Sadar

    Berapa banyak waktu yang telah kau habiskan untuk menyesali semua usaha dan hasilmu. Yang diakibatkan oleh sikap yang suka membanding-bandingkan keadaan diri dengan orang lain, membandingkan masa sekarang dengan masa yang sudah terlewati. Anehnya, hal ini tak hanya sekali berlangsung di dalam kehidupan seseorang. Bahkan, terjadi berulang-ulang tanpa di sadari. Tentunya, dengan membandingkan apa yang sudah didapatkan dengan yang lebih.
    Memang tidak salah sich, jika rumput di halaman rumah tetangga selalu lebih indah dibanding dengan rumput di depan halaman rumah sendiri. Ini akan sangat membawa kepada kebiasaan suka membandingkan dengan orang lain. Kenyataannya, orang yang hidup begini selalu lebih kurang mampu mengatasi kecemasan dirinya, mudah frustasi dan putus asa. Hidupnya tidak tenang, karena selalu merasa di ‘bawah’ orang lain. Mungkin untuk sesaat hal ini sangat tidak wajar dengan menumbuhkan semangat untuk terus tumbuh dan memperoleh seperti yang orang lain peroleh. Namun, di beberapa waktu yang lain hal ini akan sangat tidak menguntungkan, karena orang yang ternyata menjadi pembanding selalu dinamis dan terus memiliki sesusatunya. Ia pun terus mengejar, namun ada saatnya ia tidak bisa menyainginya.
    Nah, beginlah gambaran masyarakat modern ini. Selalu berkompetisi demi hanya menyeimbangan status sosial dengan orang yang berada di sekitarnya. Memang baik, namun jika berlebihan tidak akan  membawa kepada hal-hal yang lebih baik. Sementara, orang yang paling bahagia adalah mereka yang menjalani hidupnya apa adanya, memanfaatkan semaksimal mungkin dengan apa yang sudah dimiliki. Ya, dengan merasa cukup dengan semuanya. Dan inilah yang lebih menjanjikan dibanding harus menyamakan dengan orang lain. Lihatlah quantum yang sangat jarang disadari oleh orang-orang pada umumnya.
    Resapilah dan hanyati dengan semuasnya, belajar bersyukur selalu lebih menguntungkan jika dijalankan dengan baik. Yaitu, dengan memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki. Kesadaran seperti inikah seharusnya tidak boleh luntur. Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah tidak adanya sarana untuk mencapai sesuatu, lebih dari itu yang lebih penting adalah tidak adanya kemauan untuk memanfaatkan apa yang sudah dimiliki. Tidak percaya? Coba perhatikan betapa banyak negeri ini tertinggal jauh dari negara barat. Padahal, kekayaan alam negeri mereka tidak begitu mengalahkan kekayaan alam negeri ini. Sedihnya, negeri ini dimanfaatkan oleh mereka, ya dengan kecerdasan dan kelicikan mereka. Bayangkan, papua dengan penghasil emas terbesar di dunia dikelola oleh pihak asing, dan negeri ini hanya mendapatkan tidak lebih dari 5% dari hasil kelolaan bangsa asing tersebut.

    Tanpa disadari, justru kesadaran itulah sangat penting. Sadar bahwa ada kekuatan dan hal yang luar biasa di dalam diri Anda yang tak pernah dibayangkan. Tak disadari dengan sepenuhnya bahwa itu semua telah menjadi hal yang biasa, tertutup dengan komentar-komentar orang lain tentang diri Anda. Dan komentar itu, anda terkadang terkritik dan merasa sakit sekali dengan kritikan tersebut. Kemudian tanpa disadari lagi, bahwa hal tersebut telah membantuk suatu keyakinan yang tidak memberdayakan. Anda pun merasa lemah, merasa tidak berarti dan tak berdaya. Anda merasa hidup ini tidak lagi adil. Andai kata Anda menyadari bahwa setiap manusia adalah unik dengan seperangkat kemampuan yang tak dimiliki orang lain akan menghasilkan banyak hal. Sekali lagi, ini semua harus disadari. Semua yang dimiliki dimanfaatkan dan digunakan semaksimal mungkin.  Dan akhirnya, jika Anda tidak sadar bahwa jalan ini penuh duri, maka Anda akan tertusuk dengan duri tersebut.

    745 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *