Perasaan Takut; Lawan atau Kawan

    “Setiap orang memiliki rasa takut dalam dirinya sendiri. Semua tergantung pada apa yang mereka lakukan terhadap perasaan tersebut. Itulah yang membedakan antara seorang pahlawan dan pengecut.” –Troy Waters—

    Perasaan takut itu lazim adanya. Dari seorang wartawan  terhadap narasumbernya, lelaki yang takut ditolak cintanya, sampai seorang penumpang takut ditinggal pesawatnya di Bandara. Dari berbagai jenis perasaan takut, hanya ada satu berbanding lima yang benar-benar menyikapinya dengan sangat profesional.
    Bisakah suatu perusahaan kan dapat berkembang, bila para petinggi perusahaan tersebut takut mengambil resiko? Bisakah bapak presiden mensejahterakan rakyatnya bila takut dihardik oleh negara adikuasa? Nah, kalah memang tidak bisa, lalu mengapa masih memojokkan perasaan takut! Sudah waktunya melawan takut, melainkan jadikan takut itu sebagai teman sejati yang setia mendampingi.
    Lihatlah perasaan takut itu sebagai kekuatan alamiah dirimu. Karena bagaimana sikapmu terhadapnya, tergantung dari bagaimana kau memandang perasaan tersebut. Tinggalkan perasaan takut sebagai sesuatu yang membahayakan. Berilah sudut pandang yang baru bahwa rasa takut itu “sesuatu banget”!!!
    Memang benar, implikasi dari rasa tersebut untuk melindungi diri sendiri dari bahaya yang berpeluang datang. Sehingga, ada dua turunan yang diakibatkannya, ambil langkah mundur dan lari sejauh-jauhnya, atau menghadapinya dengan penuh lapang dada. Seorang yang profesional terlatih untuk mengambil kekuatan dari perasaan takut, menggunakannya sebagai aset pelindung daripada sebagai beban mental.
    Rasa takut akan membantu untuk melindungi diri, bagi seseorang yang bertindak dan bersikap tanpa perasaan takut berarti ia sudah menggariskan hidupnya pada bencana. Kemudian, samakah antara tidak takut dengan Keberanian? Apa yang membedakan antara keduanya?
    Orang yang sok pemberani belum tentu lebih tidak berisiko dibanding orang yang memiliki perasaan takut. Dan justru, takut yang melemahkan itulah yang sangat lebih berisiko dibanding orang yang sok pemberani. Karena takut, itu munculnya dari pertimbangan dan memastikan akan dampak yang ditimbulkan bila suatu tindakan dilaksanakan.

    Maka, jangan mudah  terpengaruhi lingkungan yang mengajarkan agar kita  takut terhadap perasaan takut. Dan menganggapnya sebagai rintangan dan momok dari indikator kelemahan seseorang. Maka, sudah sangat jelas sekali perasaan takut itu penting untuk dijadikan kawan dibanding sebagai lawan.

    740 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *