Penghayatan

    “…I perceive  that there are two possibilities,  one can do either or that”
    –Søren Aabye Kierkegaard (1813-1855)
    Seorang pemuda terlahir ke dunia ini,
    berkebangsaan Denmark. Kebahagian masa depannya telah tertukar oleh “kutukan
    Tuhan”. Awalnya, keberadaan Tuhan tak banyak membantu, Michel Pedersen
    Kierkegaard mengutuk-Nya. Dalam himpitan kesunyiaan, dan keputusasaan. Tuhan
    telah ia laknat dalam sebuah gurun Jutland.
    Søren terlahir dari ayah yang berdosa;
    dosa mengutuk Tuhan, dan dosa hubungannya dengan istri keduanya sebelum
    pernikahan. Dua dosa ini, secara mendalam mempengaruhi Søren yang sebenarnya
    tak mengerti apa pun. Lagi-lagi, saat kutukan Tuhan memanggil satu persatu
    kelima saudaranya secara cepat.
    Lelaki ini, tak bisa menerima dirinya,
    tak mampu memaafkan dosa-dosa itu. Kenyataan identitasnya telah sirna. Kini, ia
    tak lagi beridentitas. Kemuakan terhadap suana membawa kepada dunia
    pelarian—mabuk. Sampai akhirnya memberikan peluang bangkit kembali dalam
    perenungan panjang.
    Seseorang hadir di dunia, di dalamnya
    kan menghadapi segala carut marutnya. Tidak sekedar dituntut oleh kondisi
    dirinya, tapi justru ditunggu performance
    yang tinggi. Apa yang kita berikan kepada kehidupan, itulah diri
    kita—sebagaimana disebutkan oleh Erich Fromm. Sayangnya, pamrih-pamrih yang
    masih terselubung tetap menempel dalam jiwa seseorang. 

    Maksudnya, dalam pemberian pada
    kehidupan secara umum tak sekedar memberi. Di depan tanpak saja memberi, tapi
    di belakang tangan begitu menggoda untuk menengadah pada balasan. Ya, ini kita
    sebut sebagai memberi tapi pamrih, mengaku ikhlas tapi minta dibalas. Sepintas
    memang tak ada yang salah, ya itu sah-sah saja. Padalah, di sinilah titik awal
    “keterjebakan” pada “kesemuan”. 

     “Hidup
    bukanlah sekedar sesuatu yang mengada seirama apa yang kita pikir tentang hidup
    ini. melainkan sebagai kita hayati. Dalamnya penghayatan kan memberikan
    kedalaman makna hidup.”

    Makna itu yang memberi seseorang rasa
    puas. Bukan pada apa yang diberikan, apa yang dihasilkan dari pemberian, atau
    pun pada proses pemberian itu sendiri. Tapi memahami nilai penting pemberiaan
    dan kebergunaan—makna diperoleh. Makna diperoleh dari penghayatan secara
    mendalam. Pergunakanlah proposisi ini sebagai bekal menghadapi lika-liku
    terjang kehidupan.
    Hayatilah, bahwa setiap masalah tak kan
    hadir ke dunia ini kecuali membawa tujuan, dan solusi. Di setiap pahitnya
    kehidupan kan selalu diikuti oleh manisnya. Diciptakanlah berpasangan, lelaki
    dan perempuan. Tuhanpun tak lupa, menciptakan keterpurukan dengan kebangkitan.
    Kekalutan, dengan kebahagian di kemudian. Kita semua mampu melakukan itu semua,
    jika saja kita mau “menghayati” suratan Tuhan dalam peristiwa. Baik itu sebagai
    pengalaman subjektifitas, maupun objektifitas.

    Percayalah, selama hidup masih
    dikandung badan, selama itu “penghayatan” menjadi penyambung kemanusiaan dengan
    Tuhannya. Jangan berputus asa sebagai kisah di atas, karena keterpurukan tak
    ada niatan menjatuhkanmu. Justru, di situlah keistimewaan diberikan kepadamu
    oleh Tuhan. Sebagai bentuk kasih sayang untuk seseorang agar ia berubah menjadi
    lebih baik.
    MG. Ma`ruf
    Kediri, 22 November 2014

    781 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *