Pinjam Hidup dengan Berhutang

    Keinginan untuk tetap hidup merupakan kebutuhan, tak serta
    merta seseorang hidup tanpa adanya bantuan dari orang sekelilingnya. Sejak kecil
    kita sudah diajarkan bergantung kepada orang tua: ayah dan ibu. Dan ketika
    besar, kita diwajibkan mengabdikan diri kepada mereka lebih-lebih di penghujung
    usia kehidupan mereka. Tak kala mereka rentang, persendian tulang kikuk dan
    pikiran bercabang tak sesegar seperti usianya yang masih remaja dulu. Di sini,
    kita dituntut untuk membayar jerih payah dari konsekuensi awal kehidupan kita. Tentu
    saja keikhlasan sebagai prioritasnya.
    Kita tentu lebih berharap “lebih mendapatkan banyak hal dari
    setiap apa yang dilakukan.” Hak seperti ini yang meletup melebihi dari sekedar “menggugurkan”
    kewajiban rasanya tak pantas disematkan. Perlu diakui apa adanya, kita merubah
    kewajiban yang terealisasikan lebih banyak dibanding menuntut hak, pada awalnya
    terasa tak adil. Padahal, jika saja setiap kita menyadari, di akhir
    pelaksanakan kewajiban, hak akan datang berlimpah-ruah. Sebut saja mahasiswa,
    kesadaran seperti ini tak mudah didapatkan oleh mereka. Pasalanya, ekonomi
    pas-pasan dengan uang saku juga terbatas mahasiswa tak asing lagi dengan utang,
    pinjam sana-sini.
    Kebiasaan meminjam barang dari orang lain semisal ini banyak
    dilakukan oleh mahasiswa. Dari pinjam uang untuk nge-print, photo copy dan
    semua kebutuhan kuliah, sampai dari hal urgen semisal urusan perut. Kondisi ini
    memprihatinkan, antara desakan kebutuhan dan tuntutan kuliah.  Sebagai teman, bukan berarti ia tak merasa
    risih saat kita sering meminta pertolongan darinya terkait perkara
    pinjam-meminjam; uang, barang dll. Perlu disadari, mereka pada saatnya juga
    akan mencapai kondisi di mana mereka ‘membutuhkan’ sesuatu yang kita pinjam
    dari mereka dan masih belum dikembalikan. Boleh-boleh saja meminjam, namun
    dikembalikan sebelum jatuh tempo. Lebih cepat, lebih baik.
    Anehnya lagi, ada yang dengan mudahnya meminjam sesuatu
    dengan muka masam merebut simpatik kita. Pas kita lagi menghadapi kondisi yang menghimpit, mereka seolah lupa. Ditagih
    rupa-rupanya pura-pura lupa. Ya, ini tentu perlu difahami sebelum kita dengan
    ikhlas meminjamkan sesuatu kepada seseorang. Bukan persoalan pelit, sekedar
    memberi efek jera bagi peminjam. Karena lazimnya seorang ini, diberi kebebasan
    meminjam malah semakin menjadi-jadi. Sekarang
    pinjam ini, eh besok datang meminjam
    yang lain. diberi hati, makan hati.
    Agar hal semacam ini tak menjadi kebiasaan, perlu mengawali
    setiap perubahan dari diri sendiri. Misalnya, jangan menganggap perkara ini
    sebagai sebuah kebiasaan. Mereka yang satu dua kali meminjam mungkin merasa tak
    nyaman hati dalam meminjam, berbeda saat perkara ini dilakukan berkelanjutan.
    Dengan belajar perspektif angka kosong saat ujian, kita
    menjadi sadar. Nilai itu yang terlabel di dalam diri kita menjadi identitas
    diri. Orang kan menganggap kita tak paham, bodoh dan stigma semacam itu. hal
    ini jika diterapkan dalam perkara tadi ini, maka cukup efektif. Sama yang tidak
    malu kalau kita dianggap “tukang” pinjam-pinjam, tidak modal hidup, pinjam
    hidup dari orang lain. tentu hal yang tersemat ini menjadi memalukan,
    lebih-lebih bila melekat kuat dalam diri kita.
    Tak semestinya ini semua dibiasakan oleh mereka yang
    menyadari nilai kemanusiaannya. Lebih-lebih mereka dengan kultur sosial yang
    tinggi menghargai kehidupan sosial. Perkara ini menjadi perkara tabu, karena
    telah dianggap membebankan orang lain. orang lain merasa tak nyaman karena ulah
    perkara tadi. Kebiasaan ini dibentuk dari proses waktu. Dan harus tetap
    berkelanjutan agar menjadi kenyataan di dalam diri sendiri.  Membiasakan yang baik adalah baik, dan jangan
    menganggap baik apa yang sudah terbiasa.

    830 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Pinjam Hidup dengan Berhutang”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *