Penyakit Bagi Penulis Pemula

    Penyakit
    Bagi Penulis Pemula
    Oleh:
    Agha Elmakruf (www.makruf.com)
    Some
    people have lots of idea but never write, some people wirete but never finish
    it.
    Menulis,
    begitulah kata orang. Lebih sulit dibanding dengan Pups di “water close”.
    Bahkan, saat Pram disumpahi oleh Idrus. Ia katan, “andaikata kau tak menulis
    pram, kan kubereain kau”.
    Menulis tak lagi menjadi soal kesenangan,
    tapi perjuangan tuntutan hati kemanusiaan
    ,” sebut Pram.
    Abad
    sekarang, dengan kemanjaan teknologi menulis ada, maka lifestyle kepenulis pun
    lahir. Blog dengan kemudahannya, manjakan manusia. Salah kaprah tak luput dari
    pandangan, tulisan tak sehat mondar mandir di mana-mana. Hiraukan kesungguhan
    nilai kemanusia. Pikiran dari tulisan, merusak kehidupan lingkungan. 
    Tak
    perlu risau, bila tulisan tak sebagus para tokoh kesebut ini. ada saatnya, ada
    waktunya di masanya. Kapan tulisan itu kan berguna. Di zamannya, tulisan mereka
    tak terlalu melalang buana, dan terasa di zaman setelah mereka tiada. “Ingin
    hidup seribu tahun lagi,”
    kutipan penyair muda yang mati dalam umur muda.
    Mengapa
    mereka tangguh, zamanlah yang membuat mereka tangguh. “lautan darah, bunyi
    bom di mana-mana, hidup dalam penjara
    ” makanan yang tak lepas dari
    pemikiran mereka. Kita, sebagai anak zaman modern dimanja, tak jarang musuh
    tiada, kecuali dari diri kita masing-masing. Diri kitalah musuh  terbesar dari segala rintangan yang ada. Menulis,
    bukan karyanya yang tak layak diterbitkan, namun apakah kita begitu yakin
    disebut sebagai penulis, buku saja tak pernah dijamah terbengkalai dalam
    almari. Penyakit ini, adalah penyakit yang banyak menggerogoti setiap kita.
    Bila
    nahkoda tak memiliki tujuan hendak kemana kapal diarahkan, kemanakah kira-kira
    kapal berlabu? Kelaziman tujuan bagi suatu langkah yang pasti bak kelaziman dua
    sisi mata uang. Saling melengkapi, tak bisa terpisahkan. Terpisah, berarti
    membuat uang tak bernilai. Perjuangan tak ada gunanya bila tak ada yang diperjuangkan;
    tujuan.  Tujuanmu, tak sekedar pelengkap
    perjuangan bahkan ia adalah kompas dari dari arah hidupmu. Jangan sia-siakan
    tulisanmu dengan sengaja membuatnya mati prematur, sebab kau tak memiliki
    tujuan yang pasti.
    “pekerja
    baru selalu rajin”, dzahirnya penulis tak jauh beda. Semangat awal, sedikit
    datang kritikan, mati suri. Semangat lagi, tulisannya dikibuli senior, mati
    selamanya. Bahkan, trauma mau menulis apa. Memilih melari, mencari sesuatu yang
    lebih berarti. Bila menulis untuk kesenanga, tentu KO lebih berpihak sedari
    awal. Ini bukan kesenangan, tapi tekad untuk memperjuangkan “tujuanmu.”
    Bersemangat terus melangkah, apalah hal yang menyenangkan atau tidak, pujian
    atau cercaan terima saja. Perjalan tak selalu mulus, karena itulah tercapainya
    sesuatu berarti lebih berharga daripada segalanya.  Jadi, revolusi perubahan adalah perubahan yang
    konsisten setiap waktu walau hanya 0,01%.
    Ada
    lagi yang aneh, tak banyak kompromi, tak suka menunda tapi tak mampu
    menyelesaikannya. Manusia jenis ini mengharap sesuatunya sempurna, ketika ada
    sesuatu yang menghambat kesempurnaan itu di tengah perjalanannya, ia patah
    arang, semangat hilang. Memilih menyerah baginya lebih mulia daripada
    meneruskan perjalanan yang cacat. Atau, memilih jalanan yang lebih mulus untuk
    langkah kan sampai tujuan. Menulis mengharapkan sesuatunya sempurna sekaligus,
    mimpi di tengah bolong. Perhatikan kemasyhuran Ainun Nadjib, menyempatkan
    merepitis
    atau
    mereka yang lebih memilih mengeja hal remeh temeh dari kehidupan, memperhatikan
    dan memodifikasinya. Bernilai memang bernilai, dari kesederhanaan ini biasanya
    hal luar biasa bermula. Perhatikan sajak-sajak Joko yang mengeksplorasi tubuh,
    perhatikan susunan material rumah, tersusun dari bata, bata tersusun dari tanah,
    tanah dari sekumpulan bagian kecil. Liba bagian kecil tak tersusun dan
    diremeh-temehkan, tak akan tersusun lah sebuah batu. Batu yang rusak, tak kan
    mampu membangun tembok yang kokoh. Penulis, belajar mencermati hal kecil juga
    perlu, namun jangan sampai mengorbankan hal yang besar.

    Ada
    juga yang lebih memilih menunggu, daripada melangkah kemudian salah. “takut
    salah, alias tidak berani salah.” Menunggu sampai semua sempurna; kalau tak
    berilmu luas, tak mau memulai. Kalau rencana belum sempurna, tak akan mengawali
    langkah. Intinya, orang ini hanya menunggu. Sedihnya, akhirnya mereka menyadari
    bahwa tak ada yang sempurna. Menulis, jangan takut salah, jangan takut takut
    salah menulis. Selama menulis itu selesai, maka tulisan itu bukan tulisan
    cacat.

    Terkadang,
    penghalang dari itu adalah dalih (excusitis). Dalih di mana penghambat
    terberat. “aku kan nggak pintar, aku kan malas baca, aku kan ga sempurna
    dia.”
    dalih ini memperlemah kemauan kita, bukan justru menyemangati.
    Kecenderungan, “rumput tetangga lebih hijau di banding rumput di halaman
    sendiri”. Maka buanglah dalih itu, buanglah sikap suka membandingkan. Lepaskan
    semuanya, penulis hanya perlu “menulis, menulis, menulis, penuturan AS. Laksana
    saat bertemu dengan Pram. Just do it! Malu lah pada  D. Zawawi Imron, hanya sebatas pada sekolah
    setingkat sekolah dasar, putus sekolah namun sajaknya melalang buana.
    Menulis,
    tak sesederhana itu. Keharusan menulis adalah keharusan membaca. Menulis,
    menulis dan menulis dalam pernyatan pram mengisyaratkan “juga” sebuah
    aktivitas, “membaca-membaca dan membaca.” Stephen King meanalogikan
    membaca sebagai air dalam gelas, dan bagiama mungkin bisa menuangkan gelas,
    bila ternyate gelas tak terisi air sedikit pun. Bagaimana mungkin bisa menulis,
    bila buku saja kau tak mampu hadapi dengan “mesra”.
    Wijaya
    kusuma blogger kompasiana menyebutkan, “Rabun membaca lumpuh menulis.”
    Semakin tak menjamah buku, semakin bingung pikiran mau menuliskan sesuatu. Bila
    terpaksa menulis, menulislah kebingungan itu, di akhir perjalan menulis kau
    tersadarkan ternyata membaca itu bukan nasehat penting, tapi kebutuhan
    “muthlak” bagi penulis.
    Dan
    yang lebih parah, tidak ada minat, mood. Istilah kasarnya adalah “tidak ada
    sahwat”
    untuk menulis dan membaca.
    Bahan
    Bacaan:
    Kusumah,
    Wijaya. Menulislah Setiap Hari dan Buktikan apa Yang Terjadi”.  Jakarta: PT INDEKS, 2012.
    Tirmidzi.
    Aku Menulis Maka Aku Kaya. Surabaya: Kitabah Press, 2013.
    Prakuso,
    Bambang. Raih Impianmu dengan Catatan Harian. Yogyakarta: Interprebook,
    2011.
    Martin,
    Anthony Dio. Up Your Success. Depok: Penerbit Raih Asa Sukses, 2010.
    Putra,
    Bramma Aji. Menebus Koran Berani Menulis Artikel.  Yogyakarta: EasyMedia, 2012.
    Leo,
    Sutanto. Kiat Jitu Menulis & Menerbitkan Buku. Jakarta: Penerbit
    Erlangga, 2010. 

    1,205 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Satu tanggapan untuk “Penyakit Bagi Penulis Pemula”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *