. Kesempatan yang kecil, dapat
    membuat perbedaan yang sangat berarti.
    Padahal,
    dalam ketidakmanfaatan mengenai peluang atau kesempatan membangkitkan lamunan.
    Di dalamnya; membuat masalah semakin bersamasalah, atau sebaliknya,
    menjadikannya sebagai berkah. Tinggal bagaimana menyikapinya. Mengapa bisa?
    Karena seringkali kita menciptakan keraguan, kekhawatiran dan ketakutan oleh
    diri kita sendiri; ada semacam dramatisasi masalah.
    Karena
    waktu, ia bisa menjadi tombak dari kematian kita. karena waktu, ia bisa menjadi
    pegas yang melontarkan kita kepada kesuksesan. Maka, mewaktukan penghabisan
    waktu, bisa menyadarkan kita akan waktu. Seberapa lamakah Anda makan, sebarapa
    lamakah Anda tidur, sebarapa lamakah Anda kumpul-kumpul untuk membahas hal-hal
    yang tidak penting.
    Mengingat
    pentingya waktu, Nabi Muhammad bersabda; “Ada dua nikmat, di mana banyak orang
    tertipu dengan keduanya: nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari).
    Sayangnya,
    ada yang mengandalkan mood untuk waktu. Tidak mood, ya tidak bekerja. Tidak
    memanfaatkannya dengan baik. Bila begini, apa boleh dikata. Malulah pada lukman
    al-hakim yang mengatakan, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok
    sebelum fajar, sementara kau tidur pulas hingga matahari terbit”.

    555 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *