Sayangi Anak dengan Sewajarnya

     Anak merupakan pemberian Allah  yang sangat menyenangkan bagi diri orang tua. Ia adalah rejeki yang tiada bandingnya, kebahagian orang tua akannya mengalahkan dari semua kebahagiaan yang didapatkan dari bekerja atau apa pun. Mengingat, anak merupakan segala-galanya dan penerus bagi dirinya.

    Kasih-orang tua terhadap anak muncul setelah ia terlahirkan ke dunia ini. Awalnya pasutri saling kasih mengasihi, namun akhirnya kasih sayangnya akan terpecah dan lebih berfokus pada mengasihi anaknya. Maka, tak jarang pula terkadang orang tua ‘cemburu’ terhadap anaknya sendiri; misalnya kurang diperhatikan oleh istri. Walau pun demikian, ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Cinta orang tua adalah cinta murni, tak mengharapkan apa-apa kecuali yang terbaik bagi anaknya.
    Sayangnya, ‘berlebihan’ mencinta-kasih sayangi anak kurang begitu baik bagi perkembangan anak. Sewajarnya sajalah dalam mencintai anak, karena dunia anak adalah dunia eksplorasi, belajar apa pun dan segala apa pun. Ia ingin bebas belajar apa pun, maka jangan melindungi secara berlebihan sehingga anak sedikit sekali memiliki ‘kesempatan’ guna belajar dengan gayanya sendiri.
    Harry Firestone mengatakan, “ketika Anda memberikan yang terbaik kepada orang lain, maka Anda akan mendapatkan yang terbaik darinya.”  Dengan memberikan pendidikan kemandirian bagi anak, akan sangat bermanfaat bagi pertumbuh-kembangan anak kelak ketika dewasa. Namun ingat, anak butuh kasih sayang yang sewajarnya, dan jangan ditinggal seolah-olah dicuekin begitu saja. Luangkanlah waktu untuknya, sesibuk apa pun.
    Kenyataan yang ada, beberapa kasus seperti Remaja membunuh ibunya sendiri; anak terjerat kasus narkoba, dan terlibat dalam pelanggaran kriminalitas dan banyak lagi brutalisme kenakalan anak remaja. Bila saja mau menilik jauh ke dalam masa lalu mereka, maka didapatkan rata-rata di dalam keluarganya anak permasalahan cukup serius, semisal pertengkaran orang tua di depan anak, orang tua kurang memberikan waktu dan perhatian kepada anak, anak dibiarkan terlalu bebas dan sebagainya.
    Akibatnya, siapakah yang mau disalahkan dengan semua insiden fenomena kenakalan remaja. Orang tua kah? Anak kah? Lingkungan di mana anak berada? Tidak arif sekali jika saling menyarahkan, mari benahi semua tanggungjawab masing-masing. Sebagai orang tua harusnya bagaimana? Dan seterusnya.
    Jangan tunda memberikan ‘pendidikan’ yang terbaik bagi anak demi perkembangan anak dewasa kelak. Menunda melakukan kebaikan, maka ia sebenarnya tidak akan pernah melakukannya sama-sekali. Awali dari hal yang kecil dan mudah serta sesegera mungkin.

    940 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *