Pramoedya Ananta Toer

    Terlahir dengan rasa percaya diri yang kurang, telah menjadikannya Pram sebagai sosok penulis yang produktif sampai akhirnya menjadi sastrawan yang memperolah Nobel Dunia dalam bidang sastra. Ia dilahirkan dalam keluarga yang cerdas, namun sekaligus dari keluarganyalah ia menjadi minder.
    Keminderan Pram diawali dari ketidakmampuan ayahnya menerima kenyataan Pram yang menamatkan sekolah di Institut Budi Otomo  dan tidak naik kelas selama tiga tahun. Dari itulah, ayahnya kecewa terhadapnya. Mengingat, Ayah pram tersebut adalah sosok pria yang berprestasi di zamannya.
    “Anak Bodoh! Kembali sana ke sekolahmu.” Perkataan ayah pram di saat pram mau melanjutkan belajarnya di Madiun, namun tiba-tiba ia disuruh kembali lagi ke sekolah di mana pram telah menamatkannya.
    Setibanya di sekolah, secara khusus pram dipanggil oleh Menil Amier sembari menanyakannya dalam Bahasa Belanda, “Mengapa kau kembali lagi, kau sudah tamat dari sini?” pram tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia sesegera mungkin meninggalkannya dengan menyerahkan setumpukan kertas curhatan hatinya akan kenyataan dalam masalah keluarganya.
    Dari kertas inilah yang mengawali dari semua prestasi Pram, menuliskan semua ketidakmampuan ia mencurahkan isi hatinya kepada siapa pun dalam keadaan yang seperti itu. Ia terbiasa menuliskan apa yang terpikiran dan dirasakan dalam dirinya. Walau pun begitu, tak berarti dampak “kekecewaan ayahnya” membuatnya tidak minder, ia tetap menjadi sosok yang bahkan mencapai inferior kompleks sampai suatu saat ia berkunjung ke Negeri Belanda dalam usia 27 tahun.
    Pram itu sosok individualis, tidak dapat diperintah, dan tidak dapat memerintah. Tidak ada kompromi baginya, dengan kecenderungan untuk menjadi diri sendiri yang suka ‘memberontak’ terhadap segala sesuatu yang dapat mengurangi harga diri sebagai manusia dan kepada para penindas. Untuk kemudian, ia melawan segala bentuk kejahatan dalam bentuk tulisan. “Kalau takut, jangan menjadi pengarang,”tuturnya.
    Karya pram memberi kesadaran bagi manusia akan harga diri dan martabatnya. Bagi pram pribadi, karya yang telah turun cetak bagaikan anaknya sendiri yang akan menempuh hidupnya sendiri dalam masyarakat sosial budaya dengan umur yang berbeda. Itulah nasib dari mereka masing-masing.
    Ada satu hal yang membuat Pram tetap mengingat perkataan ibunya. Ketika itu ibunya pram sakit keras dan akhirnya meninggal dunia saat ia berumur 17 tahun. Sebagai anak tertua, ia bertanggung jawab atas semua keluarganya. Tak satu pun uluran tangan yang mau membantu memberikan makan saat ibunya  sakit keras, sampai detik pemakaman ibunya sendiri. Di saat jam yang sama pula ia adiknya juga meninggal (1942).
    Dari rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang berjumlah 7 orang dan kekecewaan terhadap orang lain telah membuatnya semakin belajar berani. Ia mengatakan, “Keberanian itu bukan anugrah, tapi hasil dari hidup sehari-hari. Keberanian itu seperti otot manusia, kalau tidak dilatih ia akan menjadi lemah. Latihan pertama adalah jangan lari, namun siap menghadapi.
    Nasehat ibunya yang selalu hidup dalam dirinya dan memancar dalam tulisannya adalah “Jadilah manusia bebas, jadi manjikan bagi dirimu sendiri, tapi jangan langgar hak orang lain.” Dan juga, “jangan minta-minta kepada siapa pun”.

    Demikian kerasnya kehidupan Pram, seorang yang tak memiliki kebabasan dan selalu merasa tertekan, yang pernah hidup dalam penjara di masa kehidupan remajanya.

    1,075 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *