Proses Versus Target

    “Bila
    Anda tak memiliki target, maka Anda akan rugi tenaga dan waktu” 
    (Imron Muzakki, M.Psi)
    Ada kesalahan yang cukup berbahaya bagi saya
    pribadi, sebelumnya saya meyakini jika proses seharusnya berada di atas target.
    Singkatnya, memprioritaskan proses di atas target. Yaitu, proses mendapatkan
    bobot 80% dan target—yang juga tujuan—dengan bobot 20%. Alasan saya sederhana
    saja, “lebih baik banyak bekerja dibandingkan banyak berencana.”
    Impilkasi semacam ini akan memberikan sebuah
    konsepsi-mental untuk “lebih giat” bekerja. Menanam ini ya, buahnya akan
    menghasilkan ini. Atau bahkan seperti menanam padi, padi tumbuh, dan rerumputan
    sebagai “plus-plus” dari usaha menanam. Ini sebagai gambaran betapa proses
    lebih bisa dipentingkan ketimbang target.
    Tapi, pernyataan yang di atas ini terbantahkan
    oleh pernyataan dosen saya. Saya tersadarkan, dan baru saja terfikirkan.
    Seolah-olah tahu-tahu sudah tahu berkatnya, bukan karena berkat “tahu”. Lalu
    apa? Diambillah sebuah fakta bahwa ada orang yang bekerja dan terus bekerja,
    tak memiliki target yang jelas. Perhatikanlah, ini berarti contoh dari sekedar
    “bekerja” atau diistilahkan “kerja serabutan tak bertujuan”. Akibatnya, yang
    penting bekerja dan bekerja. Untuk masalah hasil, “itu takdir Tuhan”.
    Memang bisa dibenarkan bahwa hasil itu berada
    dalam genggaman Tuhan.  Tapi, sebagaimana
    telah disebutkan dalam al-Qur’an “agar setiap individu melihat apa ke hari
    esok”.  Yaitu merencanakan dari segenap
    usaha yang akan dilaksanakan. Merencanakan itu wajib, proses juga wajib. Dan
    hasilnya saya serahkan kepada Tuhan.

    Rencana berarti konsep, atau rancangan yang
    masih buram. Dikatakan buram karena masih sebatas rencana dan belum
    terealisasikan. Target berdiri di dalam rencana,merencanakan dipahami juga
    menargetkan. Sedangkan proses berarti runtutan perubahan dalam perkembangan
    sesuatu. Pelabelan ber-proses menuntut kepada “perkembangan sesuatu”. Nah,
    kalau sekedar berproses tanpa ada perkembangan, maka itu bukan proses, tapi
    “berjalan” di tempat.
    Di sini mulai tanpak, betapa target semestinya
    berada satu level di atas proses—usaha. Tanpa tujuan, pesawat tak akan pernah
    mendarat, hanya berputar mengelilingi langit bumi. Sampai kemudian, bahan
    bakarnya habis dan jatuhlah si pesawat tadi. Kalau tak jatuh, bila saja
    dipaksakan akan berhenti dan mendarat di mana saat bahan bakarnya sudah
    berstatur darurat. Alhasil, ya itu hasil “tujuan-dadakan” mendarat karena
    keterpaksaan.
    Begitu pun dengan yang lebih memprioritaskan
    berproses. Tak mau peduli apa itu “target”. “Sudahlah, bekerja
    sekeras-kerasnya, sampai pun kepala di bawah, dan kaki di atas. Kalau bekerja
    keras, nanti hasilnya pasti pantas”. Lah, memangnya dengan begitu akan
    menghasilkan yang setara dengan usaha. Jangan-jangan seperti analogi pesawat
    yang hanya berputar-putar saja, dan landing
    secara darurat kehabisan tenaga. Tak
    sampai kepada tujuan, justru “apa yang akan terjadi” berarti itu dianggap
    sebagai tujuan.


    “Planning is everything”, tandas Dwight D. Eisenhower. Dalam dunia kerja merekomendasikan bahwa
    seharusnya target 60% dan proses—usaha—dengan bobot 40%. Target yang jelas dan
    terstruktur akan menjadi semacam “pengarah” bagi setiap usaha. Saat salah dan
    keluar dari alur tujuan, maka akan segera diluruskan kembali. Tak hanya
    menghantarkan kepada tujuan, rencana akan memberikan sinyal untuk memikirkan
    bagaimana cara “agar sampai”. Singkatnya, akan menggoda para perencana untuk “smart work”.

    Akhirnya, smart work memerlukan sedikit usaha
    untuk mencapai banyak hal. Sedangkan, bekerja keras—banting tulang—tanpa smart
    work tak ada artinya sama sekali. Sekali lagi, itu kembali kepada masing-masing
    kita; akankah merencanakan ataukah hanya sekedar berusaha dan berusaha.

    Kediri, 4 November 2014

    730 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Proses Versus Target”

    1. masukan yang bavus sekali. Memberikan banyak pencerahan bagi para pembacanya. PROSES memang harus dijalani sebagai bagian dari usaha untuk mencapai target yang diinginkan. Saya suka dengan analogi pesawatnya. Masuk akal. Keren keren…

    2. Yea, betul! Aku sendiri sudah mulai belajar menerapkan planning dalam kehidupan sehari2. contoh kecilnya aja soal jadwal posting di blog. Selain itu kita jadi lebih teliti dan berhati-hati dalam mengambil keputusan lho. *berasa direktur aje 😀

    3. @Kang Asep : Iya,… semoga bisa bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan yang nyata. terimakasih banyak udah berkunjung mas….

      @Mbak Dewi : wah..wah… rajin sekali ya berkunjung ke blog saya.. salut sekali. btw, terimakasih banyak udah berkunjung ya!

      @Hilda Ikka : wah, bisa menjadi pengalaman tersendiri dan amat berharga bagi orang lain… terimakasih ya udah berkunjung..

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *