Prasangka


    “Prasangkamulah yang merusak
    dirimu”
    (Agha Ma’ruf)
    Aneh sungguh aneh, manusia yang tak memiliki akal sehat. Ikut
    termakan oleh media, oleh isu, oleh celoteh apalagi fitnahan. Sebut saja si
    para koruptor, kadang kita sudah beranggapan diri kita sendiri paling benar. Sehingga
    kita menyebutkan si koruptor adalah maling negara dunia akhirat, maling negara
    dari sekarang sampai tahun kan datang.  Sungguh,
    keegoisan diri yang seperti ini sangat tidak etis bila seseorang itu
    benar-benar berakal. Ke manakah letak akalnya, apakah kebenaran selalu  benar sepanjang waktu, apakah yang kita lihat
    sebagai suatu kebenaran, benarkah benarbenar suatu kebenaran bebas waktu?
    Beberapa yang lain menyaksikan bahwa ini bukanlah persoalan
    serius, namun bagi sebagian yang lain ini menjadi penting. Sebuah kejanggalan
    yang merusak tatanan kehidupan. Kebenaran itu di satu waktu, tidak atau belum
    tentu di waktu lain. begitu pun dengan hal yang dianggap tidak benar. Dulunya,
    memakai celana dikatakan sebagai orang kafir (dikatakanlah pemakai celana tidak
    benar), alasannya “man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum,” barang siapa yang
    menyerupai suatu kaum, maka ia golongan darinya. Dulu, pemakai celana adalah
    orang kafir (non-islam).  Anehnya,
    sekarang justru para ustad, kyai terkadang memakai celana. Santri pun tak perlu
    risau dikatakan kafir. Ini menunjukkan, kebenaran tidak konsisten.
    Karena itulah, sungguh tidak dibenarkan bila kita “menganggap”
    (melebeli) seseorang itu tetap. Ia awalnya
    dipercaya benar, dan seterusnya benar. Kenyataannya, seseorang yang kita anggap
    benar ternyata suatu ketika pasti pernah melakukan apa yang tak dibenarkan. Karena
    orang itu bukanlah nabi, apalagi sebagai malaikat yang bebas dari jerat apa
    pun. Begitu pun dengan orang yang senantiasa berbuat buruk, maka kita
    beranggapan orang tersebut buruk. Padahal, suatu ketika sangat dimungkinkan ia
    berubah menjadi lebih baik, dengan adanya taufik dan hidayah. Sungguh,
    seseorang nyatanya lebih percaya kepada “konsistensi” yang kemudian
    terbentuklah persepsi diri yang permanen. 
    Apa yang tanpak konsisten, itulah yang sebenarnya menjadi landasan untuk
    sebuah kepercayaan.
    Penulis perpandangan, semua orang intinya adalah sama. Yang membedakan
    adalah keimanan dan ketaqwaan. Pertanyaannya, apakah aku mampu melihat keimanan
    seseorang, melihat ketaqwaannya? Tentu saja tidak bisa. Apalagi beranggapan,
    bila perilakunya baik maka ia “pastilah” beriman. Tidak. Penulis menjawab “tidak.”
    Hal itu dikarenakan akan mempersempit indikator representatifnya. Apakah perilaku
    yang baik benar-benar dapat dijadikan “kesimpulan” atas keimanan seseorang. Iman
    adalah urusan Allah, bukan kita menghakimi dan mengatakan kalau “dia tidak
    beriman.”  Karena orang ada yang tampak
    baik, namun sebenarnya hatinya munafik dan jauh dari kenyataan inderawi kita.
    Maka, semua orang adalah sama. Aku tidak akan meninggikan ia
    di atas yang lain, dan tidak pula merendahkannya di bawah yang lain, apalagi di
    bawah keegoisanku. Tidak sama sekali, semua manusia adalah sama-sama “abdullah”(hamba
    Allah), sama-sama sebagai makhluq, yang perlu diagungkan di atas segalanya
    adalah Allah. Allah lah yang Maha Tahu atas status seseorang; baik atau buruk. Dunia
    ini tak ada orang baik, dan juga tak ada orang buruk. Yang ada adalah campuran
    antara keduanya.
    Seberapa buruk prasangka kita, seburuk itu pula yang kita
    dapatkan. Kita mendapatkan kesialan dari pikiran, perasaan negatif kita, dan
    lebih-lebih dari ketidakridhaan orang yang disangka buruk. Selanjutnya,
    husnudhzan selalu power full. Saat itulah kita mampu melihat secara jernih
    harapan, impian dan kenyataan yang lebih baik. Cobalah, dan perhatikanlah.  “in
    ahsantum ahsantum li anfusikum,
    apabila kalian berbuat kebaikan, maka
    kalian berbuat kebaikan untuk diri kalian sendiri.”

    691 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Prasangka”

    1. Tulisan serius yang sarat hikmah untuk kita renungkan. Ya benar, jangan menambah dosa dengan prasangka buruk, apalagi jika yang diburuksangkai tidak ridha dengan perlakuan kita. Celakalah kita dengan karma.
      Terima kasih telah membukakan cara pandang. Sangat mengena karena seringkali saya juga distigma orang lain hingga rasanya terzalimi. Tapi yang lebih buruk lagi jangan sampai menzalimi orang lain dengan prasangka negatif. Stigma jelek macam itu akan mengundang aura negatif dalam hidup kita karena hati ikut terkontaminasi.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *