Perjalanan Pulang Lalu Berarti Membawa Kemenangan

    Safir tajid ‘iwadhan anman
    tuqariquhu, fanshab fainna ladzizal ‘aisyi finnashabi.
    Artinya, merantaulah kamu, maka kan
    dapatkan pengganti dari apa yang telah kau tinggalkan. Dan berjerih payahlah,
    karena kenikmatan hidup terletak pada kesusahpayahan. (al-imam Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i)
    Tidak ada maksud untuk meninggikan
    suatu kebudayaan yang satu di atas kebudayaan yang lain. misalnya sebut saja
    Suku Batak, mereka sangat suka merantau ke tanah orang. Tak jauh berbeda dengan
    Suku Madura, yang katanya merupakan suku yang jalinan persatuannya kuat.
    Sehingga tak salah bila ada yang berkomentar, “orang madura itu ada di mana-mana, hidupnya senang
    berkelompok-kelompok”.
    Dari sini sudah jelas, di beberapa kebudayaan yang
    ada di Indonesia, merantau menjadi nilai buday yang tak terpisahkan dari
    kehidupan masyarakatnya.
    Saat kecil, penulis hidup dalam
    lingkungan pada salah satu budaya di atas. Dimulai dari ayah, merantau ke tanah
    jawa untuk menuntut ilmu saat masih remaja. Begitu pun diriku, ikut pula
    merantau ke tanah jawa selepas dari bangku madrasah
    aliyah
    (setingkat dengan SMA).
    Tujuannya adalah untuk belajar di pesantren daerah jawa timur. Tetanggaku juga
    demikian, mereka yang sudah berumur (dewasa) biasanya mencari pekerjaan atas
    dasar mencari nafkah. Bila kamu berkunjung ke daerahku, beberapa rumah mungkin
    terlihat megah, namun tidak ada penghuninya, atau hanya dihuni oleh orang tua
    yang sudah sepuh. Ini terjadi, karena si anak pergi merantau dan hasil dari apa
    yang diperoleh dibangunkan lah sebuah rumah untuk orang tuanya.
    Pesan dari orang tuaku yang selalu
    mengiang-ngiang di pikiran adalah, “Nak,
    merantaulah dengan sungguh-sungguh, jangan pulang bila kau tak membawa
    kemenangan.”
    Kumaknai kemenangan yang dimaksud, bukan pada kesuksesan
    semata, namun lebih dari itu yaitu keberuntungan yang nyata. Menang dari
    keadaan sebelumnya yang berarti berubah menjadi lebih baik, menang dari
    mengalahkan keinginan semu yang menggagu komitmen dari niat awal merantau, dan
    menang dari semua keinginan untuk pulang sebelum membuahkan hasil. Ya, itulah
    yang selalu aku pegang di tanah perantauan. Merantau dari tanah orang harus
    selalu memberi perubahan dan oleh-oleh demi kemajuan tanah asal. Sehingga,
    untuk ini makna pertama “perjalanan pulang” adalah perjalanan yang membawa
    kemenangan.
    Kemudian, secara lebih kasat mata
    “perjalan pulang” tak bisa dilepas dari “pergi ke”. Membicarakan salah satu
    tanpa yang berlawanan, menurut penulis hanyalah mempersempit sudut pandang dari
    maknanya. “Pergi ke” atau pun perjalanan menuju itu berarti perjalanan perubahan.
    Yaitu, menuju ke suatu kondisi yang lebih nyaman dan lebih baik. Sehingga,
    menuju ke lebih ditekankan “menjadi ke” dalam syarat-syarat mengarahkan.
    H.J. Laswes mengatakan, “Who ge what, when and how.”  Sebenarnya, menisik sedikit dari perkataannya,
    rasanya kurang puas. Seolah dimasukkan ke jetset (kumpulan orang-orang kaya
    yang hidupnya terbiasa dengan kemewah-mewahan). Iya, mendapatkan, bukannya
    memberi sebagaimana orang bijak panutkan. Namun, okelah kita menerima untuk
    kemudian memberi. Tak ada yang salah, jika ada yang mengawali untuk memberi
    terlebih dahulu agar dapat menerima.
    Kemudian, bagaimanakah perjalanan
    idealnya? Bagiku berjalan seperti yang telah dijelaskan. Namun, sebagai bukti
    dari suatu usaha “kemenangan” menjadi kewajiban. Untuk apa capai belajar, bila
    tak dapat menghasilkan ilmu? Untuk apa makan, bila rasa lapar tak dapat juga
    hilang? Ada akibat yang nyata dari suatu sebab. Ini hukum kausalitas yang adil
    dalam dunia. Dunia yang terlepas dari hukum ini akan dianggap aneh, karenanya
    mengapa para penyihir hidupnya tak akan tenang.
    Maka, siapa pun akan dapat melakukan
    perjalanan ‘menjadi’ apa yang diinginkan. Selama ia mau untuk melakukan apa
    yang harus dilakukan. Bukan persoalan yakin atau tidak bisa.saat itu—pulang
    membawa kemenangan—maka saat itu perjalanan (travelling) akan penuh arti dan makna. Ada nilai tersendiri, dan
    ada beberapa kepentingan di balik itu semua.  
    Gunakanlah pikiran, untuk menuntun
    perjalanan agar perjalan pulang nantinya memberikan suatu hal baru. Dan
    pergunakanlah “perasaan”, agar dapat bertahan dalam kondisi apa pun. Keduanya
    sangat dibutuhkan, namun lebih dari itu langkah lah yang sangat menentukan.
    Oleh karenya, pikiran dan perasaan boleh menuntun, namun ketergantungan akan
    keduanya akan sangat membahayakan. Bagaimana mungkin akan kuat melangkah, bila
    pikiran lagi kacau. Justru ia akan menjadi tenang saat langkah sudah
    dihentakkan ke depan.
    Tak hanya itu, penulis memaknai
    perjalan pulang bukanlah perjalanan memulai sesuatunya dari titik nol, atau
    dari awal kembali. Perjalanan pulang berarti telah melepaskan segenap usaha di
    titik tujuan, kemudian pulang kembali membawa kepuasan, kebahagiaan dan
    ketentraman.
    Namun, tak selalu memang demikian,
    bila setiap usaha tanpa kegagalan apalah arti sebuah pembelajaran. Bila setiap
    kepergian tak juga membawa kegagalan, sulit rasanya menemukan perkembangan
    manusia yang cukup signitifikan. Itulah mungkin yang dimaksud dengan pergi
    pulang berarti menyusun rencana dari awal, memantapkan niat dan memulai langkah
    dengan yang lebih baik. Ada semacam perbaikan dari langkah yang sudah
    dijalankan sebelumnya.  
    Dari ini semua dapat disimpulkan
    bahwa makna dari perjalan pulang berarti pulang dengan membawa kemenangan. Kemenangan
    atas dirinya, dari keinginan semu yang menjauhkan dari tujuan, dan kemenangan
    atas keinginan untuk selalu nyaman dalam keterpurukan. Kemudian, berarti
    perjalanan menjadi apa sebagai hasil dari kepergian. Atau bahkan sebagai
    perjalanan memulai segalanya dari awal yang berarti kebangkitan dari apa yang
    sebelumnya dianggap sebagai keterpurukan dan jauh dari harapan.
    802 word.

    1,415 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    14 tanggapan untuk “Perjalanan Pulang Lalu Berarti Membawa Kemenangan”

    1. Lagi ikutan kompetisi ya kak?

      Aku kurang ngerti kata per katanya sih sebenernya, mungkin karena agak susah mencernanya kali ya haha. Tapi intinya aku paham kok. Intinya pulang jangan dengan "tangan kosong". Iya kan? *semoga iya*

      Aku juga lagi merantau di kota orang. Dan tiap mau pulang, aku selalu ngomong dalam hati, "Mah, Pak, buat sekarang cuma bisa bawa pulang ilmu. Tapi nanti mudah-mudahan nggak sekedar ilmu." biar memotivasi untuk terus belajar di kota rantau 😀

    2. akh aku baru paham ini cerita setelah meresapi endingnya 🙂
      iyaa bener gak, mau pergi dan pulang yg disuguhkan harusnya sebuah kemenangan
      apalah artinya kita pulang kalo tidak membawa sesuatu yg bermakna

    3. merantau ya? saya juga perantauan loh kak, hobi malah, suka ga betah kalau harus berlama-lama di satu kota. tapi jelas memang setiap pulang harus membawa kemenangan, entah kemenangan dalam bentuk wisuda atau pengalaman yang bermakna. Sukses kkak GAnya

    4. koreksi di kalimat terakhir di paragraf kedua. "menjadi nilai buday yang tak terpisahkan"
      kurang huruf "a".
      hehe.

      yup betul.
      merantaulah cari pengalaman.
      pulang harus membawa 'kemenangan' atau 'prestasi'
      🙂

      ikutan kontes bertema "pulang" yak.
      aku gak sempat ikutan…lg mentok ide sich.
      gudlak agha!

    5. Kata-katanya agak berat untuk seorang Cecil. Cungguh deh. Bikin pucing kepala belbi ><

      Tapi ending nya memang jadi bikin ngeh dari paragraf-paragraf yang berhasil lewat dari mata ke otak eh gak nyampe, jadi belok lagi ke telinga –"

      Pergi-pulang.
      Jadi dimaknai dengan kemenangan dengan beberapa kegagalan di belakang nya ya bang?

      Ya gitu dah.
      Otak ku cetek banget, gak ngerti gini. Ngeh nya dkit doang masa :/

    6. Kesimpulan yang tepat kak Mei…
      Semoga bermanfaat,..kalau mampir lagi, jangan lupa beri pertanyaan ya.. biar komentarnya bisa mengalir dengan baik..

    7. Mau buat GA ya? Itu dari pertama memakai kata penulis, selanjutnya kok pakai kata 'aku' ya?
      Kalimat 'namun tak selalu memang demikian' juga agaknya kurang cocok, Ga. Bisa tuh diedit Namun, tak selamanya….

      Oke. Semangat nulis terus ya. Ingat juga EYD nya, coba cek lagi, ada beberapa kata yang kurang tuh ngetiknya^__^

    8. ah keren Gha, yg aku ga ngerti tuh kamu bacanya buku buku kek apa sihhh kok bisa kalimatnyaaa asoyyy gitu mana dari dahlil atau pun quote quote kek gitu..keren dahhh…iya benerrr!! merantaulah dan jangan pulang selain membawa kemenangaaaannnn, hurayyyyy!!! 😀 semoga menang yaaahhh, aku jga sedang merantau, demi hidup yg lebih menantang dan BAIK!!! 😀 good writing, Gha! I love it!

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *