Perubahan

    “Suatu benda ‘terus’ berada dalam keadaan diam
    atau bergerak, kecuali apabila mendapatkan pengaruh dari suatu kekuatan yang
    terdapat di luar dirinya. Jika suatu benda dalam keadaan bergerak, maka ia akan
    ‘tetap’ bergerak, kecuali jika ada sesuatu—suatu kekuatan—yang mengubah gerakan
    tersebut. Gerakan merupakan akibat suatu kekuatan yang mempengaruhi massa.”
    Newton (Hukum Gerakan)
    Perubahan
    muthlak diperlukan, bila keadaan dirasa kurang aman dan nyaman dijalankan.
    Katakan mengapa Anda mencari makan? Ya, karena perasaan tak nyaman ketika lapar
    telah melampaui ambang batasnya. Sebabnya, bila dibiarkan akan merusak
    kehidupan—menyebabkan kematian. Di sini kemudian, perubahan berdiri menjadi
    penyeimbang agar semuanya berjalan pada roda yang normal. Tanpa perubahan,
    akibatnya seperti ini.
    Lain
    halnya dengan kebingungan. Dalam hal ini, terlalu banyak perubahan keinginan
    dari yang satu ke lain hal. Pandangan semacam ini sama juga tak berarti
    apa-apa. Harapannya, perubahan tetap berlanjut selagi ia dibutuhkan untuk
    penyesuaian di dalam pribadi masing-masing. Ya, untuk mendapatkan ketentraman
    sebagai dijelaskan di atas. Bila sudah merasa nyaman dengan satu perubahan,
    apalah arti perubahan selanjutnya?
    Banyak
    yang ingin berubah, perjuangan digalakkan. Sebut saja keinginan memiliki sebuah
    mobil, yaitu perubahan hidup dari tidak memiliki mobil di masa sekarang,
    menjadi memiliki dalam waktu yang akan datang. Usaha diteruskan, diarahkan
    kepada “perubahan”—yaitu kepemilikan. Maka biasanya, usaha yang begini terkesan
    terlalu memaksakan kehendak. Pendadakan seperti ini tidak sreg dan
    mengakibatkan sregep dalam usaha memperolehnya.
    Pasalnya,
    keinginan yang tak sesuai harapan menimbulkan masalah. Seseorang yang kurang
    tepat dalam menyikapinya akan merasakan kekosongan. Ini yang kemudian memberi
    pemahaman, asal muasal rasa frustasi bercokol di dalam dirinya. Ketidaksiapan
    mental dalam menerima kenyataan yang jauh dari harapan. Kekagetan ini sebagai
    dampak dari “pemaksaan”.
    Ada
    cara lain yang lebih arif, dalam rangka mewujudkan perubahan.  Sebelumnya, marilah kita pahami bahwa
    perubahan itu nyatanya sebagai “proses”. Artinya, ia bukanlah hasil, namun
    proses dari suatu usaha. Misalnya 1+3=4, maka perubahan bukanlah pada “posisi”
    angka 4. Akan tetapi, ia adalah “proses peralihan” dari angka 1 dan angka 3 menjadi
    angka 4. Maka sebenarnya, pernyataan “gerakan perubahan” rasanya kurang nyaman
    didengar. Ya, perubahan itu sendiri ya gerakan. Kecuali mungkin ada maksud
    “penekanan”. Ini sah-sah saja.
    Heraclitus
    (535-475 SM) mengatakan “Segala sesuatu mengalir, dan karena itu bahkan tidak
    dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang ‘sama’”. Pernyataan ini
    mengisyaratkan perubahan adalah proses, proses adalah yang dikatakan mengalir.
    Maka, perubahan sejatinya mengalir. Bila perubahan dari kondisi A ke kondisi B
    kemudian berputar menjadi kondisi A, sebenarnya dalam perspektif Heraclitus
    bukanlah dinamakan perubahan. Artinya, “semangat kebaruan” bisa menjadi
    indikator dari perubahan sekaligus faktor mengapa perubahan “terus” mengalir.
    Sebelum
    menjawab bagaimana perubahan itu, maka perlu disepakati bersama. Bahwa, unsur
    perubahan terdiri atas: “mengalir” (proses), kebaruan (tidak jatuh ke dalam
    lubang yang sama), dan adanya hasil yang nyata sebagai “bunga-bungan”
    perubahan. Maka kemudian, janji bagaimana perubahan menggunakan paham
    “Determinisme”. Yaitu segala hal yang terjadi “semata-mata” merupakan akibat
    dari suatu sebab dan mau tidak mau tentu terjadi.
    Pernyataan
    Newton di awal tulisan ini berkaitan dengan paham determinisme. Oleh karenanya,
    untuk menyongsong perubahan yang dikehendaki janganlah “mengarahkan” segenap
    usaha padanya. Namun, kepada apa yang menyebabkan mengapa perubahan ada.
    Sebab-sebab ini beranek bentuk dan rupa. Tidak seolah hanya penyebab material.
    Semisal adanya anak karena adanya orang tua. Adanya api karena adanya sesuatu
    yang dibakar. Maka ditegaskan, hukum kausalitas tak sesempit itu.
    Ada
    dua hal menarik dari pembagian “causa” Aristoteles. Mengatakan ada empat macam,
    di sini dihadirkan hanya dua maca saja. Dengan anggapan, ini yang menjadi titik
    awal perubahan. Yaitu; pertama,  causa
    efficiens.
    Dalam hal ini, “gerakan pertama, langkah pertama, dan memulainya
    untuk yang pertama kali” sudah dapat dikatakan sebagai sebab yang semata-mata
    mengarah kepada akibat. Maka, jangan memulainya bila tidak ingin berhenti,
    jangan mencoba agar tidak kecanduan. Sekali mencoba, langkah tak akan surut
    terus berlanjut. Jadi, perubahan bukan usahanya semata, “berani memulai” adalah
    penyebab urgen yang mengarah kepada perubahan. Kedua,  causa finalis. Seketika Anda memiliki
    tujuan, di situlah mengapa perubahan ada. Tujuan di sini sudah bisa dikatakan
    sebab. Tujuanlah yang menggerakkan causa efficiens dan perubahan. 
    Kesimpulannya,
    perubahan itu dibutuhkan selama kita tak nyaman. Mewujudkannya tidak serta
    merta langsung mengusahakannya. Namun, mengarahkan upaya kepada proses yang
    membawa kepada bunga-bunga perubahan. Termasuk juga, tujuan dan gerakan “berani
    memulai” adalah sebab mengapa proses tersebut dapat direalisasikan. 

    866 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    4 tanggapan untuk “Perubahan”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *