376152628_249e3630c0

Sayang, Jangan Tinggalkan Aku Lagi ya

    Aku adalah
    seorang istri, dengan suami yang menjadi blogger akhir-akhir ini. Sudah sejak
    akhir 2013 ia sangat mesra dengan blognya. Biasanya aku disimpannya di dalam
    almari, terkadang diriku berdebu. Maklum, suamiku kadang sayang, kadang juga
    meninggalkanku. Di sisi lain, tentu sangat senang bisa mendapatkan sosok
    pujaanku. Kebahagiaan yang memuncak bersanding hidup bersamanya. Ia sangat
    perhatian sekali, menyampuliku dengan sampul plastik agar diriku terawat dan
    awet muda. Bahkan, ia tak segan memberikan stempel dengan namanya pada bagian
    dari tubuhku. Di muka, halaman pertama. Bertuliskan, “perpustakaan pribadi Agha
    El-Ma’ruf”, kemudian diikuti tulisan dibawahnya www.makruf.com. Ah! Suamiku memang takut sekali
    bila kehilanganku.

    makruf.com, the book, UIN Kediri, Menulis
    Flickr.com

    Dan sekarang,
    keadaan berbeda. Bukannya ia sadar akan sikapnya, justru semakin menjadi-jadi.
    Ia tak segan mencampakkanku. Kuputuskan ungkapan kekesalan hatiku langsung
    kepadanya. “Suamiku, akhir-akhir ini aku tak mampu lagi hidup bersamamu bila
    kau tak mau berubah. Seperti saat-saat di mana kita saling bertemu, jatuh cinta
    dan diteruskan dalam pelaminan. Ingatlah, saat kau berjanji akan hidup
    bersamaku selamanya sehidup-semati ketika kau menyadari kata ‘Iqra’’ di dalam
    al-Quran. Bukan kah itu yang membuatmu berterus terang dan memutuskan pilihan
    untuk melindungiku. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau masih
    menyimpan rasa untukku, atau kah rasa itu telah lusuh karenanya. Yang selalu
    menemani hari-harimu saat diriku tak ada. Jawablah dengan jujur, mengapa juga
    kamu selalu meninggalkanku seakan tak pernah merasa nyaman dengan kehadiranku
    dalam hidupmu”.
    “Wahai imamku, telah
    kau langgar janjimu untuk sehidup semati denganku. Pengabaian sering terjadi,
    bahkan sedikit waktu untukku tak pernah kau usahakan. Kau biarkan diriku tak
    terjamah di dalam almari, bahkan tak pernah kau buka sesuatu dari lembaranku,
    dari setiap halamanku, apalagi membaca paragraf demi paragraf dari isiku. Kau
    telah membiarkan diriku berdebu, padahal kau akan diminta tanggung jawabnya
    untuk menafkahiku lahir batin, tak hanya sekedar membuka sampulku, tetapi lebih
    dari itu. Yaitu, membaca setiap halaman dari diriku. Aku hanya menginginkan itu
    saja, ingin terus dimadu olehmu dengan cara kau memahamiku. Setiap bab akan
    menguatkanmu, meningkatkan akalmu dan memberimu harapan di masa depan. Lebih baik kau mengejaku sekarang juga,
    daripada kau mengeja kekalutan di masa depan karena kau tak pernah mesra
    denganku
    .” Lanjutan dari keluh kesahku padanya.
    Ku tak segan
    untuk melanjutkan keluh kesanku. “Sayangku, mengapa kau terdiam di depan laptop
    terus. Mendengarkan lagu, membaca
    tulisanmu di blog pribadimu. Sementara, membaca diriku saja kau enggan. Aku
    yakin, bila kau paksakan membaca tulisanmu saja di blogmu, tanpa membacaku maka
    blogmu tak ada artinya lagi bagi dirimu. Justru, berkat kehadiranku dalam
    hidupmu kau bisa menulis. membagikan pengalamanmu dan apa yang ingin kau
    sampaikan kepada dunia. Sehingga dunia tahu siapakah dirimu. “
    Bila kau
    keberatan untuk bersamaku sepanjang waktu, tak apalah. Aku hanya menitip
    harapan dan permintaan agar setiap selesai dari shalat-shalatmu agar segera
    bermesraan denganku. Dengan isi yang ada di dalamku, sehingga kau akan banyak
    belajar dan berkaca untuk memahami dirimu yang sebenarnya. Misalnya, setelah
    subuh aku cuma memintamu bukalah 10 lembar dari diriku, setelah dhuzur juga
    jumlahnya yang sama, begitu seterusnya setiap selesai shalat ashar, maghrib dan
    isya’. Setelah itu, aku tidak melarang dirimu untuk poligami dengan blogmu.
    “sayang,
    maafkanlah diriku karena telah membiarkanmu sendiri di dalam rak-rak. Maaf,
    sekali lagi minta maaf. Aku menyesal karena telah khianati janji kita, saat itu
    aku berjanji untuk menjamahmu sepanjang waktu, menghabiskan isimu di
    perpustakaan kampus.” Ungkapmu dengan nada menyesal.
    “iya, ngga apa-apa sayang. Sebesar
    keinsyafanmu, sebesar itu pula keberuntunganmu. Mulai saat ini, aku ngga marah kok kalau terpaksa duduk
    berduaan dengan blogmu. Aku justru merasa senang saat kau bersamaku,
    memahamiku, kemudian menuliskan pemahaman atas diriku di dalam setiap
    postingamu. Berilah warna pada dirinya berkat diriku melalu pemahanmu yang
    mendalam itu.” Ungkapku pada suamiku yang sudah sembunyi-sembunyi memadu si dia
    (blog). “
    ***
    Beberapa hari
    kemudian.
    Akhir-akhir ini suamiku
    sudah mulai memanjakanku. Aku senang, karena dia telah menjamahku dengan asyiknya. Aku
    lusuh, itu petanda diriku selalu dibaca olehnya. Coretan di setiap tubuhku, catatan
    di setiap space halamanku memberiku kenikmatan tersendiri. Aku merasa senang
    sekali dengan anugerah ini semua. Sungguh, tak bisa dilukiskan bagaimana
    kebahagianku saat bercinta dengan suami yang rajin.
    Sedikit demi
    sedikit aku akan memaksa suamiku untuk terus menerus menelaah diriku. Biarkan
    ia tak nakal dengan traveling yang menjadi selingkuhannya. Aku tak mau suamiku
    suka jalan-jalan, karena itu akan sangat berbahaya. Aku lebih setuju bila ia
    berjalan dalam dunia fantasi melalui diriku. Dengan kata yang tertata rapi di
    setiap kalimatnya.
    Seringnya ia
    merenggut keperawananku, pengetahuannya akan semakin luas. Ia sudah memiliki
    harapan untuk masa depannya. Semoga suamiku yang kucintai selalu dilindungi dari
    hal-hal yang menjauhkan dirinya dariku. Seperti, suka nonton tivi, suka jalan
    di pinggir sungai, suka ngobrol di warung kopi tanpa menyelipkan nilai diriku
    dalam pembicaraannya, suka bengong bahkan bersedih gulana. Aku tak mau itu
    semua terjadi.

    Akhirnya, aku
    dan dia hidup dengan damai dalam sebuah keluarga yang dipenuhi dengan kasih
    sayang. Kami pun belum dikarunia keturunan, mungkin di tahun 2014 kami sudah menerbitkannya
    di penerbit yang mau menerima naskah anak kami. Semoga saja, umur anakku terus
    hidup dalam hitungan tahun yang lama sekali. Yang tak mati di usia muda, atau
    pun mati diculik orang. Aku sangat tak mau dengan hal itu semua terjadi begitu
    saja di dalam keluargaku. Bagi kami, anak itu adalah anugerah yang sangat
    membahagiakan. Di sinilah bukti dari kejantanan seorang suami, di sinilah bukti
    dari kehidupanku sebagai buku yang menemaninya sepanjang waktu. Aku tak mandul,
    aku ingin segera memiliki anak karya yang lahir dari kehidupan kami berdua. 

    Saya @elmakroef mengikutsertakan “Buku”
    dalam Giveaway: Ketika Kami Berbicara yang diadakan oleh www.wamubutabi.blogspot.com

    280 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    30 tanggapan untuk “Sayang, Jangan Tinggalkan Aku Lagi ya”

    1. Ya ampun kak agha… Keren banget nih tulisannya. Terenyuh bacanya. Dan… baca istighfar juga. Aku juga saking keasyikan internet dan nulis, jadi jarang baca Quran. Masih tiap hari sih, tapi lembarannya yang nggak banyak 🙁

      Makasih kak udah disadarkan. Semoga bisa terus istiqomah antara bagi waktu dunia sama buat akhiratnya.

    2. Wah keren bang. Bener aku juga semakin jarang baca Al-Quran, padatnya aktivitas malah aku lupakan Al-Quran itu. Dulu masih sempat baca tiap habis solat, sekarang udah nggak lagi. Pengandaian dalam ceritanya keren bang (y)

    3. Masyaallah jleb banget Gha,
      awalnya aku kira apaan, ternyata menceritakan detail sebuah buku, bahkan ini Al-Qur'an. yang minta dijamah hanya 5x sehari sehabis sholat
      Ya Allah sebuah tamparan kepada diriki yg selalu asik berinternet ria sampai lupa kewajiban mengaji hikks
      moga menang ya Gha

    4. Aduh…keren n takjub banget. Gue nggak mengira sama sekali kalo itu Al-Quran. Gue kira awalnya ini curhatan istri yang suaminya suka selingkuh dan main judi. Tapi pas udah dibaca..JLEB, JLEB, JLEB, gue ngerasa tersindir. Istri gue apa kabar ya? Jarang banget gue baca 🙁

    5. Tapi ini bukan masalah al-Quran, ini tentang buku yang tak dibaca di lemari. Al-Quran kalau memakai pengandaian di atas sangat tidak pantas rasanya. “soalnya” ada kata-kata yang sensitif, kak…

      iya, mungkin ini bonus saja.. ternyata dengan tulisan yang sama, persepsi orang itu berbeda beda ya..

    6. ada dualisme di dalamnya kak.. ada yang ngira ini buku dan juga ada yang ngira ini al-Quran…

      ya.. yang penting memberi manfaat kepada kita semua lah..

    7. ya.. yang penting bisa membacanya lah walau pun cuma seayat setiap hari kemudian dipahami berkali-kali.. hehehe

      amin.. terimakasih banyak atas doanya..

    8. Duh, dulu sebelum punya modem, buku itu mahal banget dan mewah. Alhamdulillah setelah ada modem malah beroleh banyak bahan bacaan dan buku baru. Sayangnya hati belum ikhlas untuk kembali mengaji. Padahal sudah beberapa kali khatam Quran. 🙁

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *