Privasi, Identitas diri dan Orang lain

    Dalam agama
    apapun, tentu selalu diajarkan sebuah kebenaran. Walau pun ada beberapa yang
    mengidentikan kebenaran merupakan nilai kegunaan, tak berguna berarti tak layak
    disebut-sebut sebagai suatu kebenaran. Artinya, dalam setiap kebenaran selalu
    ada nilai pragmatis, nilai praktis dan nilai-nilai lainnya. Sebab manusia hidup
    dominan oleh egoisentris, tak salah bila kebenaran perlu dipahami agar lebih
    mengena terhadap “apa guna kebenaran bagi dirinya sendiri?”
    Berbicara
    privasi, dalam masyarakat Prancis merupakan suatu yang dihormati. Di mana,
    penduduknya tidak mau tahu apa dan bagaimana privasi seseorang. Dalam masyarakat
    kita, tak lazim bila tak menggosip, gosip terselip di dalamnya suatu privasi
    mengenai seseorang. Ujung-ujungnya, ada fitnah, ada perpecahbelahan dan ada
    permusuhan. Siapakah yang dirugikan? Sepantas memang tanpa kasat mata, yang
    dirugikan adalah orang yang dijelek-jelekkan seobjektif apa pun. Merugikan baginya,
    bagi keluarga dan masa depannya. Ya, ini bermula karena ada rasa
    ketidaksenangan, atau dendam diri.
    Sekiranya
    kita mau berfikir lebih lanjut, ternyata menjelek-jelekkan orang, sama halnya
    menjelek-jelekkan dirinya sendiri. Sebutlah sia-A tidak senang terhadap si-B. Ia
    mengetahui semua seluk beluk dan privasi si-B, dibeberkanlah ke khalayak,
    dibicarakanlah, dipikirkanlah. Ketika lisannya mengatakan “Kok bisa ia begitu dan begini” dengan stigma negatif, di saat
    itulah ia membicarakan pada dirinya sendiri. Manusia adalah apa yang ia
    pikirkan, apa yang ia inginkan, apa yang ia cintai dan apa yang ia cari.
    In ahsantum ahsantum lianfusikum,
    sekiranya kau berbuat kebaikan maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri. Ini tak
    hanya terkait bagaimana hukum tarik menarik (The Law of Antraction) bekerja pada seseorang, namun ada sesuatu
    yang perlu dipahami dari sekedar itu. Semacam pengaruh dan keidentikan yang
    telah kesebut di atas. Pikiran, kecintaan dan pencarian; tiga hal sebagai
    identitas seseorang.
    Katakanlah
    seseoarang mencitai mobil, maka ia adalah mobil. Mencintai buku, ia adalah
    buku. Kenyataannya, seseorang di hari kiamat akan dibangkitkan bersama-sama
    orang yang ia cintainya. Tak peduli, hukum cinta tetap berlaku pada bentuk
    benda apa pun. Terhadap apa yang jelek dan buruk, cinta buta akan hal tersebut.
    Jika seseorang suka menjelek-jelekkan orang lain, berarti itulah dirinya. Ia rusak
    oleh akibat dari perilaku tersebut.
    Saat seseorang
    menggunjing, menfitnah, membeberkan aib orang lain. saat itulah ia mengajarkan
    dirinya dan tak sadar menjadi seperti seseorang yang ia jadikan korban. Ia akan
    buruk bahkan lebih. Keidentikan seseorang dengan apa yang dipikirkan tak dapat
    diragukan lagi, alih-alih bila pikiran di dalam dirinya diikat oleh perasaan
    sehingga membentuk konsep diri dan keyakinan terhadap diri sendiri.
    Sekali lagi,
    manusia memiliki kebebasan untuk menjadi apa pun. Saat terbangkit pada yaumul ba’ts ia akan dibangkitkan dengan
    beragam bentuk, ada binatang dengan aneka ragamnya dan ada yang berupa manusia.
    Sejatinya, manusia itu tak harus berbentuk manusia. Tetapi manusia dapat
    membentk dirinya sendiri sebagai manusia. Rumi mengatakan: 

    Duhai
    saudaraku! kamu tiada lain adalah pikiranSelainnya,
    adalah bongkahan tulang dan jambangJika
    bungan di pikiranmu semarak,Maka kamu
    aromanya yang semerbak.Sekiranya
    pikirannya itu duri,Maka kamu
    adalah duri itu sendiri.

    Maka,
    jangan serahkan pikiran dan perasaanmu pada arogansi diri, pada keangkuhan dan
    keegoisan diri. Karena ia adalah dirimu, tak pantas memikirkan kejelekan orang
    lain, berfikirlah mengenai kebahagiaan, ketentraman, kesucian. Maka kamu adalah
    apa yang kau pikirkan.

    676 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Privasi, Identitas diri dan Orang lain”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *