SAM_0153

Pelatihan Sosiologi & Penelitian Sosial Oleh BEM-I IAIT Tribakti Kediri

    Kesadaran Transformatif
    Lagi-lagi mahasiswa yang selalu disalahkan, dikatakan sebagai makhluk teoritis. Yang tidak bisa bertindak, yang tidak dapat menyesuaikan diri denga lingkungan dengan bukti pengangguran para sarjana. Kata mereka, untuk apa belajar? Untuk apa kuliah? Untuk apa menggeluti teori?

    Kasusnya begini, jika para koruptor bisa dirubah sikapnya hanya dengan penekanan tingkah-laku (ganyang sekuat-kuatnya). Tanpa mengubah insigh diri mereka yang sudah masuk di alam bawah sadarnya. Apakah cukup bisa efektif menghentikan mereka melakukan tindakan korupsi untuk yang selanjutnya?
    Di lain sisi, beberapa perubahan bisa dicapai bukan dengan ancaman, penekanan dan tekanan. Hanya dengan merubah mindsetnya, bagaimana cara pandangnya, maka secara tidak langsung akan mengubah bagaimana sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Selengkapnya, yang menjadi masalah adalah ketika para teoritis hanya berhenti pada teori, tanpa seharusnya berfikir, untuk apa ilmu ini? bagaimana ilmu ini digunakan?
    Berangkat dari kesalahan system belajar mahasiswa yang cenderung menghafal ribuan teori dan kata-kata, tanpa menindaklanjuti dari teori tersebut. Tentu, akan berakibat fatal bagi masa depan bangsa ini. olehnya, di sini akan dipaparkan beberapa kesadaran transformatif.
    Jika ada yang kelihatan lebih cerdas
    sebagai mahasiswa tentu kita tak perlu terlalu mengagungkan mereka, para pemateri yang terlihat sok cerdas, terlanjur menggurui sehingga hanya akan membuat mati kreatifitas diri kita. Seolah-olah dalam pelatihan yang menitik beratkan pada pemikiran kritis, mereka dengan bangganya ingin menunjukkan inilah aku yang lebih pintar darimu, lebih tahu daripada dirimu, dan tentu kamu harus selalu mengiyakan apa yang aku katakana—walaupun secara tidak langsung.
    Mereka tidak lebih dari kita, hanya saja kelihatan cerdas karena keinginan mereka untuk tidak terlihat bodoh. Tidak ada isitilahnya jika guru terlihat bodoh di depan muridnya. Tapi, bagi kita-kita yang notabenenya adalah sebagai murid, tentu tidak boleh sekali mengagung-agungkan pendapatnya. Mereka benar menurut mereka, menurut perspektif padangan mereka sendiri.
    Selain itu, mereka hanya lebih dahulu belajar daripada kita, lebih dulu mendalami materi dan lebih dulu segera mempraktekkannya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kita sama seperti mereka, asal kita mau konsisten untuk lebih belajar, untuk lebih terbiasa dan untuk lebih mempraktekkanya dalam realita kehidupan sehari-hari.
    Masuk ke Intim
    Kapanpun dan di mana pun kita berada, diri kita, pemikiran kita tidak luput dari serangan berbagai wacana, pemikiran dan paradigma yang sudah berkembang sebelumnya. Wacana ini yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan tentunya sangat disayangkan jika terbukti menghancurkan diri kita menjadi bangsa yang terbelakang. Mirisnya, hal itu baru kita sadari bahkan ada yang belum menyadarinya. Dengan isitilah lain, termakan dengan pemikiran orang lain, wacananya yang kita sadari itu benar dan lupa untuk mempreteliwacana tersebut. Bukankah awal segala perubahan itu adalah perubaha wacana. Perubahan insight yang terpatri kuat di dalam benak kita.
    Jadi, kita disodorkan dengan dua pilihan saat suatu masalah datang tiba menghampiri. Pertama, kita pasrah saja tanpa sadar telah mengkonsumsi wacana yang terbalut dengan kepentingan orang-orang tak bertanggungjawab. Kedua, menyadari wacana tersebut, kemudian mengintegrasikan dalam-dalam pada benak masing-masing diri kita.
    Bagaimana kita dapat merubah bangsa, masyarakat kita. Jika kita tidak tahu posisi kita dimana? Letak diri kita di mana? Apa fungsi kita? Untuk itu, wacana yang berkembang, realitas sosial yang tumbuh pesat perlu sekali memperkosanya. Termasuk memperkosa pemikiran yang abstrak non-material, sehingga dari itu nantinya akan mudah mendapatkan “pemetaan”. Baik secara umum, atau pun lebih khusus.
    Kita bedah masalahnya, bedah ilmu kita yang kemudian kita jadikan alat untuk mempersunting masalah oleh pengetahuan diri kita yang berupa grand theory. Pertemuan dua kutub itulah, yang nantinya akan melahirkan kesadaran transformatif.
    Membedah-Tuntas
    Realita dan wacana datang menghampiri, atau kita mencoba dengan sengaja mencari keresahan diri dari berbagai penyebab yang ada.  Kita menyadari hanya jika kita mau mengizinkan diri membedahnya dengan penuh hikmat. Memilih, dan melihat masalah dari kejauhan sambil duduk manis. Atau berusaha sekuat tenaga mendekatinya kemudian ikut menjadi masalah, melihat dari perspektif masalah, bukan out the box.
    Perspektif yang berupa makro (melihat masalah dari luar) dan mikro tersebut (melihat masalah dari sisi masalah) tidak akan terwujud tanpa memiliki theory yang memadai. Teori ada untuk dapat memiliki banyak perspektif terhadap masalah/wacana yang ada. Jika tidak memiliki teori/insigh yang memadahi, maka lupakanlah mimpi kita untuk dapat memiliki multi-pradigma-perspektif terhadap masalah.
    Untuk selanjutnya, dari perspektif itu akan mudah dengan sendirinya tools solutif masalah berdatangan. Cara pandang kitalah yang mempengaruhi cara sikap kita terhadap sesuatunya. Cara pandang dalam isitlahnya adalah perspektif kita. Dari cara pandang yang dibiasakan dan terulang berkali-kali pada akhirnya akan menjadi pola pikir kita. Mempolakan pikiran kita dengan membiasakan cara pandang kita pada satu hal, maka secara langsung juga ikut mempolakan tingkah-sikap kita.
    Jadi, dalam teori yang disebutkan, kita dituntut untuk memiliki kemampuan mengintegritaskan pengetahuan dan mengakomodasikan menjadi kesadaran-kesadaran transformative. Teori ada untuk dijadikan alat dan digunakan membaca masalah, menganalisa masalah. Bukan untuk dijadikan sebagai wiridan. Kalau tidak, maka kita sudah mengamini pendapat orang awan, “untuk apa belajar, jika ia tidak mengubah kehidupan kita?” tentutanya teori yang siap pakai saat ada masalah. Dan itu bisa tercapai jika teori sudah memasuki dan terintegritas dalam benak kita masing-masing. Solusi pragmatisnya adalah mempraktekkan segera ilmu yang didapatkan untuk membaca apa pun. Jadikan ia sebagai alat, bukan yang memperalat diri kita.
    Jangan sampai pola pikir kita termasuk dari pola pikir yang terbelakanga, kesadaran yang primitf. Kesadaran yang seharusnya sudah lama disadari, ternyata baru disadari. Kesadaran kita yang sudah usang, sungguh sangat disesalkan. Indikasinya adalah sikap solutif kita pun termasuk dari abad 19, sudah usang pula. Sungguh menyedihkan jika dibanding dengan masyarakat modern.
    Membangun Wacana dan Mengintegritaskan kepada orang lain
    Setelah kita mampu memiliki kesaran transformative, kepekaan akibat integritas yang tinggi, maka selaku agen of change kita dituntut untuk mentransformasikan kepada orang lain, jika kita memang benar-benar mengadakan perubahan pada dunia kita.
    Konsistenlah dalam satu teori tanpa menafikan teori yang lain. Karena, masalah yang sedang kita hadapi tidak lebih kompleks dari masalah yang sudah berumur tua. Abad 19. Tidak jauh berbeda. Tinggal bagaimana kita menggunakan tools yang dihasilkan tadi untuk keperluan ini. sekali lagi, tools yang didapatkan dari berbagai macam sudut pandang.
    Sang Waktu
    “semuanya hanyalah persoalan waktu.”
    Banyak dari kamu-kamu yang sangat menginginkan sesuatunya dalam waktu cepat. Terbukti dengan banyaknya hadiah undian yang lebih menarik daripada buka usaha untuk hal yang berdurasi lebih lama. Suatu saat, kamu ingin ini, dan keinginan itu begitu terobsesi dan harus tercapai. Dan kamu pun sangat terpukul jika tidak mendapatkannya. Entahlah, kenyataan sebaliknya yang terjadi. Akibatnya, kamu justru frustasi menghadapinya.
    Sisi yang lain, ada yang begitu cukup sabar mendapat skill melukis, setiap ada kesempatan ia mencorat-coret kertas dan belajar membuat sketsa, beranjak kemudian ke kanvas. Dan di mana pun ia selalu berusaha untuk memberika waktu kosongnya untuk melukis dan menggambar. Sehingga, walau pun prosesnya lebih lama, hasilnya cukup signifikan dan baik untuk dirasakan. Membuat hati ini bergoyang degup kagum akannya.
    Memang pilihan, antara menjadi nomer wachid, atau contoh yang kedua. Yaitu si penyabar dan terus melatih dirinya memanfaatkan waktu yang ada. Sebenarnya, berbicara masalah kepemilikan akan kemampuan, otoritas dan sebagainya itu merupakan masalah waktu saja.
    Kecantikan juga jangan terlalu dibanggakan, karena ia akan lengkang oleh waktu. Termasuk dirimu, karena kesedihan dan ketidakmampuanmu juga pada akhirnya akan lengkang olehnya. Hanya saja, apakah kamu benar-benar menyadarinya? Menyadari kekuranganmu, kemudian menerimanya serta menyadari waktu yang kamu habiskan.
    Kemanakah harta yang paling mahal itu—waktumu—dihabiskan? Digunakan untuk apa? Apakah untuk jalan-jalan tanpa ada tujuan yang jelas, nonton tv dengan channel yang tidak jelas, atau kah bermain game seharian. Semoga saja, kamu bisa lebih bersikap bijak terhadap penggunaan waktumu. Bisa saja kamu berfikir sambil mengatakan, “ah, sesekali saja ga apa-apa kok”.
    Lah, masalahnya yang datang kemudian adalah justru yang berkali-kali dilakukan berawal dari sesekali saja kok.Seperti kecanduan narkoba, itu jelas karena berani mencoba, sekali mencoba sulit untu melepaskannya. Begitu pun dengan hal-hal yang kamu senangi, bisa saja ia akan merusak dirimu.
    Sekali kamu menikmati dan merasa nyaman dengan hal yang baru, kamu akan terus ingin tahu akannya dan terus mencobanya. Pada akhirnya, kamu tidak menyadari bahwa hal tersebut memanglah tidak baik bagimu, bagi masa depanmu.
    Sudah sepantasnya, sejak hari ini kamu menyadari bahwa waktumu adalah komuditas paling penting yang kamu miliki. Harta yang tidak ada duanya di dunia ini. dengan waktu, kamu akan mendapatkan segala-galanya, dan segala-galanya tidak bisa dipertukarkan dengan waktu. Waktumu adalah kesempatanmu untuk membantumu. Penolong paling baik, atau musuh paling bejat. Itu ada di tanganmu.
    Jadi, gunakanlah waktumu sebaik mungkin. Jangan biarkan waktu kosong sekali pun. Gunakanlah walau pun untuk hal sekecil tak berarti namun bermanfaat. Tonjolkan kekuatan waktu, bukan kekuatan cara efektif dan instans tanpa memperhatikan waktu. Waktumu adalah pedangmu, atau bisa membunuhmu sendiri.
    Jika kamu memprioritaskan waktu, berarti kamu termasuk dari orang-orang calon sukses masa depan. Pasalnya, banyak anak remaja seusiamu sekarang yang tidak menyadari akan adanya waktu yang sangat berpotensi terhadap dirimu. Aturlah waktumu, biasakan untuk mengisi kekosongan dengan apa yang memang diharapkan. Waktu itu jangan dikhianati, sebelum ia mengkhianatimu.
    Bayangkan, andaikan kamu menghafal 5 saja kosa kata bahasa mandarin perharinya, dalam setahun berarti sudah ada 1500-an kosa-kata. Bayangkan, jika sehari saja kamu membaca buku 2 jam, dan kalikan sebanyak 356 hari. Berapa jamkah kamu baca buku dalam setahun? Pernah kamu kan, mendengar ungkapan ini. teruslah belajar, saat orang lain tidur. Teruslah bekerja saat yang lain mencibirmu. So, tidak ada alasan untuk tidak memberikan yang terbaik dari hidupmu. Mulailah sekarang juga. [gm]

    *Pelatihan Sosiologi & Penelitian Sosial Oleh BEM-I IAIT Tribakti Kediri. Dengan tema “Menelaah teori sosiologi guna membongkar kesadaran mahasiswa terhadap sosial”. Cabang MWC NU Banyakan Kab. Kediri. Tertanggal 06 Februari 2013.

    444 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *