Pacaran

    “kesenangan
    dan kenyamanan sesaat tak akan pernah mampu menandingi kesenangan sejati”
    Yang menarik, mereka yang tak mampu
    menikmati kesendiriannya merasakan kesepian sebagai kebutuhan. Dan mereka yang
    berpacaran, merasakan kenyamanan di saat pertama kemudian sedikit berubah di
    pertengahan dan akhirnya merasa pacaran tak menyamankan dirinya.  Mengapa ini semua bisa terjadi, lagi-lagi
    hanya masalah waktu saja. Bagaimana suatu kebutuhan bisa terpenuhi, atau kah
    terlampiaskan terhadap hal lain.
    Di dalam manusia itu, ada suatu motif untuk
    pemenuhan terhadap kebutuhan. Yaitu, kebutuhan akan penerimaan dan kebutuhan
    untuk dicintai dan mencintai. Takdir itu tak bisa dielakkan. Walau pun,
    kebutuhan untuk “dicintai” di dalam diri wanita lebih besar dibanding lelaki.  Dan lelaki, lebih dominan ingin mencintai.
    Untuk memperjelas ini, bisa kamu saksikan di lingkunganmu, di mana wanita
    selalu hidup bersama-sama dengan perempuan lain. lelaki, ia lebih idealis dan
    individualis. Karenanya, sangat mengherankan bila ada sosok lelaki selalu
    berduan dengan sesama jenis. Dan ini tidak untuk wanita.
    Sebenarnya, inti dari tujuan pacaran adalah
    mendapatkan jodoh. Artinya, ada orang yang selalu setia di samping kita baik
    itu saat ia sedang dalam keadaan senang mau pun dalam keadaan susah. Yang
    selalu memberi perhatian dan kasih sayangnya. Karena itu, diperlukan kesabaran
    dalam “menunggu,” bila saja melihat orang yang pacaran, sebenarnya mereka hanya
    tak mampu bersabar dalam penantian. Akibatnya, justru semakin membuat dirinya
    semakin bergantung kepada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
    Pendidikannya terbengkalai, waktunya
    terbuang karenanya. Sedangkan waktu untuk mengasah diri kurang begitu tersedia
    dengan baik. Lihatlah, bagaimana ia memberikan banyak pelajaran dari setiap
    kehidupan yang nyata adanya. Dari segi waktu, sudah jelas waktunya terhilangkan
    akibat memberi perhatian yang lebih kepadanya. Dari segi tenaga, waktunya
    hilang termakan karenanya. Akibatnya, waktu muda untuk mengisi perkembangan
    diri berakibat fatal pada masa depan.
    Banyak yang mengira, pacaran itu semanis
    madu. Bagaimana mungkin bisa menyimpulkan hal tersebut, padahal orang yang
    sudah jelas berada dalam ikatan yang suci saja tak lepas dari masalah, baik
    masalah dari dirinya sendiri maupun bersumber dari orang lain. andaikata setiap
    mereka yang mau merenungi kehidupan diri sendiri, bahwa tak ada sesuatu yang
    seratus persen sesuai dengan kenyataan pandangan kita.
    Kita sering memandang, bahwa bila
    sesuatunya mudah maka ia begitu mudah dalam realita masa depan. Dan apa yang
    dianggap sulit itu terasa sulit pada kenyataannya, bila demikian tak mungkin
    lah bisa dipatenkan atau menyimpulkan dengan sangat dini dari berbagai kejadian
    yang ada.
    Meski begitu, jangalah takut dengan
    pernikahan. Takut tak mampu menafkahi keluarga, membangun keluarga, atau takut
    apa pun. Semua pernikahan adalah takdir, kelaziman yang seharusnya dijalankan.
    Karena itulah, maka wajar masalah yang mungkin datang nantinya tak luputdari
    penyelesaian. Pasti bisa dihadapi.
    Untuk masalah pacaran, sebaiknya
    masing-masing diri kita menghindarinya secepat mungkin. Karena kita tidak tahu,
    apakah ternyata seseorang yang dianggap pacar ternyat bukan jodohnya. Hal ini
    tak hanya menyebabkan kepiluan di hat wanita, namun juga di hati kedua orang
    tuanya. Ingat ya, sudihkah anak perempuanmu kelak bila diperlakukan dengan
    semena-mena oleh lelaki yang tak bertanggungjawab?
    Saya lihat, orang pacaran itu rata-rata
    memiliki banyak waktu luang. Atau sekedar keisengan semata, ingin mendekati
    seseorang namun entah kemudian menjadi cinta oleh sebabnya. Iya, oleh
    “kedekatan,” jangan sekali-kali berani mendekat, bila kemudian menjauh saja
    memberi rasa sakit. Mendekatlah bila ingin mendekat selamanya dalam ikatan yang
    sah.
    Pacaran memang hal sederhana, karena ia
    menyangkut kebutuhan emosional. Tentu, lebih mudah menjawab kebutuhan daripada
    menghalang-halanginya untuk tidak ada dalam kehidupan.
    Membiasakan diri dalam kesendirian yang
    dirasa nikmat, akan lebih baik daripada pacaran. Karena pacaran sangat memberi
    dampak negatif bagi kehidupan nyata. Yaitu, bagi masa depan nantinya, dan masa
    sekarang. Terkurung dalam kesenangan masa sekarang, memberikan halangan untuk
    menikmati kesenangan di masa depan. Karena mustahil sekali, kesenangan
    dijadikan syarat mendapatkan kesenangan.
    ~∞~
    Kediri, 29 Januari 2014.

    700 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

    Similar Category Post

    Diterbitkan oleh

    algazel ma'ruf

    Lelaki muda ini pecinta literasi dan dunia da'wah bil kitabah. Essai, opini, artikel adalah bentuk tulisan pujaannya. Filsafat, psikologi dan tasawuf adalah materi yg menarik hatinya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *