Pikiran Memang Dahsyat

    Sahabat muda, pernah tidak kamu merasa letih di saat-saat membosankan? Atau juga merasa begitu kuat dan tegar di saat melakukan sesuatu yang menyenangkan? Tentu, sudah pernah kan? Misalnya, saat ada pertandingan sepakbola, semalam apa pun kamu akan setia menontonnya, sekali pun jam menunjukkan 02.00 dini hari. Berbeda di saat kamu mengerjakan pelajaran matematika, karena kebanyakan dari kalian pasti semenit dua menit pikirannya sudah terasa pusing. Dan ini hanya terjadi pada sebagai orang saja.
    Kalau begini caranya, lalu apa yang menjadikan kita letih dan merasa begitu kuat untuk terus bekerja. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu manakah antara pikiran yang mengandung emosi dan tidak. Biasanya, pikiran yang diikuti dengan emosi negatif akan mempengaruhi fisik, dan menjadikan fisik begitu lemah. Sedangkan emosi yang positif yang bersama dengan pikiran yang positif pula akan menjadikan keadaan jasmani kita selalu dalam keadaan prima dalam batasan tertentu. Ya, setidaknya tidak mudah capai, dan tidak mudah letih.
    Nah, jika sudah tahu bahwa letih atau tidak bersumber dari pikiran dan perasaan, maka tugas kita selanjutnya adalah bagaimana kita bisa menguasai dan mengatur keduanya. Jangan berikan sedetik pun waktu mereka untuk menguasai diri kita. Sekali kita mencoba untuk memberi kesempatan, seketika itu pula ia akan terus semakin giat mengadakan penyerangan terhadap diri kita. Ini semua jika pikiran dan perasaan yang bernada negatif. Terhadap keduanya yang bersifat positif sebaiknya dibiarkan begitu saja sehingga ia akan semakin memberdayakan diri kita.
    Pikiran itu diibaratkan seperti tanaman, terus tumbuh dan bertambah berkembang jika dibiarkan. Alih-alih yang bersifat positif, yang negatif sungguh sangat membahayakan. Yang positi akan sangat membantu. Maka, jika kita ingin agar hidup terus memberdayakan biarkanlah pikiran dan perasaan positif bersarang di dalam diri kita. Jangan sekali-kali membuka pintu untuk yang negatif.
    Tahukah kamu, gerak ternyata juga memberikan daya. Sama halnya cahaya yang dapat dialihfungsikan menjadi tenaga listrik. Semakin bergerak ke depan, semangat dan dorongan listrik yang menggerakkan akan bertegangan semakin tinggi. Dan ini tidak hanya terjadi pada hal tersebut, pikiran dan perasaan pun mengadopsi prinsip ini. Oleh karena itulah, semakin membiasakan diri positif thingking dan positif felling, maka akan semakin semangatlah pikiran terhadap perasaan positif tersebut.
    Caranya membiasakan diri terhadap kebiasaan ini adalah dengan tetap fokus, semakin fokus keletihan dan hal yang mengganggu akan lenyap dengan sendirinya. Misalnya, biasanya siswa itu merasa malas untuk mengerjakan PR dan semangat jika disuruh bermain atau tiada kegiatan. Nah, jika saja siswa tersebut mau fokus terhadap PR-nya, pasti mereka akan semakin keasyikan untuk terus menerus mengerjakannya. Lah, kok bisa mas? Ternyata PR yang dikerjakan tak seberat yang mereka kira, yang menjadikan sulit untuk dikerjakan adalah karena pikiran yang negatif dibiarkan begitu saja. Semakin dibiarkan, maka pikiran negatif semisal “aduh, sulit bener nich soalnya, aku kerjakan nanti saja ya..”, maka kesulitan itu akan semakin menjadi oleh sebab pikiran. Apalagi bila pikiran tersebut diikat dengan perasaan. Bisa diprediksi akan menjadi sebuah keyakinan bahwa PR itu memang benar-benar sulit untuk dikerjakan.
    Menjadikan ini sebagai sesuatu yang melekat di dalam diri membutuhkan waktu, tidak bisa secara langsung mengharapkan hasil yang sempurna. Kesemuanya membutuhkan waktu yang sangat lama. Tergantung dari kesungguhan diri dan disiplin diri.

    771 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *