Pembangunan Masjid

Siang itu saya mengajar di salah satu sekolah. Kebetulan, jaraknya tak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Terlihat sebuah masjid sepuluh meter sebelah selatan. Masjid bekas bantuan pemerintahan Soeharto tersebut telah memasuki waktu renovasi. Usianya telah lama, namun sedikit muda. Masih belum genap setengah abad.

Masjid ini membutuhkan dana pembangunan yang tak sedikit. Menurut panitia pembangunan, dibutuhkan sekitar satu setengah miliyar. Sementara, dana masih belum terkumpul. Digelarlah amal di pinggiran jalan protokol antar kecamatan. Bendera buatan yang ditancapkan pada ember-ember beton menjadi pembatas dua arah. Membelah dan terletak di tengah-tengah. “Siapa pun yang melewati jalan tersebut setidaknya memiliki simpati dan empati untuk beramal jariyah”. Di sediakanlah kotak sumbangan (kotak amal dalam peristilahan B. Madura).

Adakah yang mustahil meski pembiyaan belum terpenuhi? Saya kira tak mustahil, akan selalu terbuka harapan bagi yang berusaha. Apalagi, menyangkut pembangunan masjid sebagai sarana ibadah.

Di sela penyaksian terhadap konstruksi bangunan yang tinggi, diri termenung. Belajar mengajar telah usai, saya kembali ke rumah. Sepanjang jalan, pikiran terus mencoba memahami konstruksi pebangunan. Konsep apa gerangan yang bisa dihasilkan dari pembangunan baitullah ini?

Pertama, dari penjaga jalan demi mendapatkan sumbangan warga. Separuh hari beberapa warga setempat saling bergantian menjaga kotak amal. Meminta sumbangan bagi pengendara transportasi yang melewati jalan dekat masjid tersebut. Dalam hal ini, saya menyaksikan bahwa kegigihan membuahkan hasil. Niat membangun masjid—sebagai niat suci—dapat mengalahkan capainya diri. Hanya mereka yang setengah normal yang mengharap tapi tak berusaha.

Kedua, konstruksi yang megah tentu berawal dari pondasi yang kuat. Semakin pondasi suatu bangunan baik, maka semakin kokoh tembok yang akan menjulang tinggi di atasnya. Dalam hidup, pondasi tentu dibutuhkan untuk menopang beban kehidupan di atasnya. Perkuatlah pondasi tersebut dengan ilmu pengetahuan dan ketaqwaan. Maka, hidup kita tak akan kropos diterpa beban masalah.

Ketiga, semakin besar dan megah suatu bangunan, maka semakin dibutuhkan dana, tenaga dan pembiayaannya. Untuk mencapai yang bernilai dalam hidup, sangat tak mungkin didapatkan dalam kedipan mata, apalagi tanpa usaha. Semakin bernilai sesuatunya—yang dikejar, semakin mengharuskan pengorbanan dan perjuangan berat.

Keempat, semakin tinggi suatu bangunan. Maka, tukang bangunan yang berada di punjak atas bangunan semakin beresiko. Yang bernilai dan tinggi selalu menyisakan resiko, itu suatu kelumrahan yang dihadapi para pengejar kemuliaan. Semakin tinggi, kerumitan konstruksi semakin tak biasa, semakin rumit. Semakin individu ingin menjadi bernilai, maka sangat mengharuskan pengambilan resiko. Hadapilah saja, yang mereka yang tak berusaha yang tak mendapatkan apa-apa.

Sumenep, 20.09.2016
Algazel Ma’roef | www.makruf.com

1,985 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *