Say! I Love My self

    Hidup itu perputaran, mereka yang di bawah
    bisa berada di atas. Dan ini berlaku untuk yang sebaliknya. Sayangnya, hidup
    itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Perputar itu kitalah yang menggerakkan. Mempercayai
    roda kehidupan pasti berputar itu tidak penting, lebih penting bahwa diri mampu
    memutar roda kehidupan itu sendiri. Dan demikian, kecintaan diri merupakan
    kunci penting untuk hal tersebut.
    Kamu hidup tidak sendiri, saat bangun dari
    tempat tidur, Kamu melihat dia bangun tidur. Bila bepergian ke sekolah, Kamu
    melihat dia berpergian ke sekolah. Dan saat Kamu gagal dalam ujian, Kamu lihat
    dia gagal dalam ujian. Namun, ia memberi kekuatan bagi diri Kamu. Ia yang
    membangkit diri Kamu, menyuruh Kamu bergerak dan tidak melupakan impian. Dan
    ternyata, dia seorang. Tak ada lagi yang mau peduli dengan diri Kamu kecuali
    dirinya. Dia sangat perhatian pada diri Kamu bila Kamu mencintai diri Kamu
    sendiri. Dia adalah diri Kamu.
    Nah, saat kecintan pada diri sendiri
    tumbuh, saat itulah roda kehidupan sebenarnya telah memulai berputar. Namun,
    bila kecintaan pada diri sendiri lenyap, satusa-tunya orang yang selalu
    menolong dan memotivasi Kamu juga akan hilang. Maka, sebelum ia pergi
    meninggalkan Kamu—yang berarti bila terjadi Kamu tidak suka pada diri Kamu—cintailah
    ia apa adanya. Berikanlah ia cinta tak terbatas dalam diri sanubari.
    Renungkanlah sejenak, kisah percintaan dari
    zaman klasik sampai zaman modern. Begitu dahsyatnya cinta bagi yang mencintai
    atau yang dicintai. Seseorang mampu melewati gunung padang pasir hanya
    gara-gara cinta. Atau, melakukan segalanya demi cinta (Just for Love). Cinta
    memang gila, bila tidak diposisi yang sebenarnya. Namun cinta, sangat penting
    bagi kekuatan alam semesta. Apa jadinya, cinta Kamu terhadap diri sendiri lebih
    besar dibanding cinta kepada orang yang dikasihi? Maka, tak ada lagi
    kekecewaan, berani memberi tantangan pada diri sendiri, berani gagal dan takut
    kalah. Alhasil, menunda akan lenyap dengan sendirinya. Karena dasarnya, menunda
    itu disebabkan karena takut terhadap objek yang akan dilakukan—semacam
    ketidakpercayaan bahwa masing-masing orang memiliki harapan.
    Mencintai diri sendiri memang dahsyat,
    membuat orang juga mencintai siapakah Kamu, benda mendekati diri Kamu karena
    hukum tarik menarik, waktu pun tak terbuang percuma. Namun tidak boleh salah
    paham, mencintai diri sendiri bukanlah keegoisan, apalagi merendahkan
    orang  lain. Bila memang mencinta diri
    sendiri, tidak perlulah untuk memamerkan diri; karena sejatinya orang yang pamer
    diri berarti tidak puas  terhadap diri
    sendiri, ingin agar dirinya diketahui oleh orang banyak. Ternyata, bagi orang
    yang telah mencintai diri sendiri, kepuasaan bathin telah terpenuhi. Tidak
    perlu susah payah pamer, cukup mensyukuri setiap apa yang sudah ada di dalam
    dirinya.
    Bila cintamu tak kunjung tumbuh, maka
    takutlah bila kamu tak mendapatkan cinta dari orang lain. Nah, untuk menggapai
    cinta itu perlu dilakukan beberapa langkah ke depan sehingga mendorongmu kepada
    suatu perubahan. Perubahan dari selalu menyecewakan diri sendiri, menjadi
    menghargai diri sendiri.
    Cinta yang sunyi selalu menyisakan kepada
    seribu kebaikan, cinta yang pamrih memberikan garis akhir pada penyesalan. Jatuh
    cinta pamrih, hadirkan cinta suci setelah tertuju kepada Dzat Sang Maha Kuasa.
    Dzat itu pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. Dari cinta vertikal ini,
    memberikan nuansa tersendiri bagi kekuatan cinta.
    Deteksi diri awal melangkah menuju
    pengetahuan, pengetahuan akan kelebihan potensi atau kekurangan. Kurangnya kesadaran
    pada keduanya, menyebabkan seseorang berjalan dalam hidupnya yang abu-abu.
    Tidak lagi peduli pada kelebihan, namun justru bergelut dengan kekurangan. Bagi
    yang pesimis, ia lebih memilih memberikan perhatiannya pada kekurangan, tanpa
    mau mengakuinya dengan lapang dada. Justru, bila saja ia mau mengakuinya,
    meletakkan perhatiaannya pada kelebihan, ia kan melampaui dirinya.
    Pengkhianat ada dimana-mana, yaitu orang
    yang mencuri identitas orang lain. Yang tidak lagi mau menjadi diri sendiri,
    dan lebih senang menirukan idolanya. Keobjektifan dalam deteksi diri merupakan
    salah satu hal penting, yang disertai dengan tanggungjawab yang penuh.
    Sehingga, pengkhianatan terhadap diri sendiri terselesaikan dengan baik dan
    benar.
    Fokus kepada diri sendiri; dengan segela
    kekuatan yang ada, maka cinta akan hadir dengan sendirinya. Seandainya ia
    dilipatkan, maka identitas yang terkhianati kan tertutupkan dan tergantikan
    dengan pengakuan diri yang sebenarnya. Kualitas dan kuentaitas diri pun mudah
    ditingkatkan untuk selanjutnya.
    Kecenderungan umumnya manusia adalah
    membandingkan diri dengan orang lain, atau keadaan sekarang dengan keadaan masa
    lalu. Parahnya, yang dibandingkan adalah kelemahan diri sendiri dengan
    kelebihan orang lain. Biasanya, ini muncul ketika dihadapkan dengan orang yang
    hebat dalam satu bidang, sementara diri sendiri tidak memiliki kelebihan dalam
    bidang tersebut. padahal, bila mau saja kelebihan diri sangat berbeda dengan
    kelebihan orang lain. Setiap orang memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh
    orang lain.
    Dan kunci terakhir untuk dapat menerima
    diri adalah libatkan diri dalam aksi sosial; seperti menolong orang lain,
    memberi apa yang dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ingat! Hanya
    kepada orang yang membutuhkan.  Selama
    masih belum memberikan pertolongan kepada orang tersebut, atau kepada orang
    yang tak mungkin membalasnya, berarti kamu masih belum hidup. Karena kehidupan
    terletak pada kebermaknaan yang dilahirkan dari memberikan sesuatu kepada yang
    membutuhkan.

    O l e h: Muhammad Ghazali Ma’ruf (www.makruf.com)

    931 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    27 tanggapan untuk “Say! I Love My self”

    1. iya mas ini kata2 sangat bermakna, terkadang saya juga suka salah tanggap dengan kehidupan atau masalah yang sebenarnya masih banyak orang selain kita yang lebih susah dari pada kita , tapi entah kenapa pikiran saya itu seperti belum sadar akan hal itu

    2. ini perdana gue ke blog lo bang, eheheh….
      keren bener kayak motivator, sbnernya gue juga msih kurang percaya sama diri sendiri, dan begonya lagi gue lebih sayang sama orang lain ketimbang sama diri gue sndiri, smoga ke depannya nanti gue bisa ngerubah sifat gue itu. dan gue yakin, setiap individu memiliki kelebihan nya msing''

    3. bener banget…pada saat terpuruk bahkan saat tidak ada siapa2 yg peduli, hanya diri sendirilah yang terus menerus berteriak agar kita bangkit, harus kuat, jangan lemah, semangat!

      Jadi diri sendiri itu lebih menyenangkan meski tak banyak orang yg menerima kekurangan kita…yah, daripada terpaksa merubah diri sendiri agar disukai banyak orang, itu akan menyiksa diri sendiri…

    4. cintailah diri kamu sendiri sebelum kau mencintai orang lain
      tapi mencintai diri itu tidak boleh berlebihan
      .. tetap semangat menjalani hidup, percaya diri dan maknai hidup lebih bijak lagi
      love yourself 🙂

    5. tapi kita juga harus mencintai orang lain seperti kita mencintai diri sendiri.. iya kan! waaahh Agha kalau mosting pasti penuh dengan kalimat motivasi,, memang kita harus mencintai diri sendiri dan saya sangat setuju dengan kunci terakhirnya,, melibatkan diri dalam berinteraksi sosial,, mungkin dengan bgtu kita bisa lebih mengenali diri kita seperti apa.. bukankah cinta itu pun tumbuh karena perkenalan^^

    6. Betul. Mencintai diri sendiri juga perlu. Dengan melibatkan seluruh potensi yang ada untuk kebaikan dan kemanfaatan buat umat. Semoga kita termasuk para manusia yang selalu diingatkan Tuhan untuk mencintai diri sendiri, orang lain, orang tua, dan agama secara baik dan positif.

      Terima kasih ilmunya. 🙂

    7. keseragaman menunjukkan kesamaan. kesamaan menunjukkan kenyamanan…
      namun, walau sama tentu berbeda. seperti saudara kembar, selalu ada yang berbeda.
      sip, keep spriti..

    8. sip, bagus… Anda sudah menemukan inti dari artikel ini..
      kalau berlebihan mencintai dir sendiri akan bersikap over, oranglain akan menjauh dari diri kita…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *