Sehari Tanpa Gadget

    Ketergantungan
    kita kepada gadget tampaknya sama dengan ketergantungan kita kepada  ilmu ghaib. Mereka yang bergantung kepadanya,
    diseyogyakan akan tak menjadi manusia jadul. 
    Tak mengherankan, bila masyarakat kita (khususnya remaja dan kaum elit)
    menjalani hari-hari bersama gadget. Seolah merasa, gadget adalah dirinya. Dan dirinya
    adalah gadget. Tinggal klik semua informasi ditemukan, semua relasi
    tersambungkan dan semua kemudahan ditawarkan. Lalu apa artinya hidup?
    Apakah
    kehidupan yang serba instan menjanjikan kenyamanan? Bila bagaimanakah kehidupan
    terasa lebih nyaman? Tentu, semua kenangan masa lalu kita terletak bagaimana
    perjuangan kita. dari titik nol (zero) menjadi titik kemenangan (hero).
    Saya
    memang teringat dengan anak muda pengais ilmu di pondok pesantren beberapa
    tahun lalu. Saat media sosial menjamur dan mulai ‘mau’ eksis, ternyata anak
    muda pesantren tak kalah eksis. Salah persepsi; saya kira mereka menjadi korban
    ketertinggalan teknologi. Mereka berfikir kreatif, membuat mading semisal
    facebook untuk bisa facebook-an. Up date status dengan kertas yang sudah
    disedikan, dan ditempel seperti kertas to do list di papan pengumuman. Namun,
    ini semua tentu terbatas.
    Bisakah
    hidup sehari tanpa gadget? Bagi mereka yang bergantung dan hidup berkat gadget,
    maka tentu tidak bisa. Kecuali, mereka yang tak bergantung kepadanya. Jadi,
    ramalah ini tentu betul, bahwa datang suatu zaman di mana sesuatu yang bukan
    Tuhan diagungkan. Saya bertanya-tanya, mereka tidak mengagungkan gadget, hanya
    bergantung padanya. “ah sama saja, bergantung pada gadget berarti tak
    percaya kepada Tuhan”.
    Lah kok? Kecuali bergantung kepada usaha dan tidak
    sepenuhnya kepada gadget itu.
    Cara
    terbaik menghilangkan ketergantungan ini; gadget, seperti kebanyaka persepsi
    orang hanyalah “pengisi waktu luang” dibanding benar-benar memanfaatkan waktu sebaik
    mungkin. Waktu menjadi terbuang. Selanjutnya, sadari berapa banyak waktu yang
    terbuang karenanya.
    Hakekat
    manusia haus akan kebaruan, setiap ada tipe gadget terbaru, di situlah manusia
    memburu. Hidup serasa membosankan. Lagi-lagi, karena pandangan yang tak “ter-up-date
    pada kehidupan. Akhirnya, mempersepsikan kehidupan dengan wajah baru, memberi
    kebaruan perasaan yang menggantikan gadget. Sama seperti uang, life without
    money is nothing, but money is not everything
    . Begitulah dengan gadget, “dia
    bukanlah segala-galanya”.
    Kesimpulannya,
    sehari tanpa gadget bisa dilakukan asalkan menyadari “seberapa pentingkah
    gadget kehidupan” dibandingkan dengan “seberapa banyakkah waktu yang terbuang
    karenanya; update status tak jelas, dan lain-lain”. Padahal, ada hal yang mesti
    dilakukan. Ada hal yang lebih penting darinya. Seperti diungkapkan Mas Iwan
    Fals, “Hidup itu harus bergerak dan berbuah”.  
    Dan
    ini, dalam falsafah islam dikatakan, “taharaak fainna filharakati barokatun”
    bergeraklah, karena dalam gerakan terdapat berkah. Bertemu orang dalam dunia
    sosial tentu tak seefektif dengan bertemu langsung dengan tatap muka. Ada nuansa
    berbeda. Sekian..
    *TulisanIni Ikutan GA Keren Sehari tanpa Gadget di Blog Keajaiban Senyuman lhooo…

    951 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    19 tanggapan untuk “Sehari Tanpa Gadget”

    1. baru rencana mau ikut GA ini juga menjelang deadline.. masih bisa kan? sehari tanpa gadget… why not.. tergantung emang sama individu yang tak bergantung sama gadget pasti bisa… kreatif yahh teman-temannya di pondok

    2. Sebenarnya bisa bisa aja sih sehari tanpa gadget.
      Kalo hape rusak misalnya, mau gak mau kan pasti ga nge-gadget sampe beberapa hari ya masih sehat-sehat aja kok.
      Kita benar-benar terbuai sama kemudahan.

    3. aku bisa loh empat hari tanpa gadget waktu dipondokin kampus, tapi suer rasanya hampa banget, apa lagi kalo waktu istirahat g ada kerjaan dan udah mulai bosan untuk berbincang, rasanya tangan gatel pengen mencet-mencet layar gadget.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *