Pikir

    Bisakah kamu menalar kehidupan ini, kapan kamu  terlahirkan, dan kapan kamu dapatkan pekerjaan sampai kapan harus kembali ke alam kubur. Awalnya ada penciptaan tanpa nalar yang tak disadari, namun berbeda saat seseorang sudah hidup di dunia ini. Proses kesadaran diri tak kalah pentingnya dari kehidupan itu sendiri. Dengan cara tak kikir untuk berfikir.  Beberapa dari masalah seringkali terjadi karena tidak berfikir konsisten dengan apa yang sedang dihadapi. Namun, penekan di sini terletak pada berfikir, bukan pada objek yang dipikirkan mau pun pada lainnya.
    Tanpa proses berfikir dan selalu berfikir dalam menjalani hidup ini, seringkali menyebabkan mengapa orang berperilaku tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya. Akibatnya, jiwanya akan menderita setelah mengetahui pasca perilaku dilakukan, eh, ternyata hal itu bertentangan dengan apa yang selama dipahami. Itulah yang menyebabkan ketidaknyamana dalam hati. Mengingkari dan melawan pengetahuan yang sudah dipahami dan diyakini.
    Hobi bekejar itu sangat bagus, namun bekerja dengan berfikir itu jauh lebih bagus. Jangan terpengaruh dengan omongan orang lain, “mas bro, jangan banyak berfikir entar kamu cepat botak!”. Dan masih banyak opini-opini orang lain yang sebenarnya syirik dengan keberadaan dirimu. Lau apa dan bagaimana hal-hal yang terkait dengan pikir?
    Kalau boleh bertanya, jawablah dengan jujur. Seandainya kamu dihadapkan dengan dua pilihan, yang pertama se-plastik daging sapi, dan yang kedua sekarung dengan isi yang sama. Tentu jawabnya adalah sekarung daging sapi, kan bisa dibagi-bagiin ke orang sekitar, disedekahkan atau untuk persediaan. Nah, jika kemudian ditanya kembali, lebih baik memilih yang mana, antara sebulan menghasilkan sejuta atau dua bulan dengan penghasilan dua juta plus bonus dua ratus limah puluh rupiah. Rata-rata, jawabnya adalah yang sebulan saja. Daripada menunggu dua bulan.
    Beginilah realita yang ada, seseorang seringkali mau mengorbankan hal-hal yang lebih besar hanya karena ada hal yang kecil dan instan. Artinya, kepentingan sesaat selalu mengalahkan kepentingan yang lebih besar. Yaitu, kepentingan dengan hasil lebih. Jarang ada mau bersabar untuk mendapatkan yang lebih besar, jika ada yang tak jauh beda di depan mata. Bayangkan, dapat langsung dilahap. Dapat lagi langsung dilahap lagi. Kalau begini caranya, ya sampai kapan tabungan akan penuh?
    Cukuplah, dengan berfikir untuk menikmati yang ada. Tidak terlalu mengharapkan yang didepan mata, namun yang jauh di depan mata selalu membayangi untuk diharapkan. Bercerminlah diri dengan berfikir bahwa semua yang telah kamu dapatkan bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Itu semua bukanlah hal-hal yang sia-sia. Cobalah bayangkan, begitu tertatih-tatihnya perjalanan yang dilalui untuk sampai ke tujuan yang diidamkan. Mencapai  apa yang diinginkan, ada banyak pengorbanan. Namun sayangnya, setelah semua tercapai tak jarang itu semua tak pernah dihargai, seolah-olah ada hal yang lebih baik dan lebih untuk selalu diinginkan.

    Jika watak masing-masing orang adalah selalu ingin, jika diberi ini ingin yang itu, jika yang itu sudah di dapatkan ingin yang satunya lagi. Sampai tak ada batas sampai kapan keinginan tersebut kan berakhir. Oleh karena itu, pikiran jangan terpikat dengan di depan mata, dengan keinginan dan kenikmatan semu, akan lebih menderita saat tidak menemukan kenikmatan yang lebih abadi. Investasikan nikmat sesaat, demi mencapai nikmat yang abadi. Nikmat yang lebih besar. 

    521 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *