Ramadhan Kareem

Kerusakan yang terjadi bukan oleh keegoisan diri, bukan. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada diri sendiri, sehingga ia disetir oleh nafsu, iblis dan syetan.

Kebobrokan-kebobrokan semakin tampak. “Iki wes zaman akhir le!” (bahasa Jawa), ini adalah zaman akhir nak! Ungkapan yang keluar dari kejujuran hati nurani manusia. Manusia yang gerah dengan zaman gonjang-ganjing. Ada kasus asusila, kasus penembakan, kasus perampokan, kasus pembunuhan, kasus korupsi, kasus intoleransi dan daftar kasus lainnya. Ya, kita gerah, kita perlu mengelus dada tanda keprihatinan diri kita.

Peristiwa yang ditampilkan realita kekinian tak cukup dipandang sebalah mata, bahkan mata telanjang sekalipun. Sesekali kita meleburkan diri dalam pandangan “luar” sebagai pengamat, dan ‘dalam’ sekaligus. Penghakiman sepihak tak menunjukkan kesejatian identitas. Nah, kita perlu melihat bagaimana si pelaku melihat. Dalam istilah kerennya, kita perlu mengaca diri seandainya kita adalah pelaku kejahatan dunia.

Momentum Ramadhan adalah sarana penting bagi refleksi diri. Mengapa kerusakan di bumi-Allah ini semakin timbul-berkembang? Kerusakan dalam bentuk prilaku yang jauh dari nilai-nilai penghambaan—sebagai manusia yang bertuhan, atau bahkan dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Benar, semakin lama kita hidup, semakin rusaklah nilai-nilai itu, zaman wes akhir lee.

Peranan Diri 
Memperhatikan diri, bahkan mementingkan diri bukan soal keegoisan. Kenyataan hidup kita mengsyaratkan keseimbangan (balance). Terlarut-larut meletakkan orang lain di depan mata, kemudian meletakkan diri sendiri di belakang kepala mengakibatkan pengkuburan diri sendiri yang merusakan stabilitas kehidupan. Maka, tak dapat ditampik kita menjadi manusia yang lupa akan diri sendiri: “Siapakah diri kita sendiri yang sebenarnya?”

Menyadari kedirian menggiring pada pemahaman diri. Dengannya, seseorang menyadari akan fungsi dan peran kehidupannya. Secara otomatis, sadar diri itu berarti juga sadar akan kewajibannya terhadap orang lain. Baldatun thayyibun wa rabbun alghafur ialah semboyan bagi negara dengan masyarakatnya yang termaktub tersebut. Sudah barang tentu, kesadaran yang diharapkan memiliki definisi yang dalam. Yaitu, tak sekedar tahu baik atau buruknya suatu perbuatan, namun, lebih menekankan akan ketetapan hati untuk membawa diri dengan konsisten menuju kesempurnaan diri. Apalah arti memerintah kebaikan pada sesama, jika diri sendiri saja masih terlena dalam keburukan. Ke manakah perasaan malu kita sembunyikan?

Di mana pun kita berada, kapan pun kita ada, selalu berusaha “sal dhomiirak!” (artinya, tanyakan kepada dirimu sendiri). Hal ini bisa jadi, salah-satu indikator yang ingin dicapai filosof kontemporer dengan istilahnya; “Cogito Ergo Sum” (Aku berfikir maka aku ada). Tanyakan pada diri, kita hidup di bumi-Allah, lalu kita sebagai siapa? Saat di kantor, tanyakan pada diri, kita ini apa? Sebagai apa? Untuk apa? Bagaimana? Dengan siapa? Dan seterusnya.

Ramadhan mengajar agar kita ikut dalam berperan dalam segala lini kehidupan. Misalnya, di sini kita lapar dan haus, itulah pengolah pikir dan rasa untuk merasakan sebagaimana dirasakan orang bawahan (masakin). Dengan kesadaran itu, timbullah dorongan untuk berperan diri. Ya, kita akan tergerak untuk berbelas kasih kepada orang miskin, dan memberi sesuatunya bagi diri mereka. Fokus poinnya terletak pada “sadar diri”, bukan diri yang dipengaruhi oleh iblis, oleh syetan dan oleh nafsu sehingga menghilangkan kesejatian diri kita sebagai manusia. Yaitu, manusia yang berfikir dan merasa sekaligus menentukan sikap dengan tegas.

Kerusakan yang terjadi bukan keegoisan diri, bukan. Tetapi, karena kurangnya perhatian pada diri sendiri, sehingga ia disetir oleh nafsu, iblis dan syetan. Perserikatan mereka bertiga menguasai seluruh alam jiwa dan raga kita. Kita tak lagi berwujud manusia, meski terlihat secara kasat mata adalah manusia, tetapi sejatinya bukanlah manusia. Lihat surat an-nas, bahwa syetan juga ada yang berwujud manusia. Maka jangan heran, kebobrokan disebabkan oleh lemahnya kesadaran diri.

Pengendalian Diri
Setelah kita sadar siapa diri kita dan seterusnya, kita pun tergiring untuk mengambil alih kembali—bahkan bila perlu, secara paksa—akan kehidupan kita. Kehidupan yang sempat dikendalikan oleh persekongkolan syetan, iblis dan nafsu. Ramadhan sebagai media kita berlatih diri, tentu selepas ramadhan kita menjadi manusia yang lebih bijaksana. Dengan syarat, ramadhan dijalani sebagaimana diharapkan: tidak sekedar lapar atau pun haus saja.

Setengah hari (puasa orang Indonesia) kita menahan lapar dan haus, termasuk menjaga segala emosi yang tak sesuai tuntunan agama. Misalnya, yang terbiasa berfikir negatif pada orang lain, sudah seharusnya berfikir positif (husnudhan). Momentum ini yang harus terus dikembangkan dan diperjuangkan untuk dilatihkan.

Sumenep, 17 Juni 2016
Gus Ma’ruf

4,573 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Similar Category Post

Diterbitkan oleh

algazel ma'ruf

Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

2 tanggapan untuk “Ramadhan Kareem”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *