Prinsip Hidup

    Bangunan yang besar jika tak berpondasi maka akan mudah runtuh atau roboh. Sewaktu ada tiupan angin kencang, maka tak ada yang masih dapat diharapkan dari rumah tersebut. Kecuali, mengharap agar diri dapat pasrah menerima kenyataan tersebut. Tidak terkecualikan dengan rumah yang kecil atau semi besar, rumah dibangun harus berpondasi. Ya, itu saja. Jika tidak, kita sudah tahu akibatnya.
    Kehidupan seseorang tanpa memiliki prinsip-prinsip yang mendasari kehidupan akan mudah diruntuhkan oleh apa-apa yang berada di sekelilingnya. Ia akan mudah terkoyak, dan terpengaruh dengan lingkungan di mana tinggal, sebut saja sebagai manusia tanpa akal. Sebab, ia sudah tak mampu lagi memanfaatkan akalnya dengan baik bagi hidupnya sendiri. Bagaimana mungkin mampu melesat dan menghadapi pahitnya hidup, jika tak memiliki prinsip hidup.
    Tanpa prinsip yang ‘dipegang’ kuat, maka seseorang akan terhuyung ke sana dan ke mari, semacam ‘pengikut-setia’ dari semua perubahan lingkungan. Bila yang lain bersenang-senang dengan keadaan, ia pun akan bersenang-senang pula, tak sadar kalau kewajibannya untuk mendapatkan impiannya tertinggal. Setiap hari hanya itu-itu saja yang dilakukan, mengikuti style keadaan masa kini. Nah, dari ini semua prinsip hidup akan mengubah kehidupan seseorang agar memiliki keyakinan terhadap diri sendiri.
    Serasa pikiran dan perasaan dikekang ya? Dikekang dengan prinsip tersebut!! Eits, jangan salah dulu, prinsip ini akan mengajarkanmu bahwa hidup harus dikekang olehmu, kalau tidak begini, maka kamulah yang akan dikekang oleh pahitnya kehidupan. Maukah kamu menelan pahitnya kehidupan ini? Tentu tidak kan! Kalau begitu, tetap prinsip kehidupan dalam kehidupanmu.
    Prinsip kehidupan adalah apa yang kamu yakini, dan apa yang lakukan serta apa yang menarik bagi dirimu. Ya, bisa berasal dari kitab suci yang kamu baca setiap hari, perkataan para inspirator yang kau percayai bahwa ia tidak hanya sekedar hebat lisannya, juga hebat melakukannya, atau bisa juga dari kesimpulan yang kamu peroleh dari masa lalumu sendiri. Atau, bisa juga dari bagaimana cara menjalani kehidupan dan mewujudkan impian, dari sini akan membuatmu memiliki satu kesimpulan.
    Belajarlah dari pohon bambu, sekalipun sudah ditebang masih saja menyisakan batang yang melekat kuat pada akarnya. Walau pun hanya seberapa cm saja yang tersisa dari batang tersebut. Ketika patah karena angin misalnya, tidak ada kabarnya kalau semua batang tersebut akan patah dan meninggalkan akarnya, selalu saja bagian tengahnya yang patah. Begitu pun saat-saat ditebang, sulit untuk bisa menebang habis batang dengan hanya menyisakan akarnya saja.
    Nah, dari bambu bisa dijadikan prinsip hidup. Di saat kehidupan kita terasa patah, pasti masih ada kehidupan yang tersisa dan mengajar kuat pada akar prinsip kehidupan. Dari yang tersisa, akan tumbuh menjadi luar biasa bila dibiarkan alamiah apa adanya. Ya, hampir mirip bambu. Di saat kita merasa hidup ini tidak menyisakan sesuatunya, tidak ada harapan, tidak ada kenikmatan, di saat itulah selalu ada hal yang masih dapat diharapkan, dinikmati. Namun, yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan yang berprinsip dengan kuat.

    Akhirnya, bila tujuan hidup adalah membuatmu melaju ke depan, maka prinsip hidup akan membuatmu bertahan sampai garis penyelesaian. Bukan garis finish, karena hidup tak memiliki garis finish, ia terus tumbuh dan berkembang seiring waktu. 

    821 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *