Penceraian

    Saya muak dengan pemberintaan di televisi.
    Mengenai pencaraian, perpisahan dua insan manusia dengan janji sucinya.
    Seolah-olah ada perasaan, mengapa penceraian itu begitu mudah terjadi? Apakah
    mengandalkan kebahagiaan, cinta itu bisa didefinisikan? Bukankah cinta itu
    tidak hanya sekedar “kebahagiaan”, ketidakbahagiaan pun juga termasuk cinta.
    Terlalu sempit memandang cinta selalu bersanding
    dalam kebahagiaan. Ukuran cinta tak bisa diterima dari kebahagiaan. Kalau tidak
    begitu, ya mungkin banyak yang sudah bercerai gara-gara kebahagiaan tak
    didapatkan dalam pernikahan. Sebaliknya saya menjadi begitu yakin, cinta itu
    bukan soal kebahagiaan, tapi soal keikhlasan. Ikhlas dalam arti yang
    seluas-luasnya.
    Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka?
    Apa yang ada di dalam perasaan mereka? Yaitu yang melangsungkan penceraian.
    Lalu apa tujuan mereka? Apakah mencari kebahagiaan? Di mana pun, dalam kondisi
    yang lain kebahagiaan tak mungkin bisa didapatkan tanpa ada ketidakbahagiaan.
    Menghindari ketidaknyamanan, bukan berarti menggiring kepada hal yang tak
    membahagiakan.
    Memang benar, menikah itu sebagai sarana
    kebahagiaan. Sayangnya, perlu disadari dunia ini tidak diciptakan tunggal.
    Semuanya diciptakan berpasanga-pasangan. Semua makhluk hidup diciptakan
    berpasangan, termasuk pada apa yang berhubungan dengan kedua makhluk hidup.
    Konklusi yang bisa saya petik, selama hidup itu ada, dunia ini dengan segala
    isinya selalu diciptakan berpasang-pasangan. Malam berpasangan dengan siang,
    matahari berpasangan dengan bulan. Nah, kebahagiaan berpasangan dengan
    kebalikannya—kesedihan.
    Justru, dengan beratnya cobaan pada kebahagiaan,
    akan menjadikannya semakin lebih mesra. Apa artinya hidup tanpa cobaan? apa
    artinya lautan tanpa ombak yang bergelombang? Dengan apa yang terbalik, dengan
    itu pula semakin mengukuhkan apa yang sedang diuji. Kedewasaan diri didapat
    setelah diuji, sangat tak mungkin suatu yang sacral, istimewa didapatkan begitu
    saja. Hal yang mahal tidak didapatkan tanpa perjuangan dan pengorbanan.

    Sekali lagi, saya heran, sedih dan merintih.
    Mengapa penceraian masih saja terjadi. Mengapa janji suci kepada Allah dalam
    ijab qabul begitu ternodai oleh keegoisan diri, oleh hedonism, oleh nafsu yang
    senantiasa mencari ‘kenyamanan hidup’.
    Memilih bertahan dengan yang tak lagi ada rasa
    bukanlah perkara yang mudah. Atau bertahan dengan sifat pasangan yang jauh dari
    harapan. Di sinilah sebenarnya kedua pasangan sedang diuji, apakah mencintai
    karena kebahagiaan, apakah karena nafsu, apakah karena anak, apakah karena
    selain Allah. Ataukah, semata-mata pernikahan diniatkan beribadah kepada Allah?
    “Yang membuat kita kecewa karena tidak
    mendapatkan sesuatu, karena kita tidak memahami bahwa Allah menaruh hikmah di
    dalamnya”. – Syaikh Ibn Atha`illah aliskandary

    1,245 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    2 tanggapan untuk “Penceraian”

    1. Dalam Islam memang banyak hal yang bisa didiskusikan termasuk dalam ihkwal yang namanya "perceraian". Perceraian adalah sesuatu yang HALAL namun sangat diBENCI oleh Allah SWT

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *