Self acception

    “tidak ada seorang pun yang bisa membuatmu merasa lemah, tidak berdaya dan inferior tanpa persetujuan dirimu sendiri” (Eleanor Roosevelt).

    Seringkali kita tertipu dengan apa yang tampak dari mata, dengan apa yang abstrak dan yang tidak tampak. Yang tampak misalnya, kita meyakini bahwa yang tampak itu lah yang benar. Padahal, itu belum tentu nyata adanya. Mengingat, ada banyak faktor perubahan yang mempengaruhinya. Untuk berubah seseorang memerlukan penerimaan dirinya sendiri, sehingga ia mengetahui posisi dirinya dan bagaimana seharusnya melangkah untuk selanjutnya.
    Penerimaan diri berarti ketika seseorang merasa nyaman dengan dirinya, bahagia dengan keberadaan dirinya sendiri saat sekarang. Yang berarti juga, mencintai dan mempercayai diri apa adanya. Dengan begitu, semangat kedirian tidak selalu identik dengan keegoisan. Karena, dengan menerima diri seseorang akan mampu menyeimbangkan antara diri dan lingkungan.
    Jika kamu memiliki masalah dengan pekerjaan, semisal dalam hal ini adalah suka menunda-nunda. Besar kemungkinan kamu masih memiliki perasaan ketidak puasaan terhadap dirimu sendiri, terhadap usaha yang telah kamu kerahkan. Padahal, kepuasan itu datang dari dirimu sendiri, di saat kamu menerima hasil pekerjaanmu, dan menerima bahwa semuanya tidak berubah langsung secara sempurna.
    Lalu, saat menerima diri kamu memerlukan kejujuran hati seutuhnya yang bermuara dari hati terdalam. Menerima bahwa di mana ketidaksempurnaan, di situlah terdapat kesempurnaan. Di mana ada waktu sekarang, di situ akan ada waktu kemaren dan esok hari. Semua perbedaan adalah keunikan yang membantumu menuju perubahan. Tidak ada manusia yang paling tidak sempurna sekali pun tanpa dibekali oleh Tuhan dengan hal Keistimewaan di sisi yang lain.
    Kejujuran berarti tanpa terpengaruh oleh apa yang dikatakan oleh orang lain kepadamu, atau apa yang kamu yakini tentangmu. Kejujuran berasal dari hati, melihat diri dengan realitas yang ada. Di saat kamu goyah dengan pendapat orang lain, maka saat itulah kamu tidak dapat menerima diri, alis, kamu belum bisa menerima diri apa adanya.
    Individu yang menerima diri dengan jujur, tidak mengkritik berlebihan kepada diri sendiri, dan tidak terlalu memuji kepada diri sendiri adalah pribadi yang jujur. Dengan begitu, kejujuran akan menghadirkan kebahagian, bahagian menerima diri apa adanya. Dan kebahagian tidak edentik dengan pujian atau celaan. Ia berdiri sendiri tanpa terpengaruhi oleh keduanya.

    905 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *