SAM_0391

Sabtu, 19 Januari 2013

    Psikologi, Diary,
    Pagi hari, aku merasa hari ini adalah hari yang begitu istimewa. Kubaca buku psikologi kepribadian dari awal; mengenai mengapa belajar psikologi, apa definisi kepribadian dan objek pembahasan kepribadian. Setelah, itu, berbagai imajinasi ada di dalam benakku. Merencanakan untuk membuat kelompok menulis di kampus, sampai berandai-andai menerbitkan buku nantinya. Maklum, orang tuaku kemaren menghubungiku, dan menasehati. Beliau berpesan untuk selalu menjadi seorang yang berani, percaya diri, dan paksakan oleh kemauan diri sendiri. Bukan kemauan dari orang lain.
    Masalah pembentukan kelompok menulis sudah saya rencanakan sejak semester 3. Namun, masih belum terealisasikan sampai sekarang. Agendanya hanya sekedar menulis dan menerbitkannya dalam media online (blog) dan media Buletin tempel (seminggu dua kali). Tapi, lumayanlah, edisi pertama sudah berhasil di tempel di depan kelas, sedangkan edisi kedua masih belum sempet ditempelkan. Mengingat, waktu itu ujian semester telah dekat.
    Di semester empat inilah, saya akan membangun kembali kelompok menulis ini yang sudah mati. Aku percaya, karena aku mendapatkan dukungan dari kedua orang tuaku. Aku percaya, menulis adalah kelompok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat campus, dan dibutuhkan oleh para dosen. Tentu, misi dan visinya adalah untuk menebar ilmu yang didapatkan di kampus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (mengaktualisasikan ilmu dalam konteks lebih nyata dan dekat dengan keseharian).
    Sementara UKM di kampus yang berkaitan jurnalistik hanya sekedar membidik masalah sosial dari dunia mereka sendiri. Jarang mengaitkannya dengan mata kuliah yang di dapatkan dari kampus. Padahal, mereka adalah media alternative yang ditunggu-tunggu oleh masyrakat. Tapi sekali sayang, majalah yang mereka terbitkan tidak menarik minat mahasiswa untuk membacanya. Apa gerangan yang terjadi? Yang dipermasalahkan, apa mahasiswanya, atau medianya yang tidak menyuguhkan dengan gaya keremajaan. Itulah alasan kami, membentuk kelompok menulis yang tidak formal-formal amet, tapi begitu disukai oleh pembaca. Tidak dibuang begitu saja.
    10.03 WIB.
    Aku sudah berangkat ke kampus untuk melakukan rapat sidang tema untuk majalah di UKM kejurnalistikan yang ada. UKM ini cukup memiliki kredebilitas dibanding dengan UKM-UKM lain. Namun, sesampainya di sana hanya hadir sekelumit orang, waktu aku datang hanya ada  dua orang.
    Kemudian datang dan pada akhirnya berjumlah lima orang saja. Yang lain mungkin ada keperluan yang lebih penting, hingga tak mau berkunjung dalam siding tema tersebut. Yang membuatku merasa kesal selain tidak on-time, selalu ada alasan saja. Aku sudah tidak percaya lagi dengan mereka, dengan teman-teman yang sudah meremehkan pentingnya tepat waktu. Acara molor, dan baru dimulai jam 10.40. sungguh! Hanya membuang-buang waktuku saja.
    12.20 WIB.
    aku kesal dengan mereka. Terutama dengan mereka yang mengaku sebagai Pimpinan Redaksi majalah. Bagaimana tidak, ia merendahkanku di depan teman-temanku. Aku hanya bisa dicela, sambil berkata, “Aku awalnya juga tidak tahu sama sepertimu”. Kata-kata itu sungguh menusuk diriku. Kata-kata yang mungkin diniatkan untuk menyelamatkanku dari kemaluan tidak mengetahu definisi “tema”. Tapi, justru ia meremehkanku.
    Padahal, selama ikut kumpul dengan mereka, aku selalu berusaha untuk datang tepat waktu, selalu hadir dalam setiap pertemuan. Apakah mungkin karena aku kurang komunikatif berbicara sehingga membuat mereka enggan peduli terhadap diriku. Apa yang menjadikan mereka begitu? Begitu tidak pedulinya dengan diriku. Apa mungkin, mereka hanya tidak mau? Atau aku yang tidak mau tahu untuk memperdulikan diri mereka?
    17.02 WIB.
    aku pergi ke RUMAH Sakit terdekat, bukan untuk menjenguk orang sakit. Bikan mengantarkanorang lagi butuh pertolongan. Tapi, untuk mengambil uang. Uangku yang ada di ATM. Tanpa sadar, kulihat seorang yang terbungkus dengan kain batik. Ditutupi begitu saja, apakah dia meninggal, atau koma karena sakit? Aku tidak tahu. Perasaanku hanya menjawab bahwa lelaki yang berada di dalam mobil ambulan tersebut jelas bukan berada di dalam mobil jenazah. Itu bararti ia masih hidup. Alhamdulillah, tapi aku sadar, aku pasti akan mati. Meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Meninggalkan apa yang kumiliki, meninggalkan jazadku sendiri dalam alam kubur sana.
    18.05 WIB
    Kepalaku pusing, badanku pegel-pegel keletihan. Pikiran tak menentu, pikiranku amburadul entah itu apa yang menyebabkannya. Aku hanya bisa diam seorang diri di dalam kamarku. Duduk tanpa melakukan apa pun, kecuali menumpahkan apa yang ada di dalam pikiranku. Aku tumpahkan semua yang ada dalam tulisan. Biarlah siapa pun membacanya, mengambil hikmah yang ada di dalamnya. Aku hanya ingin menjadi perantara dari mereka yang ingin berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, secara berangsur-angsur.

    229 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *