Seni dalam Hidup

    Mungkin
    ini terjadi pada beberapa orang, kata ‘mati’ menjadi alergi di dalam dirinya. Pemahaman
    ini menjurus kepada pemahaman makna kehidupan. “Sejatinya seni kematian adalah konsekuensi
    dari seni kehidupan”, tutur Mahatma Gandhi seorang revolusioner India. Dari
    jenis manusia apa pun dengan kualitasnya masing-masing cepat atau lambat akan
    menghadapinya. Sehebat apa pun pribadinya, sekuat apapun. “kematian” fitrah
    alamiah dari kehidupan.
    Hidup menegaskan
    kematian, ini bukan berarti memahami hidup tak melulu memahami kematian. Keindahan
    hidup mencerminkan kesanggupan dalam menjalaninya dengan kualitas tertentu. Setidaknya,
    beginilah John Dewey penganut aliran pragmatis meyakini. Bahwa dalam puncak
    kualitas pengalaman, di situlah berdiri sebuah keindahan—seni. Pengalaman manifestasi
    dari hidup yang berjalan dalam kenyataan ‘kesungguhan’.
    Tapi gebrakan
    hidup yang berseni tanpaknya menimbulkan keberatan-keberatan. Utamanya, setiap
    individu akan menilai proposisi ini berdasarkan atas kualitas masing-masing. “Bukankah
    hidup itu ladang dari setiap permasalahan.”
    Kenyataan berbicara demikian,
    tak seorang pun diri dunia ini bila ditanyakan orang perorangan bahwa ia lolos
    dari jeratan hidup—sekecil apapun bentuknya. Orang yang berkecukupan, nyatanya ‘menjerit’
    tak tentram dengan jiwanya. Beberapa yang lain, mereka dengan keberadaan yang
    pas-pasan juga terkadang merasa tak nyaman.
    hidup
    berseni berarti hidup untuk yang sebenarnya. Dalam kualitasnya, hidup
    memberikan pemahaman untuk dijalani apa adanya dengan kesungguhan hati. Tentu,
    yang menjadi penting bukan pada hidup itu sendiri, melainkan pada “seni”
    kehidupan. Mengenai hal ini, keselarasan menjadi begitu urgen, yang acapkali lengah
    dari perhatian bersama. Tapi pada dasarnya kita semua sama, kecenderungan
    hedonism tetap saja bercokol di dalam diri. Sebagai fitrah ‘unsur’ kebinatang.
    Ketika Stephen
    Popper, seorang filsuf mengomentari Reclining figure karya Henry Moore,
    ada banyak hal yang perlu kita renungkan akan arti seni. Hasil karya pahatan
    ini menunjukkan seorang yang sedang bersandar. Dalam bukunya The Aer
    Appreciation
    filsuf asal Amerika itu mengatakan:
    “Tampak
    sekali bahwa Reclining Figure-nya bukan patung seorang wanita yang terbuat dari
    kayu, melainkan sebuah balok kayu yang dengan pengarahan tertentu dibentuk
    sesuai dengan pola seorang wanita yang sedang bersandar.  Sesungguhnya hal tersebut merupakan hasil
    penggarapan berdasarkan perasaan terhadap sebuah balok kayu dengan inti masalah
    seorang wanita.”
    Seorang
    seniman sekaliber Henry tak berarti berani mengungkapkan bahwa pahatannya
    disebut ‘seni’. Dari sini tanpak, seni itu sebagaimana diyakini kaum materialis
    terletak pada subjektfitas. Bukan menurut aliran lain—kaum idealis—seni terletak
    pada objek itu sendiri.  Apa yang tanpak,
    dan ungkapan akanya adalah potret pribadi masing-masing. Menjalani seni
    kehidupan caranya dengan tak terpenjara oleh penginderaan.
    Kehidupan
    itu sebenarnya hanyalah ilusi. Seni kehidupan berarti seni ilusi, yang
    kebenarannya masih tergantung pada subjektivitas. Bukan kualitas dari objek itu
    sendiri. Kenyataan yang tanpak rupa-rupanya bukan esensi dari wujud aslinya. Bila
    terlalu terpedaya oleh objek, berarti kita terpedaya dari keterbatasan
    penginderaan kita. Di sini, akal berperan dan meluruskan kembali esensi objek.
    Terhadap
    objek ‘masalah hidup’ sebaiknya dipandang secara selaras. Sebagaimana objek
    lain seperti ‘kesenangan kehidupan’. Apa yang membuat senang dalam hidup
    terletak pada seni, dan keindahan. Dalam versi yang lain, esensi seni tidak
    terlihat dalam wujudnya. Namun lebih kepada makna dan nilai yang tercangkup di
    baliknya. Masalah memang tak akan henti, karena alasan itu kita tak boleh
    berhenti melihat apa di balik masalah. Termasuk makna bagi diri kita
    masing-masing.  
    Setiap detik
    hdiup selalu menyisakan makna, dan perlu disadari di sana ada aruh yang lebih
    penting dari sekedar perubahan. Yaitu ‘bentuk’ yang terbentuk oleh pencapaian
    keseimbangan yang mantap. Meskipun masih terdapat gerak dan maju di dalamnya. Perubahan
    sesungguhnya tak dibentuk oleh sesuatu yang dari luar. Hubungan yang terbentuk
    dari interaksi ke interaksi yang lain menimbulkan perubahan. Dan tentu saja,
    interaksi harus selaras dan adanya kekuataan yang saling berlawanan.

    Jadi,
    seni kehidupan gambaran dari keseimbangan. Yaitu, keselarasan antara hubungan
    antar pribadi dengan lingkungannya, dan juga adanya kekuataan yang saling
    berlawanan agar terwujudlah sebuah bentuk. Wujudnya semacam identitas dan
    kepribadian, yang jauh melampaui dari sekedar “perubahan”. Meskipun perubahan
    selalu lebih baik, namun bila tak memiliki bentuk—karakter—tak akan banyak
    berguna. 

    1,205 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    3 tanggapan untuk “Seni dalam Hidup”

    1. inspirasi banget tulisan agha,,,salut deh ama tulisan2mu,,,eh agha,,mau tanya nih,,,disetiap postingan mengapa nggak dikasih gambar ya…???kasih ilustrasi gambar mungkin lebih hidup nih tulisan 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *