SAM_1888

Asyiknya Berjurnalistik Bersama Anggota Muda LPM DeDIKASI 2013

    Logika
    membawamu dari A ke B. Dan dengan imanjinasi, kan mengantarkanmu  dirimu ke mana saja
    ”, kata Fisikawan
    dunia ini—Albert Einstein—benar-benar 
    menggugahku untuk mengasah keduanya: otak kiri sebagai pihak logika dan
    otak kanan dari pihak imajinasi.

    Bila seseorang
    tak berkarya, maka akan termakan oleh zamannya: sepintar apa pun dan sebaik apa
    pun. Karena keabadian dalam tulisan, lebih tahan dibanding dengan keabadian
    kebanyakan orang yang bermanfaat. Dari karya, perubahan dunia diawali.
    Lihatlah, media kolot sekarang ini, yang lebih mementingkan benefit dan tujuan
    terselubung di balik refreming pemberitaan yang mereka ramu. (ending, kini
    aku tahu,  ternyata pada pemilik media
    adalah politikus yang terkadang menyerupai tikus)

    LPM DeDIKASI, Crew LPM DeDIKASI, STAIN Kediri, Psikologi
    BAB I: Pembukaan Prima
    Sejatinya, acara ini dilaksanakan tepat jam 14.00, dan dengan sangat terpaksa acara pembukaan tersebut terpaksa molor beberapa menit. Hal tersebut diakibatkan oleh  berbagai kendala. Parahnya, keteledoran ini oleh sejumlah penggila organisasi dinggap sebagai hal yang lumrah.
    Dalam ruangan berukuran 15m x 18m persegi, di situlah kami semua berbagi ilmu jurnalistik. Menyaring para mahasiswa baru untuk bisa ikut berpartisipasi mewujudkan identitas mahasiswa sebagai agent of change. Sebagaimana tujuan mengapa majalah harus kami tuliskan, tidak lain hanya ingin menyampaikan inspirasi dan konspirasi agar mereka yang bersikap terhadap rakyat bawahan bisa tergugah dan tersadarkan.
    Walau siang itu kami hampir mandi keringat, tapi itu semua tak mampu menghentikan langkah kami untuk mensukseskan acara tahunan ini. Barbagai aroma keringat, bercampur bau di tempat tersebut. Iya pada siang yang panas saat itu. Ada aroma keringat Wong Jowo, sampai keringat Nak Kanak Madhure. Amazing, bau aroma yang membuat suasana semakin memanas.
    Dan tahukan, orang yang paling berkeringat saat itu adalah ketua panitia. Ya, mungkin karena juga terlalu banyak pikiran, dan dari kondisi biologisnya. Bila aku mau berkomentar, aku sangat kagum sekali dengan ketua panitia ini, pekerja keras dan tegas sekali. Memang sempat, beberapa teman yang cukup peka terhadap ketua ini, dengan sembari menyatakan.
    “Hei mas bro!! Le’ mumet djo dipikirno dewe. Kan kamu banyak teman, bagikanlah kepada mereka semua.”
    Wajahnya tampak kelelahan, senyuman kian biasa dari kedua bibirnya. Begitulah gambaran pusingnya pak ketua panitia. Aku kasihan sekali meligat pak ketua ini, sudah muda kog banyak pikiran ya!!! Santai aja lah..
    Menurut Miftahul Jannah S.Pd.I—Mantan Dewan Redaksi LPM DeDIKASI mengungkapkan, “Sesuatu yang tidak keluar dari dirinya kan terasa sulit untuk dijalani. Maka, seyogyanya menyadarkan akan posisi diri para aktivis pena mengenai alasan keberadaannya di LPM. Asosiakan antara keinginan pribadi mereka dengan tujuan organisasi. Setelah mereka sadari, baru kemudian berilah mereka kepercayaan, karena mereka itu adalah manusia. Jangan terlalu disetir, namun berilah mereka harapan dengan kreatifitas mereka masing-masing.”
    Beberapa saat kemudian, acara dimulai. Saat itu yang menjadi MC-nya adalah Arinda Mahasiswi TBI Sms III, sambutan atas nama ketua panitia “Hanif” juga sekelas dengan arinda, disusul pimpinan umum LPM DeDIKASI Mas Khairuddin TBI sms V dan ketua DEMA Pusat Uswatul Hasanah serta aku sendiri menjadi doa. Jadi ga puenak dhewe serasa dituakan sebelum tua.
    Dalam sambutan yang disampaikan oleh Uswatul Hasanah, ada hal yang sangat menarik untuk aku renungi dari kesuksesan beliau menjadi aktivis sampai akhirnya menjabat ketua DEMA, “Jangan setengah-setengah, karena kalian tidak akan merasakan manfaatnya”. Selain itu, beliau juga menyinggung akan posisi aktivis-pena, “bagaimanakah menjadi pers mahasiswa? bagaimana memposisikan dirinya dalam masyarakat yang multi-kultural? Dan harapanku, semoga harapan-harapan acara ini menjadi kenyataan, yaitu menanamkan identitas pers mahasiswa.
    BAB II: ke-DeDIKASI-an
    Jujur saja, aku ngiri kepada pimpinan umum (untuk selanjutnya disingkat menjadi PU) yang satu ini. Selain baik sekali, juga memiliki banyak pengalaman dan koneksi dengan teman-teman PPMI di luar sana. Tak hanya sampai di situ, gayanya yang blak-blakan juga menjadi tranding topic dalam pikiranku. Kok iso-isone wong iki cas-cis-cus tentang ini dan itu. Subhanallah, suwer kagum sekali dengan antisipasi akan kehabisan akal saat ada kebuntuan pikiran.
    PU-ku ini menjadi pemateri dalam serangkai program acara penerimaan anggota baru. Menyelinting tentang LPM DeDIKASi, dari sejarahnya, sampai potret buram yang pernah dialami. Sejak 1989 IAIN Kediri telah mendirikan LPM DeDIKASI. Dan ketika tahun 1991 LPM masih terbilang sebagai bagian dari senat mahasiswa, ketika itu Imam Sururi sebagai PU-nya. Beralih ke Zainal di tahun 1996, dan Aminul Jabir pada dua tahun kemudian.
    Semoga mereka semua memberi peninggalan yang tak hanya tertuang dalam majalah. Memberi suatu nuansa baru yang inovatif. Sebagaimana prinsip utama perusahaan raksasa dunia “Apple”, “Kami berinovasi untuk itu konsumen kami senang kembali, bila tidak mereka akan pergi.” Aku sangat mengharap, mereka tak hanya mengikuti tradisi ke-LPM-an dari nenek moyang, namun dengan tetap mempertahankan keaslian nilai-nilai LPM dengan tetap selalu berupaya pada inovasi yang lebih baik.
    BAB III: Pengamatan
    Nah,  meteri pengamatan ini disampaikan oleh mantan Dewan Redaksi yang aku ceritan tadi itu lho. Yang ngga’ kalah serunya dalam materi ini, adalah saat pemateri memerintahkan kepada kami semua: tidak peduli antara panitia, mc, pemateri dan peserta untuk bersama-sama berlatih menuliskan hasil pengamatan terhadap suatu foto yang sudah tertayang di layar monitor. Yang mana, masing-masing orang harus menuliskan apa yang dirasakan, yang dipikirkan tentang foto tersebut.
    Sebenarnya, dalam hal ini pradugaku terhadap pemateri hanyalah satu sisi bentuk mengasah kepekaan terhadap lingkungan sosial. Bagaimana memaknai, menginterpretasikan kehidupan sosial. Mengapa harus sosial, karena misi aktivis yaitu untuk memperjuangkan masyarakat.
    Kalau begini, aku menjadi teringat apa yang dikatakan Pak Musyafik selaku dosenku sendiri, beliau mengatakan, “Harus banyak membaca refrensi, lakukan banyak hunting fakta dan masalah.” Dan yang lebih menarik bagiku, “Membaca adalah segala-galanya, semakin banyak tahu konsep maka identifikasi semakin baik.”
    BAB IV: Penulisan Berita
    Lagi-lagi, aku tak pernah bosan bertemu dengan orang ini. Karena bagiku orang ini begitu asyik untuk direnungi atau diambil sisi positifnya dari kehidupan kepenulisannya. Ia adalah Bang Indra dari Bangka Belitung (Sumatera). Dengan dirinya yang serius tapi kocak memberikan seribu satu obat mujarab untuk menulis dan terus menulis. Hal yang paling mengesankan bagiku akan beliau adalah saat di warung, ia tak pernah berhenti membaca dan membaca buku walau dalam keadaan ngopi.
    BAB V: PPL
    Akses menuju tempat investigasi cukup mudah, saat itu aku menjadi pembimbing bagi keempat peserta prima LPM DeDIKASI. Saaat itu takdir berbicara tempat kami inves adalah Pasar Grosir Ngronggo Kediri. Cukup 200 meter sudah sampai di tempat, tempat inves tersebut merupakan tempat yang paling mudah dijangkau dibanding dengan keempat tempat lainnya; sumber njiput, pabrik kerupuk, Pemancingan ikan, dan KOMPAS (Komunitas Mahasiswa Prodi Ahwalus Syahsyiah).
    LPM DeDIKASI, STAIN Kediri,
    Sepulang dari Investigasi di Pasar Ngronggo
    Saat itu, aku hanya mengawasi mereka berempat di pasar. Mereka mencari data dari konsumen, atau pun pedangan. Masalah tema yang mereka angkat adalah mengenai sosial kehidupan pedangan; pagaimana persaingan antar pedagang dan seterusnya. Sayangnya, saat itu pula sedang berlangsung orkestra yang dilaksanakan di kampus. Beberapa pelaku pasar mengkritik hal tersebut. Mengapa di kampus stain ada orkestra?
    Enaknya menjadi pendamping adalah mengasah keilmuan, belajar asyik bersama adik-adik dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Memiliki banyak  kenalan dan teman.
    My The Best Friends at LPM Office Magazine

    221 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Asyiknya Berjurnalistik Bersama Anggota Muda LPM DeDIKASI 2013”

    1. "sebanyak tau konsep" point itu ruuf yg ane kurang sepakat, konsep itu sering tdk mec ma fakta. jd ane sarankan belajar dr masyarakat adalah ilmu yg uar biasa… konsep tu hanya penunjang… cz ilmu dr masyarakat adalah fakta 🙂
      selanjutnya ane udah gak jadi dewan redaksi sayaaaang.. nanti Hayin dkk gak trimo ha ha ha ha

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *